Dulu saya punya gambaran kalau menikah dengan sesama orang Bandung, hidup bakal terasa lebih simpel. Bagaimana tidak? Mengurus administrasi jauh lebih mudah, tidak perlu mengurus surat keterangan dan tetek bengeknya jauh-jauh. Kalau istri kangen orang tua, tinggal main ke rumah mertua. Pokoknya bagi saya yang senang hidup nyantai, menikah dengan orang Bandung adalah definisi mempermudah hidup.
Ditambah banyak orang bilang menikah dengan seseorang yang satu domisili itu menyenangkan. Bahkan dulu ada lagu “Pacar Lima Langkah”, yang menggambarkan betapa hidup lebih gampang ketika jarak dekat dengan rumah orang tersayang. Mau main tinggal jalan kaki, mau ketemu tidak perlu menempuh perjalanan jauh.
Pokoknya, kata orang, hubungan seperti itu lebih hemat tenaga dan biaya.
Namun setelah menjalani pernikahan selama tujuh tahun dengan sesama orang Bandung, saya justru menemukan beberapa “penderitaan” yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
#1 Tidak pernah merasakan drama mudik
Hampir setiap menjelang Lebaran, teman-teman saya mulai sibuk menyiapkan travel, mencari rental mobil, membeli tiket kereta. Grup WhatsApp mendadak ramai dengan diskusi soal jalur mudik, prediksi kemacetan, sampai strategi berangkat tengah malam supaya tidak terlalu terjebak macet.
Sementara saya hanya bisa membaca percakapan itu sambil diam. Bukan karena tidak ingin ikut mudik, tetapi karena memang tidak ada kampung halaman yang harus didatangi. Saya dan istri sama-sama orang Bandung. Rumah orang tua kami pun masih di kota yang sama.
Akibatnya, setiap Lebaran rutinitas saya hampir selalu sama: salat Id, makan opor di rumah, salaman dan bagi THR ke tetangga, lalu kembali ke rumah sendiri. Tidak ada drama perjalanan jauh, tidak ada cerita macet yang diromantisasi, bahkan tidak ada kesempatan untuk merasakan sensasi pulang kampung yang selalu dibanggakan banyak orang.
Ya begitulah ketika Lebaran hanya menikmati status WA teman-teman yang sedang mudik. Bagaikan makan opor, tapi yang dimakan malah lengkuasnya.
BACA JUGA: Bandung Dulu Dikenal Indah, tapi Kini Justru Jadi Bahan Olokan di Media Sosial
#2 Selalu dianggap tidak pernah repot karena menikah dengan orang Bandung
Karena tidak pernah mudik, banyak orang mengira hidup saya jauh lebih santai dibanding mereka yang harus pulang kampung setiap tahun.
“Enak ya kamu, nggak perlu repot mudik,” kata mereka.
Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Ketika orang-orang sibuk bercerita tentang perjalanan pulang kampung mereka, saya justru sering merasa seperti orang yang tidak punya cerita apa-apa saat Lebaran. Biasanya ini terjadi ketika pertama masuk kerja. Setelah rapat persiapan kerja selesai, waktu senggang biasanya dipakai untuk haha-hihi perihal cerita mudik masing-masing.
Lah, saya? Berasa ingin tiba-tiba menghilang dan tenggelam di tengah obrolan mereka.
#3 Diejek mudik beda benua
Selain poin-poin di atas, yang paling menyebalkan adalah saya menjadi korban buli akibat menikah dengan orang Bandung, yang jarak rumah istri saya hanya berbeda beberapa RT saja. Ejekan yang paling sering saya terima biasanya datang dari teman-teman sendiri.
“Si eta mah mudikna paling jauh kade,” orang pertama menyindir kalau saya disuruh hati-hati karena mudiknya paling jauh dalam bahasa Sunda. Klisenya orang kedua menjawab, “Eh, naha? Pan sarua di Bandung.” katanya kenapa, kan sama-sama orang Bandung. “Tong salah, mudikna eta mah beda benua.” katanya sambil tertawa.
Maksudnya karena jaraknya yang terlalu dekat, sering kali jadi bahan ejekan menjadi mudik yang paling jauh, dan otak mereka menafsirkan mudik yang paling jauh tuh yang antar benua. Begitulah kira-kira yang bisa saya tafsirkan. Nggak lucu, kan? Saya juga heran.
Memang sih “penderitaan” ini biasanya hanya terasa setahun sekali, terutama ketika momen Lebaran tiba.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, menikah dengan sesama orang Bandung juga punya keuntungan tersendiri kok. Ketika orang-orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman, kota ini justru berubah menjadi jauh lebih tenang. Jalanan lengang, gang-gang jauh lebih tenang, dan Bandung seolah kembali menjadi kota yang damai.
Jadi meskipun saya tidak pernah merasakan drama mudik seperti teman-teman saya, setidaknya saya punya pengalaman Lebaran yang berbeda: menikmati Bandung yang tiba-tiba terasa seperti milik kami sendiri.
Penulis: Handri Setiadi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















