Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Derita Menjalani Pembelajaran Jarak Jauh dari Salah Satu Wilayah di Indonesia Timur

Mohammad Qhisyam oleh Mohammad Qhisyam
6 Februari 2021
A A
Derita Menjalani Pembelajaran Jarak Jauh dari Salah Satu Wilayah di Indonesia Timur Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebelum memulai tulisan ini, ada baiknya saya jelaskan latar belakang saya terlebih dahulu. Jadi, saya adalah mahasiswa baru jurusan Sastra Prancis di salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Saya sendiri besar di Jakarta dan baru saja pindah rumah, tepatnya bulan Juli tahun kemarin, ke Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Sebuah kabupaten di tenggara Provinsi Sulawesi Tengah yang terdiri dari beberapa pulau. Lebih jelasnya kalian bisa tengok Google Maps di gawai masing-masing.

Saya memang berasal dari sini, tetapi sejak kecil saya sudah pindah ke Jakarta. Besar di lingkungan kota membuat saya agak kesulitan ketika baru pindah ke sini. Mulai dari kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial, hingga kesulitan memenuhi hasrat membaca buku. FYI, ongkos kirim untuk sebuah buku yang dibeli dari Pulau Jawa berkisar Rp80.000-an.

Kesulitan yang paling berat adalah ketika saya resmi menjadi mahasiswa baru, tetapi harus menjalani sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi Covid-19 yang tidak berkesudahan ini membuat pelajar di Indonesia harus bergumul dengan aplikasi Zoom, Google Meet, dan Google Classroom setiap hari. Dan hal tersebut adalah mimpi buruk bagi saya.

Permasalahan yang saya temui selama menjalani pembelajaran jarak jauh dari sini sebenarnya adalah masalah klasik di Indonesia Timur: listrik dan jaringan internet.

Saya yakin kalian semua setuju kalau kedua unsur ini adalah unsur paling penting dalam menunjang PJJ. Jujur saja, apabila salah satu unsur ini bermasalah ketika saya sedang melakukan pembelajaran online tatap muka, rasa-rasanya saya pengin membenturkan kepala saya ke dinding rumah.

Kalian perlu tahu, di daerah saya yang namanya mati listrik adalah problem harian yang harus dihadapi. Setiap hari bisa satu atau dua kali terjadi mati listrik. Jika saya sedang beruntung, kejadian mati listrik hanya terjadi dua atau tiga hari sekali. Sekalinya mati listrik, perlu menunggu berjam-jam. Bahkan, sesekali bisa seharian atau semalaman listrik baru menyala!

Salah satu mata kuliah yang saya pelajari adalah Kemahiran Berbahasa Prancis. Di mata kuliah ini, saya diminta untuk belajar mengenai bahasa Prancis. Karena saya sebelumnya tidak pernah belajar bahasa Prancis, maka wajib hukumnya untuk terus hadir di setiap sesi tatap muka via Zoom. Apabila tidak hadir, bakal banyak materi yang terlewat. Dan tentu saja, dosen saya yang rata-rata perfeksionis tidak segan tidak meluluskan saya apabila kemampuan saya dianggap kurang.

Kewajiban saya untuk terus hadir di sesi Zoom mungkin tidak akan jadi masalah besar apabila saya tinggal di kota-kota besar di Pulau Jawa yang relatif lebih maju. Di Banggai Laut, listrik dan sinyal internet tidak akan pernah membuat hidup saya tenang.

Baca Juga:

Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

Bioskop di Indonesia Timur Jarang, Wajar kalau Film Kaka Boss Sepi Penonton

Gawai yang mudah drop baterainya, ditambah kewajiban saya untuk menghadiri sesi Zoom yang sangat memakan baterai, mengharuskan saya untuk terus memastikan gawai saya mendapat asupan listrik terus-menerus selama menjalani pembelajaran jarak jauh. Dengan begitu, setiap kali mati listrik, walau setengah jam saja, kening saya bisa pening dibuatnya.

Masalah mengenai listrik mungkin bisa diatasi dengan mengisi powerbank untuk berjaga-jaga apabila terjadi mati listrik. Namun, tempat ini seperti tidak membiarkan saya menjalani pembelajaran online dengan tenang.

Kenapa begitu? Di sini, matinya listrik biasanya diikuti dengan hilangnya sinyal internet. Bayangkan betapa frustasinya saya yang setiap belajar harus dihantui oleh ketakutan padamnya listrik dan hilangnya jaringan internet!

Masalah listrik dan jaringan internet memang sangat mengganggu pembelajaran jarak jauh, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Saya beruntung, di daerah saya ada satu Kantor Telkom, di mana terdapat banyak bangku panjang, meja, dan stopkontak untuk masyarakat umum yang ingin menumpang berinternet ria.

Sayangnya, solusi di atas tidak benar-benar menyelesaikan persoalan yang saya hadapi. Terkadang, walau tidak sesering di rumah, sinyal internet masih bisa hilang. Listrik pun begitu. Di Kantor Telkom memang ada genset untuk membangkitkan listrik apabila mati listrik, tetapi kadang dengan alasan yang saya tidak ketahui, petugas Kantor Telkom tidak menyalakannya. Brengsek memang, nasib perkuliahan saya bergantung pada kemurahan hati petugas Kantor Telkom.

Sebagai mahasiswa, di akhir semester, tentu saya menghadapi UAS. Pada UAS pertama saya di bulan Desember kemarin, di daerah saya sedang ada pembangunan jembatan, yang saya tidak tahu bagaimana caranya, akan berdampak pada hilangnya sinyal internet kira-kira selama tiga hari. Hari di mana sinyal internet akan hilang bertepatan dengan jadwal UAS saya.

Ketika mendengar kabar ini, saya hanya bisa mengelus dada dan berpasrah pada diri pada keadaan. Ibu yang tahu mengenai jadwal UAS saya, mendorong saya untuk memberi kabar mengenai hal ini kepada dosen.

Saya agak ragu bagaimana cara menjelaskan situasi rumit yang saya hadapi. Namun, karena tak ada pilihan, saya pun menghubungi blio melalui WhatsApp untuk menanyakan apakah saya bisa mengikuti ujian susulan apabila isu mengenai hilangnya sinyal internet ini benar-benar terjadi.

Butuh waktu yang agak lama untuk menunggu balasan dari blio. Jantung saya sendiri berdebar-debar menunggu respon dari dosen saya ini. Ketika notifikasi dari beliau muncul di layar ponsel pintar saya, saya memberanikan diri melihat balasannya dan berharap jawaban blio tidak mengecewakan saya.

Jawaban yang saya takutkan tidak terjadi. Justru jawaban yang saya terima adalah: “Ada-ada aja Indonesia Timur hahaha,” diikuti dengan emotikon tertawa sembari keluar air mata.

Menengok jawaban blio yang menertawakan saya membuat saya tenang. Dosen saya yang mengaku ber-KTP Nusa Tenggara Timur bisa memaklumi keadaan. Lantas, saya pun ikut tertawa menertawakan nasib. Gini amat ya rasanya menjalani pembelajaran jarak jauh dari pelosok Indonesia Timur, hadeeeh…

BACA JUGA Sidang Skripsi Online dan Offline Itu Nggak Ada Bedanya, Sama-sama Ribet!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2021 oleh

Tags: Indonesia Timurpembelajaran jarak jauh
Mohammad Qhisyam

Mohammad Qhisyam

Mahasiswa Studi Prancis di Universitas Indonesia.

ArtikelTerkait

rakat NTT indonesia timur terminal mojok

Rakat, Perekat Solidaritas Mahasiswa Perantau dari Indonesia Timur

14 Januari 2021
makan sinonggi

Sinonggi: Makanan Khas Orang Timur yang Kayak Lem

29 Juni 2019
Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal terminal mojok.co

Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal

17 Januari 2021
indonesia timur

Curhatan Seorang Timur yang Menyesal Iri pada Jawa

28 Mei 2019
Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

10 Juli 2025
Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

17 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.