Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan (unsplash.com)

Kalian pernah menemukan area perumahan yang dijadikan pasar kaget? Hal itu terjadi tiap pekan ketika saya masih tinggal di Depok, Jawa Barat. Daerah tempat tinggal saya saat itu memang daerah perkampungan, sehingga saya pikir wajar hal macam ini terjadi. 

Ternyata saya salah besar. Setelah pindah ke Tangerang yang lebih “kota”, fenomena itu masih saja terjadi. Bahkan, tak jarang pasar kaget tersebut menyasar perumahan yang terbilang elit. 

Saya gagal paham. Kenapa sih pasar kaget mengincar kawasan dekat perumahan? 

Setelah saya pikir-pikir, kawasan perumahan memang jadi destinasi favorit warga kampung yang ingin jogging atau sekadar cari sarapan bersama keluarga. Kawasannya yang luas dan tak banyak kendaraan melintas membuat kawasan ini jadi tempat favorit warga kampung di akhir pekan. 

Melihat peluang menggiurkan itu, para pedagang jelas tergiur untuk memanfaatkannya demi cuan. Seketika kawasan perumahan jadi pasar kaget yang menggiurkan. Bagaimana tidak, di sana ada banyak sekali jajanan enak dan murah meriah. Mulai dari telur gulung, kue odading, roti bakar, nasi kuning, siomay, hingga rice bowl semua ada di sana. 

Kerugian yang pasti dirasakan warga perumahan

Sekilas pasar kaget seolah tanpa masalah. Pedagang dapat untung, warga dapat hiburan. Namun, ada satu hal yang jarang dibahas, warga perumahan. 

Saya tidak pernah membayangkan betapa dongkolnya warga perumahan tiap pekan. Mereka harus rela area tempat tinggalnya jadi pusat keramaian. 

Coba bayangkan saja, yang biasanya hari Minggu menjadi waktu paling nyaman untuk bersantai di rumah, tiba-tiba sejak pagi sudah dipenuhi suara pedagang menawarkan dagangannya. 

Belum lagi suara knalpot motor, anak-anak yang berlarian, hingga pengunjung yang mengobrol dengan suara keras. Kalau hanya sesekali mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau terjadi setiap minggu, ya lama-lama pasti bikin tidak nyaman.

Parkir dan sampah jadi persoalan 

Suara berisik hanya satu persoalan. Masih ada urusan parkir yang menurut saya menjadi salah satu masalah terbesar. Karena tidak tersedia lahan parkir khusus, banyak pengunjung yang akhirnya memarkirkan motor bahkan mobil mereka di pinggir jalan perumahan. 

Akibatnya, jalan yang tadinya lebar menjadi menyempit. Bayangkan kalau ada kondisi darurat dan ambulans harus masuk ke kawasan tersebut, tentu akan sangat merepotkan.

Masalah berikutnya yang hampir pasti muncul adalah sampah. Walaupun sebagian pedagang menyediakan tempat sampah kecil di depan lapaknya, tetap saja masih banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan.

Gelas plastik bekas minuman, tusuk sate, bungkus makanan, tisu, hingga kantong plastik sering kali terlihat berserakan di pinggir jalan atau taman perumahan. Memang biasanya setelah pasar selesai ada petugas kebersihan yang membersihkan, tetapi tetap saja warga harus melihat lingkungan tempat tinggalnya berubah menjadi kotor selama beberapa jam.

Yang paling kasihan menurut saya adalah warga yang rumahnya tepat berada di depan lokasi para pedagang berjualan. Bisa dibayangkan bagaimana akses keluar masuk rumah mereka menjadi terganggu. Mau mengeluarkan mobil susah, tamu yang datang juga kebingungan mencari tempat parkir.

Ketenangan yang direnggut

Saya juga sering berpikir, sebenarnya kawasan perumahan dibangun sebagai tempat tinggal yang mengutamakan kenyamanan penghuninya. Ketika setiap akhir pekan berubah menjadi area perdagangan, tentu fungsi utamanya sedikit demi sedikit ikut bergeser.

Di sisi lain, saya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para pedagang. Mereka hanya mencari nafkah dan memanfaatkan keramaian. Terlebih, pasar kaget seperti ini biasanya selalu ramai pembeli sehingga menjadi peluang usaha yang sayang untuk dilewatkan.

Sebagai pembeli pun saya mengakui cukup menikmati keberadaan pasar kaget. Rasanya menyenangkan bisa jalan santai sambil jajan aneka makanan tanpa harus pergi jauh ke pusat kuliner. Harga makanannya juga relatif murah sehingga cocok dijadikan tujuan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.

Hanya saja, menurut saya tetap harus ada aturan yang jelas agar semua pihak sama-sama diuntungkan. Misalnya, menentukan area khusus pedagang agar tidak memenuhi seluruh badan jalan, menyediakan tempat parkir sementara, hingga memastikan jumlah tempat sampah memadai dan langsung dibersihkan setelah pasar selesai.

Kalau memang pasar kaget ini sudah menjadi agenda rutin, pengelola perumahan, pedagang, dan pemerintah setempat seharusnya bisa duduk bersama mencari solusi. Jangan sampai hanya pedagang dan pengunjung yang menikmati manfaatnya, sementara warga yang tinggal di sana justru harus menanggung segala kerepotannya.

Bagaimanapun juga, rumah adalah tempat orang beristirahat. Jangan sampai setiap hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu paling tenang justru berubah menjadi hari yang paling melelahkan bagi penghuni perumahan.

Penulis: Rizka Utami Rahmi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version