Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Di Jepang, Naik Sepeda Itu Sebuah Kebutuhan, Bukan buat Gaya-gayaan

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
13 September 2021
A A
Naik Sepeda di Jepang Sebuah Kebutuhan, Bukan buat Gaya-gayaan terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Naik sepeda bagi warga Jepang bukan hal yang bisa dipamerkan apalagi buat gaya-gayaan, melainkan sebuah kebutuhan!

Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, saya sempat syok karena harus jalan kaki berkilo-kilometer menuju kantor wali kota untuk mengurus KITAS dan kartu asuransi, dilanjutkan berbelanja di toko second hand shop yang ternyata jauh. Padahal sehari sebelumnya, saya masih ngeng-ngeng naik motor dengan santai di Indonesia, sehingga mau tak mau acara berjalan kaki itu rasanya sangat menyiksa badan ini.

Akhirnya saya bertekad untuk membeli sepeda di Jepang. Awal naik sepeda pun kaki masih kaku, tapi lama-lama otot betis terbiasa juga buat mengayuh. Berhemat dengan naik sepeda ke mana-mana itu benar-benar pengalaman menyenangkan sekaligus membanggakan.

Sepeda di mana-mana

Salah satu alasan saya akhirnya membeli sepeda di Jepang karena melihat seorang nenek naik sepeda dengan barang belanjaan di depannya. “Wah, gila, nenek-nenek saja kuat naik sepeda,” begitu pikir saya. Waktu di Osaka, saya juga pernah melihat Pak Pos mengantar surat naik sepeda. Pak Polisi Jepang juga ada, lho, yang patroli naik sepeda. Saya juga pernah melihat ibu-ibu yang mengantar anaknya pergi ke TK dengan sepeda. Si ibu membonceng anak TK-nya di belakang, sementara adiknya dibonceng di depan. Satu sepeda tiga orang. 

Saya pernah mengintip harga sepeda di Jepang. Ternyata harganya setara dengan separuh harga satu buah sepeda motor di Indonesia, sekitar Rp 7 jutaan. Aturan di Jepang yang tidak memperbolehkan membonceng anak kecil di sepeda motor mungkin membuat ibu-ibu di sana memilik untuk bersepeda. Lagi pula, aturan bermotor di Jepang beneran ribet banget. Tidak boleh berboncengan (untuk tipe motor tertentu), parkirnya susah, harga bensinnya cukup mahal, hadeh. Makanya sepeda motor tidak populer bagi orang Jepang.

Akhirnya, belum seminggu di Jepang, saya memutuskan untuk membeli sepeda seken. Yah, ketimbang ke mana-mana harus jalan kaki dan demi menghemat ongkos bus atau kereta, mending naik sepeda, kan? Harga sepeda yang saya beli saat itu sekitar 9000 yen, atau sekitar Rp 1,1 juta. Itu sepeda paling murah dengan kayuhan yang tidak enak-enak amat. Setelahnya saya ditawari untuk membuat STNK sepeda. Iya, Surat Tanda Nomor Kendaraan untuk Si Putih, sepeda saya.

Aturan bersepeda

Di Jepang memang ada semacam kewajiban membuat STNK untuk sepeda. Jika sudah terdaftar, sepeda kita resmi memiliki identitas. Seandainya dicuri pun, polisi bisa melacaknya. Harga pendaftaran STNK sepeda sekitar 500 yen. Selesai membeli dan mendapatkan STNK, kewajiban saya selanjutnya adalah mendaftarkan sepeda saya ke asrama kampus agar tak dianggap parkir sembarangan di parkiran asrama.

Setelah semua urusan beres, saya pun ke mana-mana bersepeda. Ke mal di seberang kota yang jarak tempuhnya sekitar 30-40 menit saya lakoni dengan naik sepeda. Lumayan, bisa hemat 400 yen yang bisa dipakai beli Indomie 4 bungkus. Ehehehe.

Baca Juga:

Jalur Luna Maya, Rute Terbaik untuk Bersepeda di Kulon Progo

Culture Shock Mas-mas Jawa yang Kerja di Jepang: Gaji sih Gede, tapi Tekanannya Juga Gede!

Saking ribetnya aturan bersepeda di Jepang, kami—para mahasiswa asing—pernah, lho, mendapatkan penyuluhan soal sepeda dari pihak kepolisian di kampus. Tidak boleh naik sepeda sambil mainan HP, tidak boleh mendengarkan musik lewat earphone, tidak boleh bawa payung saat hujan, tidak boleh berboncengan (kecuali anak kecil), tidak boleh parkir sembarangan, dll. Setelahnya, kami diberi gembok dan stiker lampu yang bisa menyala di malam hari. Lumayan.

Nyolong sepeda di parkiran

Meski gratis, parkir sepeda sembarangan di Jepang cukup riskan. Makanya sangat disarankan memarkir sepeda di parkiran resmi. Biayanya sekitar 100-300 yen (Rp 13-40 ribu) untuk setengah hari. Mahal juga, ya? Biasanya parkiran resmi ada di sekitar stasiun atau terminal.

Ada juga, sih, orang yang parkir sembarang dengan menaruh sepeda di tempat yang tidak ada tulisan parkirnya. Saya pernah melakukannya saat parkir sembarangan di stasiun. Setelahnya saya mendapat kertas peringatan. Ehehehe. 

Selain itu, ada juga kasus pencurian sepeda di Jepang yang sebenarnya sudah sangat biasa terjadi. Meski digembok dan diparkir di parkiran resmi, kadang pemilik parkir tak mau bertanggung jawab. Apes namanya. Biasanya sepeda-sepeda itu dicuri bukan untuk dijual, lho ya. Melainkan “dipinjam” paksa karena tidak minta izin. Kadang orang mabuk yang mencuri sepeda. Kok bisa? 

Budaya minum-minum buat para pekerja kantoran, terutama di akhir pekan (Jumat malam), itu benar-benar menyusahkan. Meski banyak yang akhirnya tumbang dan tergeletak tak berdaya di stasiun, bagi yang masih kuat nyepeda ia akan meraih sepeda sedapatnya. Kalau sudah begini, apeslah sepeda yang diambil sembarangan oleh orang mabuk. Begitu sampai di rumah, bisa jadi ia akan membuang sepeda entah punya siapa yang dinaikinya. 

Kalau orang yang agak bertanggung jawab, tentu akan mengembalikan ke parkiran semula. Kalau yang sudah level nakal, ya akan membuang sepeda itu pinggir sungai atau di taman. Kalau sudah begini, pemilik asli sepeda juga bakal mengalami kesulitan saat menebus sepedanya karena dikira dia sendiri yang menaruh di pinggir sungai. Makanya, begitu kehilangan sepeda, usahakan untuk membuat laporan kehilangan di kepolisian agar kalau terjadi apa-apa atau sepedanya digunakan untuk kriminal, pemilik asli memiliki alibi. Memang ribet, sih, tapi kenyataannya kasus pencurian sepeda di Jepang seperti itu. Ada-ada saja, kan?

Membuang sepeda itu susah

Setelah kurang lebih 3 tahun saya bersepeda ke sana kemari di Jepang, akhirnya tiba saatnya berpisah. Setelah melaporkan ke pihak kampus bahwa saya akan membuang sepeda, alih-alih memberikannya pada orang lain, saya bawa sepeda itu ke kampus. Biasanya, pihak kampus akan secara rutin mendata sepeda yang akan dibuang dan akan diambil oleh pihak terkait. Atau bisa juga, sih, mendaftarkan sendiri ke kantor wali kota untuk membuang sepeda.

Selain opsi dibuang, sebenarnya sepeda bisa juga diberikan ke junior atau teman yang menginginkannya. Ini jauh lebih enak karena sama-sama untung. Tapi, kalau orang yang kita lungsuri itu tidak mendaftarkan sepeda atas nama nama dirinya, bisa jadi pemilik sebelumnya dibawa-bawa kalau sepeda itu bermasalah. Ribet, kan?

Pernah ada kejadian seperti itu. Sepeda yang dilungsurkan secara turun-temurun suatu saat hilang dan ketika dilaporkan hilang ke polisi, ternyata pemilik sepeda itu adalah orang lain yang bahkan pemakai sepedanya sekarang tidak kenal. Polisi malah menaruh curiga, jangan-jangan malah dia yang mencuri sepeda. Padahal pemilik pertamanya yang sudah kembali ke tanah air bertahun-tahun sebelumnya dan mungkin sedang makan bakso dan sudah tak ada hubungan dengan sepeda itu. Angel wes angel pokoknya…

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2021 oleh

Tags: bersepedaBudaya Jepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Bersepeda Itu Olahraga Paling Ribet (Unsplash)

Ada Alasannya Mengapa Bersepeda Itu Menjadi Salah Satu Olahraga Paling Ribet, Kadang Bikin Malas Olahraga

28 Februari 2023
Shuukatsu_ Mempersiapkan Kematian Sendiri ala Orang Jepang terminal mojok

Shuukatsu: Mempersiapkan Kematian Sendiri ala Orang Jepang

9 Oktober 2021
Ribetnya Urusan Mandi di Jepang Terminal Mojok

Ribetnya Urusan Mandi di Jepang

3 Maret 2022
Budaya Malu dan Meminta Maaf Figur Publik di Jepang Terminal Mojok

Budaya Malu dan Meminta Maaf Figur Publik di Jepang

7 Februari 2022
7 Fakta Menarik tentang Harakiri, Ritual Bunuh Diri Samurai Jepang Terminal Mojok

7 Fakta Menarik tentang Harakiri, Ritual Bunuh Diri Samurai Jepang

5 Maret 2022
Tempat Wisata yang Bisa Dikunjungi sambil Gowes di Bekasi terminal mojok

Tempat Wisata yang Bisa Dikunjungi sambil Gowes di Bekasi

7 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok  Mojok.co

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

18 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.