Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Nyambi Jadi Ojol Adalah Realita Kerasnya Hidup Mahasiswa yang Tertekan oleh Mahalnya UKT

Rendi oleh Rendi
7 November 2025
A A
Derita Mahasiswa Rela Nyambi Ojol demi Bayar UKT Mahal (Unsplash)

Derita Mahasiswa Rela Nyambi Ojol demi Bayar UKT Mahal (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah pemandangan yang kini jauh lebih jamak ketimbang mahasiswa nongkrong di perpustakaan. Pemandangan itu adalah kerumunan helm berlogo hijau atau oranye di parkiran fakultas. Ketika mahasiswa menyambung hidup melawan mahalnya UKT dengan nyambi jadi ojol.

Fenomena mahasiswa menjadi pengemudi ojek online atau kurir makanan sudah bukan lagi berita baru. Ini adalah new normal yang saking normalnya, kita jadi lupa untuk kaget. 

Dulu, mahasiswa kerja part-time itu kesannya keren. Jadi barista di kedai kopi senja, penjaga toko buku, atau asisten dosen yang gajinya cukup buat beli kuota. Sekarang, realitas menampar kita lebih keras. Pekerjaan paling fleksibel, merdeka, dan menjanjikan cuan instan ada di jalanan.

Saya curiga, jangan-jangan jumlah mahasiswa yang terdaftar di aplikasi ojol jauh lebih banyak daripada yang terdaftar di Unit Kegiatan Mahasiswa. UKM debat atau teater mungkin sepi peminat, tapi UKM Narik Orderan dan Golek Cuan punya anggota militan yang tersebar di setiap persimpangan lampu merah.

UKT yang semakin mahal

Kita semua tahu biang keladinya. Mari kita sebut namanya keras-keras: Uang Kuliah Tunggal. UKT yang katanya tunggal, nyatanya selalu mengajak kawan-kawannya yang bernama uang kos, uang makan, uang fotokopi, dan tentu saja, uang healing yang tidak bisa diganggu gugat. 

Kampus menuntut kita membayar mahal untuk sebuah janji masa depan yang cerah. Sementara itu, aplikasi ojol memberi kita kepastian hari ini. Uang tunai. Cash. Sesuatu yang jauh lebih nyata daripada nilai IPK empat koma nol.

Maka, terciptalah spesies baru mahasiswa hibrida. Pagi hari mereka duduk manis di kelas. Mendengarkan dosen menjelaskan tentang disrupsi digital dan ekonomi kreatif. 

Siang harinya, mereka menjadi pelaku disrupsi itu sendiri. Mereka adalah agen ekonomi kreatif yang paling kreatif, kreatif mencari celah antara jadwal kuliah yang padat dan jam-jam sibuk orderan ojol.

Baca Juga:

Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

Hidup mereka penuh dengan dualisme yang absurd. Otak mereka dijejali teori kritis untuk membongkar hegemoni kapitalisme dan mahalnya UKT. Sementara itu, di saat yang sama, tubuh mereka diperbudak oleh algoritma kapitalisme yang paling buas.

Mereka bicara lantang tentang keadilan sosial di ruang diskusi. Namun, di jalanan, mereka harus pasrah ketika pelanggan memberi bintang satu hanya karena lupa minta sendok plastik.

Kondisi mental mahasiswa yang nyambi jadi ojol

Bayangkan betapa rumitnya logistik mental seorang mahasiswa ojol. Di dalam ranselnya, laptop berisi draft skripsi Bab Tiga tergeletak pasrah di samping power bank berkapasitas besar dan jas hujan yang bau apek. 

Di kepalanya, dia harus membagi fokus. Separuh otaknya mencoba mengingat-ingat deadline tugas makalah Sosiologi Perkotaan, sementara separuh lainnya sibuk menghafal jalan tikus agar bisa mengantar paket same-day tepat waktu.

Momen paling ironis adalah ketika mereka, dengan jaket almamater yang masih tersembunyi di balik jaket ojol, harus mengantarkan makanan ke dosen mereka sendiri. “Loh, Mas Rendi, kamu bukannya yang tadi presentasi di kelas saya?” Dan Mas Rendi hanya bisa nyengir kuda, menyerahkan pesanan ayam geprek, sambil bergumam, “Hehe, iya, Pak. Sambil cari tambahan, Pak.”

Dialog itu adalah sebuah tragedi yang dibungkus komedi. Sebuah satir kehidupan nyata yang menunjukkan bahwa kampus gagal memberi jaminan, sehingga mahasiswanya harus mencari jaminan itu di aspal.

Kita sering menertawakan mereka yang salah kostum. Tapi mahasiswa ojol adalah ahlinya. Mereka adalah bunglon urban. Di kampus, mereka harus terlihat mahasiswa. Rapi, wangi, dan pura-pura pintar meski pikiran terkoyak oleh mahalnya UKT.

Begitu keluar gerbang, atribut itu luntur seketika. Jaket kebesaran ojol berlogo aplikasi langsung dipakai, helm full-face dipasang, dan persona intelektual muda berganti menjadi pejuang rupiah.

Kehidupan yang berat

Jangan kira ini mudah. Menjadi mahasiswa yang tertekan oleh UKT saja sudah berat. Nyambi ojol saja sudah menguras fisik. Menjadi keduanya adalah bentuk uji nyali tingkat lanjut. 

Pundak yang seharusnya memikul harapan orang tua, kini harus ditambah beban tas kotak berisi pesanan frozen food. Mata, yang seharusnya dipakai membaca jurnal ilmiah internasional, kini harus melotot menahan kantuk dan debu jalanan.

Dan skripsi? Oh, mari kita bicara soal skripsi. Skripsi adalah monster terakhir yang harus mereka lawan dengan sisa-sisa tenaga. Banyak yang akhirnya tumbang. Revisi dosen terasa lebih menakutkan daripada orderan fiktif. Mencari data penelitian terasa lebih sulit daripada mencari alamat pelanggan di gang buntu.

Pada akhirnya, banyak yang memilih cuti dulu. Cuti dari skripsi, maksudnya. Mereka memilih fokus narik karena tuntutan perut tidak bisa diajak kompromi. Skripsi bisa menunggu, tapi cicilan motor dan tagihan kos tidak, apalagi kelak harus bertarung lagi dengan UKT.

Penulis: Rendi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Curhatan Seorang Sarjana yang Melamar dan Bekerja Sebagai Driver Ojol

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2025 oleh

Tags: ojek onlineojolojol mahasiswapekerjaan sampinganSkripsiUKTukt mahal
Rendi

Rendi

Mahasiswa yang lebih percaya diskusi spontan di warung kopi daripada sidang pleno yang isinya saling cari muka dan lupa tujuan awal.

ArtikelTerkait

Selamat Datang di Purwokerto, Kota Tanpa Ojol di Stasiun

Selamat Datang di Purwokerto, Kota Tanpa Ojol di Stasiun

6 Juli 2025
11 Potret Menyedihkan Menjadi Driver Ojol Perempuan (Unsplash)

11 Potret Menyedihkan Menjadi Driver Ojol Perempuan

22 Oktober 2025
Nasi Box untuk Dosen Penguji, Sebuah Gratifikasi atau Penghormatan?

Nasi Box untuk Dosen Penguji, Sebuah Gratifikasi atau Penghormatan?

7 Februari 2020
Jogja Kota Salah Urus dan Sulit Dinikmati Warganya Sendiri (Unsplash)

Jogja Tidak Pantas Lagi Menyandang Kota Wisata dan Kota Pendidikan karena Tidak Bisa Dinikmati oleh Warganya Sendiri

2 Februari 2024
Ojol di Bangkalan Madura: Tarifnya Mahal, Drivernya Itu-Itu Aja, tapi Menolong Warga karena Transportasi Umum di Sini Nggak Bisa Diharapkan

Ojol di Bangkalan Madura: Tarifnya Mahal, Drivernya Itu-Itu Aja, tapi Menolong Warga karena Transportasi Umum di Sini Nggak Bisa Diharapkan

19 Agustus 2024
Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

10 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

20 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang
  • Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat
  • Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.