Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

Atikah Syahar Banu oleh Atikah Syahar Banu
25 Agustus 2025
A A
Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi minoritas di Indonesia itu tidak enak, baik dalam keyakinan agama, maupun preferensi kuliner. Di tengah mayoritas orang Indonesia yang gemar makan pedas hingga ada level-levelnya seperti kursus bahasa Inggris, saya termasuk sedikit orang yang tidak betah makan pedas.

Sejak kecil, saya memang tidak bisa makan pedas. Bahkan makan sambal Indomie yang bagi banyak orang disebut sebagai sambal cemen, sudah bisa membuat saya tersiksa. Apesnya, toleransi kepedasan saya tak juga meningkat hingga dewasa.

Hal itu membuat ibu saya selalu menyediakan dua versi lauk, yang tidak pedas untuk saya seorang, dan yang pedas untuk anggota keluarga lainnya. Namun privilege seperti itu tentu tak bisa selalu saya dapatkan di luar rumah. Sebagai minoritas dalam urusan persambalan, saya kerap menemui sejumlah tantangan, atau bisa juga disebut dengan penderitaan.

Tanpa cabe sama sekali

Saat memesan makanan seperti rujak atau nasi goreng, pemilihan kata menentukan segalanya. Jika saya hanya mengatakan, “pesan yang nggak pedas,” terkadang penjual akan mengartikannya dengan tidak pedas sesuai standarnya sendiri. Tidak pedas menurut penjual, berarti sangat pedas bagi saya.

Belajar dari kesalahan, maka saya selalu menyatakan pada penjual, “tidak pakai cabe sama sekali.” Dengan mengganti kalimat seperti itu, makanan yang saya pesan pun sesuai dengan yang saya mau. Dari sini saya belajar, bila ingin meminta orang lain melakukan sesuatu, maka komunikasi kita harus lugas, supaya orang lain tidak salah persepsi.

Sedangkan ketika memesan makanan seperti ayam goreng atau rawon, saya wajib mengatakan, “tidak pakai sambal ya,” atau “minta sambalnya dipisah.” Memang sih, tanpa saya berpesan seperti itu, sambalnya hanya diletakkan di pinggir, sehingga bisa dengan mudah disingkirkan. Namun minyak sambalnya akan mengalir ke nasi atau kuah, yang akhirnya membuat keseluruhan makanan menjadi pedas.

Lain lagi kalau bertamu ke rumah orang. Saya hanya bisa berserah diri pada Allah, saat tuan rumah menyuguhkan makanan pedas. Paling saya akan menyelingi makan dengan minum air yang banyak seperti sapi gelonggongan, demi meminimalisir rasa pedas.

Tidak sengaja menggigit cabe

Pernah di suatu waktu, saya menghadiri acara siraman jelang pernikahan. Setelah piring terbang dibagikan, saya mulai makan. Lagi enak-enaknya menyantap hidangan, tiba-tiba mati lampu. Meski ruangan menjadi gelap gulita, tak menyurutkan saya untuk melanjutkan makan.

Baca Juga:

Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

10 Makanan Korea yang Mirip dengan Makanan Indonesia. Ada yang Mirip Bakwan sampai Urap

Apesnya, ada satu cabe yang ternyata nyelip di antara makanan yang saya suapkan ke mulut. Cabe itu tergigit, sehingga rasa pedas segera menusuk dan mendominasi tanpa aba-aba.

Saya segera berpikir cepat. Inginnya sih segera melepeh makanan yang ada di mulut, tapi di kondisi gelap gulita seperti ini, rasanya sulit mencari tissue. Masa saya lepeh di pinggir piring, kan jorok dan tidak anggunly.

Sedangkan kalau saya teruskan mengunyah, cabe akan lumat, sehingga rasa pedasnya pun makin membakar mulut. Akhirnya keputusan saya sudah bulat. Saya menelan cabe itu utuh-utuh supaya tidak kian bertambah pedas.

Tidak bisa makan pedas pun sebenarnya berkah

Menjadi minoritas dalam urusan persambalan memang tidak enak. Meski begitu, ada satu keuntungan tidak bisa makan pedas, yaitu bisa dengan mudah membuat senang teman atau keluarga yang sedang makan bersama saya, terutama ketika sedang makan di luar. Sebab, mereka bisa mendapatkan ekstra sambal tanpa harus membayar lebih.

Sampai saat ini saya masih belum memahami, kok bisa sih orang suka makan pedas. Padahal makan pedas bisa membuat tersiksa, tak jarang sampai berkeringat seperti habis maraton. Kan lebih enak makan tanpa sambal, bisa menikmati tiap suapan dengan tenang, damai sentosa.

Penulis: Atikah Syahar Banu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Obsesi Rasa Pedas dan Menikmati Penderitaan kayak Masokis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2025 oleh

Tags: bumbu cabeCabemakan pedasMakanan Indonesiamakanan pedas
Atikah Syahar Banu

Atikah Syahar Banu

Baker sekaligus guru fotografi yang gemar menulis. Penggemar kecap manis dan anti makanan pedas.

ArtikelTerkait

cabe sambal

Petualangan Pemula dalam Menikmati Sambal

19 Mei 2019
stroke

Stroke: Susahnya Mengatur Pola Makan di Negara Kuliner Terbaik Dunia

27 Agustus 2019
Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis terminal mojok

Mengenal Ragam Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis

24 Juni 2021
7 Makanan Indonesia yang Ternyata Peninggalan Kolonial Belanda

7 Makanan Indonesia yang Ternyata Peninggalan Kolonial Belanda

9 Agustus 2023
Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

31 Oktober 2023
Semoga Tren Makanan Pedas Overrated Segera Berakhir

Semoga Tren Makanan Pedas Overrated Segera Berakhir

28 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

8 Maret 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah

12 Maret 2026
Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan Mojok.co

Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan

7 Maret 2026
Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung Mojok.co

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

10 Maret 2026
Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

9 Maret 2026
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.