Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Di Kampung Saya, Tidak Boleh Ada Film yang Sad Ending

Taufik oleh Taufik
9 November 2020
A A
Di Kampung Saya, Tidak Boleh Ada Film yang Sad Ending terminal mojok.co

Di Kampung Saya, Tidak Boleh Ada Film yang Sad Ending terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pada waktu SD, saya beberapa kali nonton bareng film Titanic. Bukan kebetulan nobar, lebih karena yang punya pemutar VCD saat itu hanya ada satu atau dua orang di kampung. Maka menonton film biasanya menjadi kegiatan kolektif. Diisi oleh kalangan anak-anak, dewasa, sampai orang tua. Tidak heran adegan di mobil dalam kapal antara kedua pemeran utama Titanic masih menempel di kepala sampai saat ini.

Namun, sebanyak saya dan orang-orang di kampung saya menonton film Titanic, sebanyak itu pula kami sambat jika sudah masuk adegan-adegan akhir, terutama ketika kapal sudah mulai karam. Bukan karena orang-orang di kampung saya sangat bisa berkomentar perkara berenang atau tidak. Atau perkara ke arah mana seharusnya kapal itu tenggelam. Lebih kepada ending film yang sangat sad itu.

Bagaimana tidak sad, sudah sejak awal kisah cinta Rose dan Jack yang bak langit dan bumi dalam kasta sosial itu harus pula berakhir dengan salah satu di antara mereka menemui ajal. Ini yang sangat-sangat dasar yang biasanya jadi bahan perbincangan seluruh warga kampung sehabis menonton. Walau hal lain juga memang kadang tidak luput menjadi topik.

Entah siapa yang memulai, atau bagaimana hal ini bisa jadi semacam “aturan” bagi semua orang di kampung, tapi perihal sebuah film yang sad ending seperti tidak boleh ada. Film bagus (bagi warga kampung) adalah film yang diakhiri dengan kebahagiaan atau kemenangan tokoh utama. Para penonton bahkan tidak akan segan mengutuk pemeran film sampai dengan menangis jika sebuah film harus berakhir tidak bahagia. Terlebih jika nasib pemeran utama berakhir tragis.

Terlihat seperti tidak masuk akal dan sangat melankolis. Atau memang orang-orang di kampung saya tidak punya ekspresi lain selain itu? Pasalnya, sepertinya tidak semua. Ada juga kok yang sadis, sampai kirim-kiriman santet. Ada yang sampai dibunuh bahkan mutilasi.

Usut punya usut, di kehidupan nyata orang-orang kampung sangat realistis. Lapar ya bikin makan. Kalau nggak punya duit ya kerja, biar duitnya tumpeh-tumpeh atau bisa juga pinjem tetangga. Kalau ngantuk ya tidur. Sedih ya nangis, nggak apa-apa. Pokoknya yang realistis, lah. Lantaran, mikirnya warga kampung, jika hari ini berakhir, masih ada besok, besoknya, besoknya lagi, dan seterusnya.

Berbeda dengan film yang ketika selesai dan endingnya tidak sesuai keinginan, seluruh warga ngamuk karena mau besok diputarkan lagi film yang sama, endingnya ya akan seperti itu. Beda jika film itu dibuatkan sekuelnya atau menjadi serial. Bisa ada kemungkinan lain, jika tidak sad ending lagi.

Dan ternyata, apa yang dialami oleh hampir semua orang di kampung saya ada penjelasan secara psikologisnya. Dan ini yang menarik. Seorang penulis sekaligus eksper di bidang parenting bernama Jessica Joelle Alexander, dalam Sejutaguru.com, menyatakan bahwa film yang menggerakkan emosi kita tanpa memberikan sebuah penyelesaian, cenderung membuat orang merefleksikan kehidupan dalam hubungannya dengan diri mereka sendiri. Orang-orang seperti melakukan cocokologi atau berandai-andai jika sebuah film terjadi kepada mereka, maka terciptalah sebuah perasaan yang sangat emosional. Hal ini juga bisa jadi menginspirasi warga kampung saya untuk menonton hanya film yang happy ending. Mereka merasa tidak relate atau tidak mau relate dengan ketidakbahagiaan di hari-hari akhir mereka, layaknya yang ditampilkan film.

Baca Juga:

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet 

5 Tayangan Netflix yang Sebaiknya Jangan Ditonton Saat Makan, Bikin Mual!

Warga desa saya merasa bahwa akhir yang menggantung apalagi diselesaikan dengan kondisi sad adalah tamparan keras kepada dunia. Bagi warga kampung, tidak ada yang namanya sad ending di dunia ini. Semua hal akan bertemu kebahagiaan pada akhirnya. Jika tidak di dunia, maka mungkin kematian adalah sebuah kebahagiaan.

Oleh karena itu, penggambaran kesedihan di akhir film adalah sebuah bentuk pengingkaran kehidupan dunia yang sebenarnya. Warga kampung saya punya persepsi yang sangat unik. Setiap pemeran utama dalam semua film adalah orang baik. Dan orang baik tidak seharusnya berakhir dengan sedih, apalagi sampai hal yang sadis.

Atau anggapan lain tentang film yang paling tidak menggambarkan realistisnya orang-orang kampung saya. Jika ternyata hidup mereka di dunia nyata amburadul, tidak boleh dengan film yang mereka saksikan. Bagi mereka, akhir sedih pada sebuah film lebih baik masukkan keranjang sampah saja!

BACA JUGA Merayakan Hadirnya Film Aneh dengan Nonton ‘I’m Thinking of Ending Things’ dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2020 oleh

Tags: Filmsad ending
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

35 Istilah dalam Film yang Sering Muncul dan Perlu Kamu Tahu terminal mojok.co

35 Istilah dalam Film yang Sering Muncul dan Perlu Kamu Tahu

15 Februari 2022
mola tv liga inggris film hbo go mojok

Mola TV Ternyata Bagus dan Layak untuk Dicoba

18 September 2020
resensi review film the lighthouse film horor psikologis sinopsis mojok.co

The Lighthouse: Adu Testosteron hingga Metafora Prometheus-Proteus

30 Agustus 2020
Nonton Film kok di TikTok, Norak! terminal mojok (1)

Nonton Film kok di TikTok? Norak!

29 September 2021
4 Drama Korea dengan Sad Ending Terbaik Terminal Mojok

4 Drama Korea dengan Sad Ending Terbaik

13 Mei 2022
5 Aturan Tidak Tertulis di Bioskop yang Sering Dilanggar Penonton Norak  Mojok.co

Jangan Nonton Bioskop kalau Nggak Paham Aturan Tidak Tertulisnya, Nanti Disebut Penonton Norak 

26 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

21 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.