Dikecewakan Indosat Kota Semarang, Ganti Kartu eh Malah Dipaksa Beli Pascabayar

Artikel

Muhammad Rohman

Satu bulan lalu, saya mengunjungi gerai Indosat Salatiga, sekalian mengantar adik yang kuliah di sana. Niat saya adalah mengganti fisik kartu lama yang hilang. Tapi, karena ada suatu kendala teknis, permintaan pergantian kartu yang saya ajukan nggak bisa diproses.

Berhubung nggak bisa di gerai itu, akhirnya saya lanjut perjalanan ke Semarang sekalian pulang ke kos-kosan mengambil baju kotor yang saya tinggal sejak awal pandemi.

Gerai Indosat di Semarang buka setiap hari sampai pukul 20.00. Gerainya besar dan nyaman, lokasinya di pusat kota jadi sangat mudah diakses. Sekitar lokasi juga terdapat tempat ramai dan layak dikunjungi: Alun-alun Simpang Lima, Gramedia, Tugu Muda, Lawang Sewu, Kearsipan dan Perpustakaan Kota, museum, masjid, kantor polisi, dan lain sebagainya.

Untuk mengganti kartu, saya hanya diminta membawa kartu identitas diri dan uang administrasi. Tapi, untuk kartu yang didaftarkan atas nama orang lain atau memang itu kartu mili orang lain, kita diharuskan membawa surat kuasa dan membawa dua kartu identitas: kita sendiri dan kartu identitas pemberi kuasa, tentu juga uang administrasi. Dan, perlu kamu tahu, kalau beberapa gerai memiliki kebijakan sendiri, yang berbeda dengan gerai lainnya.

Gerai Indosat Semarang ini, ternyata punya kebijakan yang berbeda dengan gerai lainnya. Selain harus memenuhi persyaratan administratif yang saya jelaskan tadi, gerai ini juga mengharuskan pelanggan untuk membeli kartu pascabayar.

Saya sempat curiga, apakah Mas CS berniat menipu saya. Karena sebelumnya di Salatiga, nggak ada kebijakan yang seperti itu. Tiba-tiba saja dan yang membikin saya keberatan, harga kartu pascabayarnya sangat mahal.

Saya sempat protes ke Mas CS, dengan membandingkan dengan gerai di Salatiga tadi. Tapi, kata Mas CS-nya, ini memang sudah kebijakan pribadi mereka. Asumsi saya, mungkin karena pandemi, pendapatan mereka seret, jadi harus juga jualan kartu (secara paksa).

Baca Juga:  Indonesia, Sepak Bola, dan Harapan Berlaga di Pentas Piala Dunia

Ya, bagaimana lagi, gedung segede itu dan karyawan banyak. Pasti pengeluarannya besar. Tetap saja kebijakan kayak begini nggak keren sama sekali! Jauh dari bijaksana.
Alhasil, mau nggak mau, saya tetap mengganti kartu. Walaupun harus menghabiskan uang Rp165 ribu, untuk biaya pergantian kartu dan pembelian kartu pascabayar tadi.

Saya sempat bingung, kartu pascabayar kok bayarnya di muka, ya, bukan setelah pemakaian. Mas CS Indosat bilang, kartu ini tinggal pakai tanpa registrasi, dan berlaku selama tiga bulan, dengan kuota 10 GB perbulan. Saya percaya saja.

Seminggu kemudian, saya baru pasang itu kartu. Ketika saya cek kuota, ternyata hanya 5 GB kuota yang masuk. Ah, sial! Saya merasa ditipu oleh Mas CS Indosat. Karena tidak sesuai dengan apa yang disampaikan, saya coba mengonfirmasi ke akun Twitter, @IM3Ooredoo.

Saya tanyakan, mengapa kuota yang masuk hanya 5 GB? Padahal, 5 GB yang hilang itu mau saya gunakan untuk menonton video yang lagi viral, lawakan Bang Anji dan Prof Hadi Pranoto.

Tapi, dan tapi, jawaban @IM3Ooredoo ini sangat mengecewakan. Katanya begini, “Hai kak Rochman, mohon maaf terkait kendalanya ya kak. Yuk kak infokan nomor, nama pemilik dan alamat tagihannya ya untuk kami bantu pengecekan selanjutnya. Salam^Felin.”

Seperti yang saya tuliskan di atas, kata Mas CS Indosat kartu ini hanya tinggal pakai. Segala hal yang berkaitan dengan proses registrasi sudah diurus tuntas.

Jadi, saya mana tahu Ini kartu atas nama siapa dan alamat tagihannya di mana. Saya DM berkali-kali, menyampaikan dan menanyakan detailnya. Tapi, jawaban mereka begitu-begitu saja. Kayak lagi ngobrol sama BOT. Brengsek!

Saran saja, buat kawan-kawan, kalau berada di posisi seperti saya (harus beli kartu pascabayar tadi) mending langsung saja diaktifkan di tempat. Terus cek kuotanya segera. Daripada kayak saya, kepotong 5 GB, jadi nggak bisa nonton kelanjutan drama Anji, kan. Duh, jadi kudet gara-gara Indosat.

Baca Juga:  Mengungsi ke Hotel saat Listrik Padam adalah Kemewahan yang Sulit Kita Lakukan

BACA JUGA Ternyata Ngobrol via WhatsApp Bisa Bikin Urusan Jadi Rumit dan tulisan Muhammad Rohman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.