Diiming-imingi Ikut Kegiatan dengan Fully Funded, tapi Kok Bayar Seratus Ribu?

Penyelenggara akan melakukan seleksi untuk memilih peserta yang berhak fully funded. Entah itu dari hasil tes atau hanya hasil cap-cip-cup dari CV.

Artikel

Avatar

Kegiatan volunteer yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, lingkungan, kemanusiaan, atau kebudayaan bak jamur di musim hujan. Kegiatan ini selalu beriming-iming dengan fully funded yang akan menarik para peserta untuk ikut dan membayangkan bisa jalan-jalan dengan gratis. Namun nyatanya fully funded hanya diberikan untuk lima peserta saja. Nah ini fully funded dari organisasi atau dibayari oleh peserta yang tidak lolos? Kegiatan voluntering semacam ini tenyata menjadi bisnis yang menjanjikan.

Saya sering menjumpai poster-poster di Instagram yang menawarkan pengabdian ke pulau terpencil atau daerah perbatasan Indonesia. Hal ini merupakan salah satu strategi marketing dari penyelenggara/organisasi untuk menarik peserta. Stigma bahwa kegiatan sosial atau pengabdian hingga ke pelosok negeri selalu menarik peserta. Entah itu hanya sekadar untuk pamer atau memang niat tulus untuk melakukan pengabdian.

Selain kegiatan volunteer kegiatan sosial, dunia pendidikan pun kadang tak luput menjadi komoditi bisnis. Dengan menamakan diri sebagai kegiatan “forum kepemudaan” atau “pertukaran pemuda” ke beberapa negara. Yang biasanya diselenggarakan oleh organisasi atau instansi non pemerintahan dengan iming-iming fully funded.

Banyak strategi yang dilakukan oleh organisasi/instansi untuk meraup untung dari kegiatan semacam ini, biasanya mereka melakukan tahapan registrasi awal di mana para peserta diharuskan mengisi biodata, share poster ke semua media sosial yang calon peserta miliki, serta meng-upload twibbon di Instagram dengan caption tertentu. Tahap awal biasanya masih free karena untuk menjaring massa yang lebih banyak dengan model promosi gratis dari calon peserta, efisien, dan sangat cepat.

Setelah tahap awal, para peserta biasanya akan banyak yang lolos dan mengharuskan membayar sebesar seratus ribu dengan dalih sebagai donasi amal atau sebagai persyaratan administrasi. Nah bayangkan sudah berapa banyak uang yang terkumpul jika yang mendaftar lolos semua padahal di sini panitia belom melakukan apa pun. Jika yang mendaftar sekitar 1000 orang, maka uang 100 juta sudah masuk di kantong pihak penyelenggara.

Baca Juga:  Kalimat Andalan Sebelum Curhat: "Jangan Bilang Siapa-Siapa Ya?"

Tahap berikutnya biasanya organisasi/instansi akan melakukan tahap seleksi untuk memilih peserta yang berhak menerima fully funded. Entah itu dari hasil tes yang mereka selenggarakan atau hanya hasil cap-cip-cup dari berkas curriculume vitae yang calon peserta berikan. Biasanya panitia dari organisasi atau instansi hanya memilih lima peserta yang berhak untuk fully funded. Calon peserta sisanya bagaimana? Biasanya mereka akan ditawarkan untuk bebas program dengan seleksi lanjutan dan hanya sepuluh peserta yang lolos.

Nah jika dihitung dengan asumsi yang mendaftar sebesar 1000 orang dan yang dinyatakan lolos untuk fully funded hanya lima, maka untuk biaya akomodasi dan program bekisar 6 juta maka total sudah 30 puluh juta. Dan untuk 10 orang yang lolos biaya program dengan asumsi menghabiskan dana sebesar 3 juta. Maka total dana yang dihabiskan hanya sebesar 60 juta. Dan pihak penyelenggara masih mengantongi keuntungan sebesar empat puluh juta.

Kegiatan semacam ini biasanya dilakukan sebulan sekali atau dua bulan sekali. Nah, sudah terbayang kan omzet yang didapatkan para penggiat kegiatan volunteer semacam ini?

Sebenarnya, kegiatan semacam ini tidak bisa menyalahkan satu pihak dari penyelenggara aja. Toh, para peserta sudah mengetahui syarat dan kententuan yang berlaku. Dan para peserta juga dengan sadar, mereka juga terkadang rela untuk akhirnya self funded dengan dalih untuk menambah pengalaman dan jaringan relasi yang lebih luas.

Kegiatan semacam ini sebenarnya baik untuk mengasah kepekaan secara sosial dan turut membuka wawasan para volunteer terkait kondisi dan keadaan real di masyarakat. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, kegiatan semacam ini jangan hanya dijadikan ajang bagi para peserta untuk jalan-jalan gratis. Lantas, menjadikan kegiatan sosial, pendidikan, kemanusian, atau lingkungan menjadi komoditas bisnis baru.

Baca Juga:  Menjadi Programmer Itu Mudah

Hal terpenting lainnya yaitu mampu memberikan sedikit perubahan di lokasi kegiatan dengan hal-hal positif dan mampu memberikan pengaruh maupun dampak yang baik untuk lokasi kegiatan. Nah, kalau kamu masih tertarik untuk ikutan kegiatan semacam ini, coba di pikir-pikir lagi: berapa besar keuntungan yang bakal kamu dapat dengan besar biaya yang akan kamu keluarkan, sebanding kah?

BACA JUGA Beberapa Kegiatan yang Dapat Dilakukan Saat Cuaca Panas atau tulisan Rohadatul Aisy Luthfiyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
447 kali dilihat

5

Komentar

Comments are closed.