Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Di Gresik, Baju Bandmu Tidak Ada Apa-apanya di Hadapan Sarung BHS, Kalah Telak!

Achmad Wildan Achyar oleh Achmad Wildan Achyar
19 Juli 2025
A A
Di Gresik, Baju Bandmu Tidak Ada Apa-apanya di Hadapan Sarung BHS, Kalah Telak!

Di Gresik, Baju Bandmu Tidak Ada Apa-apanya di Hadapan Sarung BHS, Kalah Telak! (Akun Instagram BHS)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Gresik, raja outfit sebenarnya adalah sarung BHS. Baju band mahalmu itu tidak ada apa-apanya. Outfit skenamu terlihat sepele!

Kamu punya banyak kaos band edisi terbatas? celana gombrong paling skena? atau sneakers keluaran terbaru yang udah “digoreng” sana-sini sampai harganya tak masuk akal, dan merasa bangga atas itu semua?

Jika kamu bangga, tidak ada salahnya. Tapi coba bawalah atribut skenamu itu ke Gresik. Niscaya, kaos limitmu itu, celana skenamu dan Sepatu mahalmu akan runtuh seketika, tidak apa-apanya dibandingkan satu lilitan sarung BHS.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Malang, pemandangan fashion dengan ritme cepat dan penuh semangat, sudah tidak asing lagi menghiasi hari-hari. Setiap sudut kota ini, seakan “panggung” fashion show informal—kaos band indie nan limited, celana gombrong dan sneakers mahal berseliweran tanpa henti. Bukan cuma soal penampilan, tapi juga pernyataan. Karena di Malang, fashion sering kali jadi cara menunjukkan siapa dirimu, dari skena mana kamu berasal, dan seberapa dalam kamu mengenal referensinya.

Tapi, Kota Industri yang letaknya di barat laut Surabaya, menawarkan pemandangan yang berbeda jauh dari Malang, tempat tinggal asliku. Berada di Gresik, hampir tidak ada pemandangan sneakers mahal mencolok mata, tote bag dengan tulisan indie, maupun baju band yang biasa terlihat di kotaku. Tak ada yang terburu-buru menunjukkan gayanya, hanya ada bapak-bapak nongkrong di warung kopi sederhana dengan sarung BHS kebanggannya.

Sederhana, tapi berwibawa

Bagi warga Gresik sarung BHS bukan cuman sekadar kain. Di sini, barang tersebut adalah lambang martabat atau derajat seseorang. Pasalnya, sarung BHS terkenal dengan harganya yang menyentuh jutaan dan kualitas tenunnya yang masih asli dibuat oleh tangan-tangan handal.

Dari sinilah, muncul sebuah pikiran menggelitik, semua pakaian “skena” yang selama ini dibanggakan anak-anak di Malang atau kota besar lainnya akan jatuh pamor seketika dengan sarung BHS, jika berada di Gresik.

Gimana? Sampai sini kamu sudah mulai tidak terima bahwa baju skenamu itu kalah dengan sebuah sarung? Jika iya, tenang saja, aku pun juga tidak terima. Tapi, kamu akan tidak terima lagi dengan statement berikut.

Baca Juga:

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Rasa tidak terima itu pun, membawaku hanyut dan masuk dalam obrolan di warung kopi bersama salah satu pengguna sarung BHS. Ya, kadang kala obrolan warung kopi seperti ini adalah sumber paling jujur dari budaya lokal.

Setelah cukup berbasa basi, akhirnya saya coba menanyakan bagaimana sarung BHS di sini yang menjadi dasar penasaran itu. Mereka bilang, “Mas, di Gresik, Lebaran nggak pakai BHS itu kayak nggak lebaran”.

Bayangkan, sarung BHS di sana, tak hanya jadi pakaian penutup, tapi sebernilai dan sesakral itu. Jika ingin dilebih-lebihkan, di tempat yang tak butuh sorotan, satu lilitan sarung bisa lebih bergema daripada seisi lemari streetwear terkurasi milik anak Malang atau kota besar lainnya.

Bagaimana, semakin tidak terima? Atau justru tertarik bersarung dan menjadi warga Gresik?

Sejarah Panjang Kain Sarung di Gresik

Oke, sebelum kalian tertarik bersarung dan mengamini apa yang ada di Gresik. Saya ingin menjelaskan sedikit tentang bagaimana perjalanan budaya sarungan di wilayah tersebut.

Sepanjang pengetahuan yang saya ketahui, masuknya sarung di Gresik tidak lepas dari roda perdagangan era Kerajaan serta masa Islamisasi. Banyaknya pelabuhan yang berada di sana, disinyalir menjadikan wilayah ini jujugan bagi kapal-kapal pedagang bersandar. Bahkan pada abad 15 M, Pelabuhan Gresik menjadi paling besar serta terbaik di Jawa, karena letaknya yang strategis untuk kapal pedagang Gujarat, Cina, Siam, Bengal, Arab, Persia, dan Portugis bersandar.

Kejayaan Pelabuhan Gresik ini pulalah yang menjadi saksi kedatangan rombongan Islam yakni Maulana Maghfur beserta Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik pada 1371 M. Dari sinilah cikal bakal sarung tenun Gresik lahir. Sifatnya yang dikenal arif nan bijaksana membawa Sunan Gresik tersebut diberi mandat mengurus segala perdagangan di Pelabuhan Gresik. Di sela-sela mengurusipelabuhan, dirinya juga menyebarkan agama islam kepada masyarakat Gresik bahkan hingga mendirikan pesantren sebagai tempat belajar di salah satu desa.

Sebagai petugas pelabuhan tentunya Sunan juga memiliki akses kepada para pedagang. Berbekal kapas dan benang yang dibelinya dari para pedagang, dirinya mulai membuat sarung tenun untuk kebutuhan penutup aurat ketika salat. Dari sinilah masyarakat Gresik mulai mengenal sarung tenun.

Sayangnya, pasca meninggalnya Sang Sunan pada 1419 M, keterkenalan sarung tenun pun ikut menurun bahkan bisa dibilang mulai menghilang dari sebelumnya. Hingga akhirnya pemerintahan Sunan Giri tahun 1487 M mengembalikan kejayaan sarung tenun. Saat itu wilayah Gresik sudah lebih ramai karena banyaknya pesantren yang menarik perhatian pelajar luar untuk belajar Islam di Kerajaan Giri Kedaton.

Lewat para santri itulah sarung-sarung tenun mulai banyak diproduksi dan berkembang dengan beragam motif. Perkembangan ini pula yang menjadikan tak hanya laki-laki yang mengenakan sarung, para perempuan di sana kala itu cenderung menggunakan sarung juga.

Arab-Hadrami melanjutkan tradisi

Pasca masa kerajaan, Pendudukan Belanda di Gresik juga membawa perubahan besar terhadap perkembangan sarung tenun. Saat itu wilayah Gresik sudah didiami banyak etnis, tidak hanya warga aslinya saja. Salah satu etnis yang hidup di sana adalah Arab, mereka mendiami kampung Gapurosukolilo dan Pulopancikan.

Berbekal kemahiran dalam perdagangan, etnis Arab-Hadrami mendirikan perkumpulan pertama tahun 1905 dan disahkan oleh Pemerintah Belanda. Mereka bersepakat melakukan perdagangan dan membangun industri rumahan yang memproduksi peci dan sarung, seperti yang telah dilakukan nenek moyang mereka sebelumnya di Pulopancikan. Meski perputaran industri mereka sempat terhenti karena adanya alih fungsi Pelabuhan oleh Pemerintah Belanda, masyarakat Pulopancikan masih memproduksi sarung untuk konsumsi pribadi. Hal itulah yang menyebabkan sarung tenun tidak hilang begitu saja meski perputaran ekonominya menurun.

Hingga akhirnya pada masa industrialisasi modern pasca kemerdekaan, PT. Behaestex atau BHS berdiri pada Juli 1953 dan melahirkan banyak penenun sarung yang kemudian mendirikan produk sarung mereka sendiri di desa-desa asalnya tahun 1970. Tahun itu pulalah yang menjadi titik balik industri sarung berkembang tanpa henti hingga saat ini di wilayah Gresik.

Sejarah panjang inilah yang akhirnya membuat saya cukup lega. Karena sangat mungkin sekali rasanya kalau Gresik dan Sarung dibilang dua sesuatu yang saling berkaitan sejak zaman dahulu. Dan, itulah kenapa sampai saat ini mereka tidak peduli seberapa mahal baju atau sneakers skenamu itu, tapi lebih memilih bersarung dengan sederhana.

Sumber gambar: Akun Instagram Sarung BHS

Penulis: Achmad Wildan Achyar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Di Gresik, Sarung BHS Seperti Nggak Ada Harganya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2025 oleh

Tags: Gresiksarung bhssarung tenun
Achmad Wildan Achyar

Achmad Wildan Achyar

Besar dan tinggal di Malang, suka jalan-jalan dan mencintai ANNISA.

ArtikelTerkait

Hal yang Perlu Diluruskan tentang GKB Gresik biar Nggak Salah Kaprah

Jangan Pernah Bahas 4 Hal Super Sensitif Ini di Depan Warga Gresik, Jika Kalian Tak Ingin Ribut!

17 Juli 2025
Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

13 Desember 2024
Bandar Grisse, Ikon Baru Gresik yang Menyimpan Keresahan (foto milik penulis)

Bandar Grisse, Ikon Baru Kota Gresik yang Ramainya Mulai Melahirkan Keresahan bagi Warga Sekitar

23 Oktober 2024
Kalianak dan Benowo, Jalur Gresik-Surabaya yang Bahaya dan Kerap Banjir, Pengendara Honda Beat Kudu Hati-hati!

Kalianak dan Benowo, Jalur Gresik-Surabaya yang Bahaya dan Kerap Banjir, Pengendara Honda Beat Kudu Hati-hati!

19 November 2024
Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

Gresik Utara, Tempat Orang-orang Bermental Baja dan Skill Berkendara di Atas Rata-rata, sebab Tiap Hari Harus Lawan Truk Segede Optimus!

30 November 2025
Pantai Delegan, Pantai Pasir Putih di Kabupaten Gresik yang Sering Dikira Punya Lamongan

Pantai Delegan, Pantai Pasir Putih di Kabupaten Gresik yang Sering Dikira Punya Lamongan

14 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa Besar Menganggap Bakso Aci Sebagai Bakso (Unsplash)

Dosa Besar Menganggap Bakso Aci Sebagai Bakso: Sebuah Tutorial Merusak Mood Pecinta Bakso Daging Sapi

10 Mei 2026
Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Derita Orang Bekasi Seperti Saya Hidup di Solo, Dibilang Sok Jawa sampai Susah Nimbrung di Tongkrongan

10 Mei 2026
UT Adalah Teman bagi Orang-orang yang Mengejar Mimpi dalam Sunyi Mojok

UT Adalah Teman bagi Orang-orang yang Mengejar Mimpi dalam Sunyi

9 Mei 2026
Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Menunggu Mati (Pixabay)

Merindukan Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Sepi Menunggu Mati

10 Mei 2026
5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota Mojok.co

5 Kelemahan Punya Rumah Dekat Sawah yang Jarang Disadari Orang Kota

10 Mei 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.