Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

Handri Setiadi oleh Handri Setiadi
21 Maret 2026
A A
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saya punya gambaran kalau menikah dengan sesama orang Bandung, hidup bakal terasa lebih simpel. Bagaimana tidak? Mengurus administrasi jauh lebih mudah, tidak perlu mengurus surat keterangan dan tetek bengeknya jauh-jauh. Kalau istri kangen orang tua, tinggal main ke rumah mertua. Pokoknya bagi saya yang senang hidup nyantai, menikah dengan orang Bandung adalah definisi mempermudah hidup.

Ditambah banyak orang bilang menikah dengan seseorang yang satu domisili itu menyenangkan. Bahkan dulu ada lagu “Pacar Lima Langkah”, yang menggambarkan betapa hidup lebih gampang ketika jarak dekat dengan rumah orang tersayang. Mau main tinggal jalan kaki, mau ketemu tidak perlu menempuh perjalanan jauh.

ADVERTISEMENT

Pokoknya, kata orang, hubungan seperti itu lebih hemat tenaga dan biaya.

Namun setelah menjalani pernikahan selama tujuh tahun dengan sesama orang Bandung, saya justru menemukan beberapa “penderitaan” yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

#1 Tidak pernah merasakan drama mudik

Hampir setiap menjelang Lebaran, teman-teman saya mulai sibuk menyiapkan travel, mencari rental mobil, membeli tiket kereta. Grup WhatsApp mendadak ramai dengan diskusi soal jalur mudik, prediksi kemacetan, sampai strategi berangkat tengah malam supaya tidak terlalu terjebak macet.

Sementara saya hanya bisa membaca percakapan itu sambil diam. Bukan karena tidak ingin ikut mudik, tetapi karena memang tidak ada kampung halaman yang harus didatangi. Saya dan istri sama-sama orang Bandung. Rumah orang tua kami pun masih di kota yang sama.

Akibatnya, setiap Lebaran rutinitas saya hampir selalu sama: salat Id, makan opor di rumah, salaman dan bagi THR ke tetangga, lalu kembali ke rumah sendiri. Tidak ada drama perjalanan jauh, tidak ada cerita macet yang diromantisasi, bahkan tidak ada kesempatan untuk merasakan sensasi pulang kampung yang selalu dibanggakan banyak orang.

Ya begitulah ketika Lebaran hanya menikmati status WA teman-teman yang sedang mudik. Bagaikan makan opor, tapi yang dimakan malah lengkuasnya.

Baca Juga:

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

Alun-Alun Rancasari, Tempat Aneh di Kota Bandung yang Disukai Warlok

BACA JUGA: Bandung Dulu Dikenal Indah, tapi Kini Justru Jadi Bahan Olokan di Media Sosial

#2 Selalu dianggap tidak pernah repot karena menikah dengan orang Bandung

Karena tidak pernah mudik, banyak orang mengira hidup saya jauh lebih santai dibanding mereka yang harus pulang kampung setiap tahun.

“Enak ya kamu, nggak perlu repot mudik,” kata mereka.

Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Ketika orang-orang sibuk bercerita tentang perjalanan pulang kampung mereka, saya justru sering merasa seperti orang yang tidak punya cerita apa-apa saat Lebaran. Biasanya ini terjadi ketika pertama masuk kerja. Setelah rapat persiapan kerja selesai, waktu senggang biasanya dipakai untuk haha-hihi perihal cerita mudik masing-masing.

Lah, saya? Berasa ingin tiba-tiba menghilang dan tenggelam di tengah obrolan mereka.

#3 Diejek mudik beda benua

Selain poin-poin di atas, yang paling menyebalkan adalah saya menjadi korban buli akibat menikah dengan orang Bandung, yang jarak rumah istri saya hanya berbeda beberapa RT saja. Ejekan yang paling sering saya terima biasanya datang dari teman-teman sendiri.

“Si eta mah mudikna paling jauh kade,” orang pertama menyindir kalau saya disuruh hati-hati karena mudiknya paling jauh dalam bahasa Sunda. Klisenya orang kedua menjawab, “Eh, naha? Pan sarua di Bandung.” katanya kenapa, kan sama-sama orang Bandung. “Tong salah, mudikna eta mah beda benua.” katanya sambil tertawa.

Maksudnya karena jaraknya yang terlalu dekat, sering kali jadi bahan ejekan menjadi mudik yang paling jauh, dan otak mereka menafsirkan mudik yang paling jauh tuh yang antar benua. Begitulah kira-kira yang bisa saya tafsirkan. Nggak lucu, kan? Saya juga heran.

Memang sih “penderitaan” ini biasanya hanya terasa setahun sekali, terutama ketika momen Lebaran tiba.

Namun setelah dipikir-pikir lagi, menikah dengan sesama orang Bandung juga punya keuntungan tersendiri kok. Ketika orang-orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman, kota ini justru berubah menjadi jauh lebih tenang. Jalanan lengang, gang-gang jauh lebih tenang, dan Bandung seolah kembali menjadi kota yang damai.

Jadi meskipun saya tidak pernah merasakan drama mudik seperti teman-teman saya, setidaknya saya punya pengalaman Lebaran yang berbeda: menikmati Bandung yang tiba-tiba terasa seperti milik kami sendiri.

Penulis: Handri Setiadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2026 oleh

Tags: Bandungmenikah dengan orang bandungwatak orang bandung
Handri Setiadi

Handri Setiadi

Kadang guru, kadang suka baca buku, anggap saja teman baikmu.

ArtikelTerkait

Cicendo Daerah Paling Superior di Kota Bandung, Fasilitasnya Komplit dan Nyaman Mojok.co

Cicendo Daerah Paling Superior di Kota Bandung, Fasilitasnya Komplit dan Nyaman

18 Maret 2024
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

27 Juni 2026
Jalan Layang MBZ, Mimpi Buruk Pengguna Jalan Tol Jakarta-Jawa Barat

Jalan Layang MBZ, Mimpi Buruk Pengguna Jalan Tol Jakarta-Jawa Barat

18 Juni 2023
Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi Sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

2 Juli 2024
Bandung Kota Romantis di Titik Tertentu Saja, Lainnya ya Suram Mojok.co kota bandung

Kota Bandung Itu Indah Cuma di Konten “Kenapa Bandung?”, Aslinya sih Penuh Masalah dan Nggak Terurus!

21 Maret 2024
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak  Mojok.co

8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak 

28 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot

26 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya Mojok.co

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

30 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.