Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

Asrori Satria Aji Pamungkas oleh Asrori Satria Aji Pamungkas
20 Januari 2026
A A
Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman Mojok.co

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman  (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin peribahasa itu cocok untuk menggambarkan orang Sragen. Terlebih bagi para pemudanya. Lahir di Sragen saja sudah sulit, apalagi hidup dan mencari peluang kerja atau berkembang di sana. Makin sulit. 

Saya yakin tiap anak muda Sragen pasti pernah merasakan kondisi seolah-olah berada di persimpangan ini. Bertahan di Bumi Sukowati atau pergi merantau. Apabila tinggal, mereka perlu bersiap menghadapi segala keterbatasan. Sementara, merantau tidak kalah sulit. Apabila sudah pernah mencicipi tanah perantauan, kembali ke Sragen terasa berat. Sementara keluarga, leluhur, dan banyak lain masih berada di daerah ini. 

Bertahan di Sragen perlu punya privilese

Anak muda yang memilih bertahan di Sragen biasanya punya privilese yang besar. Ya apa sih yang diharapkan dari daerah dengan upah kecil dan peluang terbatas. Kalau ingin benar-benar hidup layak, setidaknya anak muda harus jadi ASN atau punya bisnis yang sudah benar-benar besar. Di luar itu, kebanyakan dari kami, memilih narimo ing pandum dan sering-sering menarik napas panjang.

Menjadi ASN pun bukan perkara mudah. Seleksi ketat, kuota terbatas, pengetahuan luas, dan waktu tunggu yang panjang. Belum lagi tidak semua posisi pas dengan profil kita. 

Kadang muncul di benak anak muda Sragen berbagai narasi optimis, “Kalau lapangan kerja sempit ya, coba-coba buka usaha sendiri, ah.” Terdengar heroik, menarik, tapi di Sragen, fakta berbicara lebih rumit. Daya beli masyarakat terbatas, pasar kecil, konsumen loyal, tapi, ya itu-itu saja. Inovasi sering buntu karena modal, peminat, dan sulitnya distribusi.

Mendirikan usaha di Sragen bukan mustahil, tapi juga bukan jaminan berkembang. Tak sedikit usaha hanya cukup untuk hidup, bukan tumbuh. Sebatas untuk bertahan, bukan untuk naik kelas. Ujungnya, pengusaha muda pun sering berada di posisi yang sama getirnya; bekerja keras tanpa prospek eskalasi.

Merantau bukan berarti tidak sayang kampung halaman

Berbagai tantangan hidup di Sragen tadi mendorong anak mudanya untuk merantau. Daerah lain dengan upah tinggi dan peluang berkembang besar pun menjadi sasaran. Semua itu demi masa depan yang lebih baik. 

Jadi, merantau dan “menghilang” dari Sragen bukan berarti anak mudanya benci dengan kampung halaman ya. Mereka hanya ingin mengadu nasib yang lebih baik, nasib yang lebih masuk akal daripada cuma di Sragen-Sragen saja. 

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Realita pahitnya, Sragen ujug-ujug bisa kehilangan generasi terbaiknya. Seperti yang saya bahas di awal, bukan karena mereka tidak cinta daerah, tapi karena di sini belum cukup memberi alasan untuk tinggal. Yang bertahan adalah mereka yang tidak punya pilihan lain atau, mereka yang sudah berdamai dengan hidup yang datar.

Situasi ini menciptakan lingkaran setan. Saat pemuda potensial pergi, inovasi melemah. Ketika inovasi melemah, peluang semakin sempit. Dan, ketika peluang semakin sempit, generasi berikutnya kembali dihadapkan pada pilihan yang sama, yaitu bertahan tanpa berkembang atau, pergi tanpa pulang.

Yang paling menyedihkan, sadar atau tidak, dilema ini dianggap biasa-biasa saja. Seolah sudah takdir bahwa kota-kabupaten seperti Sragen hanya berfungsi sebagai tempat lahir, bukan tempat tumbuh.

Teman-teman muda Sragen bukan kurang kompeten. Mereka hanya hidup di wilayah yang tidak diprioritaskan. Infrastruktur boleh ada, tapi ekosistem sosial-ekonomi tidak benar-benar dibangun. Pendidikan menghasilkan lulusan, tapi pasar kerja lokal tak mampu menampung.

Perlu berbenah demi masa depan daerahnya

Sragen tidak kekurangan pemuda ideal-potensial. Yang kurang adalah keberpihakan struktural, agar mereka bisa berkembang tanpa harus menghilang. Selama UMK tetap rendah, peluang tetap sempit, dan akar usaha sulit naik kelas, dilema ini akan terus diwariskan.

Dan, mungkin, pertanyaan pahit dan paling jujur bukan lagi, mengapa generasi muda di Sragen memilih pergi? Melainkan, apa yang membuat mereka layak untuk pulang? Hmmm ….

Penulis: Asrori Satria Aji Pamungkas
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2026 oleh

Tags: Kampung HalamanmerantauPemudasragen
Asrori Satria Aji Pamungkas

Asrori Satria Aji Pamungkas

Pengajar di Sekolah Riset Mahasiswa LSQ Ar-Rohmah Bantul, DIY. Giat dalam isu-aksi sosial, literasi, dan ekologi.

ArtikelTerkait

7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung

6 November 2025
Surabaya memang Cocok Jadi Kota Tujuan Belajar, tapi Pikir-piki Dulu kalau Mau Kuliah di Surabaya! biaya hidup di surabaya

Biaya Hidup di Surabaya Benar-benar Tinggi, Uang 100 Ribu Seakan Nggak Ada Harganya

12 Agustus 2024
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Kesepian saat ramadan di kampung halaman

Kesepian Saat Ramadan di Kampung Halaman, Kamu Nggak Sendiri!

7 April 2022
Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya dengan Berat Hati Mojok.co

Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati

7 Januari 2026
Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil terminal mojok.co

Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil

16 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri, Siasat Hidup Hemat In This Economy Mojok.co

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

21 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.