Soreang: Nyaman untuk Ditempati, tapi Tidak untuk Mencari Rezeki – Terminal Mojok

Soreang: Nyaman untuk Ditempati, tapi Tidak untuk Mencari Rezeki

Artikel

Avatar

Soreang termasuk salah satu daerah paling terkenal di Kabupaten Bandung. Soalnya rata-rata orang yang berada di bawah lingkup Kabupaten Bandung kalau ditanya “tempat tinggal di mana?” mereka pasti akan menjawab Soreang. Walaupun kenyataannya mereka tinggal di Sadu, Sukamaju, Ciloa, dan lain-lain.

Mengapa demikian? Ibarat Indonesia ibu kotanya adalah Jakarta. Nah, kalau Kabupaten Bandung ibu kotanya adalah Soreang. Mungkin begitulah analoginya. Oleh sebab itu bisa dikatakan Soreang satu sama seperti Jakarta yang digambarkan dalam artikel ini.

Selain itu ada pula fasilitas lainnya yang tak kalah membuat nyaman seperti pasar, mini market, rumah sakit, kantor polisi, Mesjid Agung Soreang, alun-alun, sekolah, salon, dan lain-lain. Yang jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya bisa dijangkau dengan jalan kaki dan bisa sampai dalam hitungan menit.

Namun, meskipun jaraknya yang saling berdekatan tapi terkadang tetap saja orang-orang akan memakai angkutan umum untuk pergi ke suatu tempat. Alasannya kalau bisa lebih mudah dan cepat kenapa mesti capek-capek jalan kaki, iya kan? Hahaha.

Itu sedikit banyak kemudahan dan kenyamanan yang bisa didapatkan di Soreang. Namun, dari berbagai kemudahan itu di sini termasuk tempat yang tidak recommended untuk berwirausaha atau mendapat kerja.

Bagaimana tidak, semua pelaku wirausaha sudah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Dan kalau ada perusahaan pesaing pun orang-orang sini sih akan tetap setia dengan perusahaan lama, contohnya Borma.

Borma merupakan salah satu pesaing di dunia pe per-minimarket-an. Dibanding ke Yomart, Alfamart, Indomaret, Samudera (lah kok jadi menyebutkan semua nama mini market ya) orang-orang akan tetap berbelanja di Borma.

Kok bisa? Ya karena mindset mereka adalah di mana ada harga yang lebih murah maka di sanalah kami berada, xixixi. Maka dari itu tak jarang perusahaan pesaing sepi peminat.

Padahal kalau dipikir-pikir minimarket semacam Indomaret lebih menawarkan banyak kemudahan seperti bisa top up, ada tempat nongkrong, ada pelayanan belanja siap antar di masa PSBB. Tapi, ya gitu deh kesetiaan dengan harga murah tidak bisa ditukar dengan apapun.

Selain itu bukan hanya di urusan minimarket tapi di dunia pertokoan pun sama. Bahkan sampai ada yang gonta-ganti jenis usaha karena lelah menghadapi hari-hari sepi. Faktor itu terjadi karena di sini dekat dengan pasar dan tentu lagi-lagi harganya lebih terjangkau daripada di toko.

Kemudian untuk peluang kerja juga di sini termasuk sulit. Sebab, rata-rata orang yang kerja di sini bukan asli orang Soreang. Kalaupun ada orang Soreang maka untuk urusan gaji sungguh tidak memadai, pokoknya jauh dari kata UMR.

Tapi, betapa aneh atau uniknya di sini adalah ada satu prospek kerja yang menjanjikan dan lebih tinggi derajatnya dari orang yang kerja, yaitu menjadi tukang parkir, hahaha.

Ya, di sini tukang parkir menjadi bahan iri dengkinya orang-orang karena pendapatan perhari mereka bisa melebihi orang yang kerja atau dagang. Sampai suatu ketika ada kasus rebutan lahan parkir, ada yang kayak jualan sampai teriak-teriak “kadieu teh, didieu we parkir na (di sini teh, di sini aja parkirnya)” dan berbagai drama lainnya.

Bahkan terkadang tante saya juga kalau mengeluh dengan dagangannya selalu berucap “mending jadi tukang parkir aja yuk”. Tapi, niat itu kembali urung karena itu hanyalah sebuah pelampiasan semata. Sebab, menjadi tukang parkir pun tetap tidak mudah kalau nggak kenal sama orang dalam.

Ya, begitulah sekelumit kehidupan yang terjadi di Soreang. Bagaimana pun itu meski susah berwirausaha atau kerja tapi nyatanya tidak mengubah mindset penduduk asli sini untuk pindah ke tempat lain. Seperti halnya keluarga saya yang berkata “Kalau kita pindah, kita nggak mungkin mendapatkan kemudahan yang sama dengan di sini. Jadi, ya sudahlah kita tetap tinggal di sini saja.”

Memang ya kenyamanan itu selalu jadi nomor satu dalam sebuah pilihan. Mereka akan tetap setia dengan tempat tinggalnya meski dengan berbagai hiruk-pikuk yang terjadi. Atau mungkin warga Soreang sudah terjebak di zona nyaman kali ya? Sehingga untuk melepaskannya pun terasa sulit.

BACA JUGA Purbalingga: Ditinggal Merantau Ngangenin, Ditinggali Nggak Menghasilkan Apa-apa dan tulisan Yanyan Nur Arifah lainnya.

Baca Juga:  Catatan Perjalanan Naik Motor dari Bandung ke Yogyakarta: Berawal dari Pembangkangan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
9


Komentar

Comments are closed.