Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

dr. Jiemi Ardian oleh dr. Jiemi Ardian
6 November 2019
A A
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U

Share on FacebookShare on Twitter

Depresi memang butuh didengarkan, tapi didengarkan saja tidak cukup untuk menyembuhkannya. Depresi bukan sekadar perasaan tidak nyaman yang butuh diceritakan. Depresi yang kita bicarakan di sini depresi beneran lho ya, bukan yang self diagnose depresi.

Jadi gini…

Ketika bercerita tentang depresi, sebagian besar dari kita mungkin sadar bahwa orang itu butuh didengarkan. Tapi sebagian membawa “didengarkan” ini ke titik ekstrim, seakan hanya itu yang dibutuhkan. Seakan dengan didengarkan keluhannya, depresinya menghilang. Seakan depresi itu semacam tumpukan sampah yang perlu dibuang, begitu dibuang ya tumpukannya hilang.

“Coba kalo dia cerita, pasti ga akan depresi”

Padahal bercerita pada orang yang salah, malah memperberat kondisi. Padahal “didengarkan”pun kadang tidak cukup untuk menyembuhkan.

Apakah lantas mendengarkan itu tidak penting? Lantas “didengarkan” itu tidak penting untuk menjadi bagian proses terapi? Tidak demikian, itu sisi ekstrim yang lain yang juga tidak kalah kelirunya. Didengarkan juga adalah kebutuhan, tapi bukan satu satunya kebutuhan.

Depresi tidak sederhana. Tidak sesederhana “ada trauma, makanya jadi depresi”, “orangnya introvert, makanya gampang depresi”, “orang tuanya depresi, pantes sih dididik gitu makanya dia jadi depresi”. Depresi tidak terjadi karena satu faktor tunggal, selalu ada hal lain di sana.

“Tapi dok, akar depresi temenku itu dari dibully online”

Baca Juga:

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Yuk kita lihat gambar akar. Akar itu banyak, panjang, dan dari mana mana.

“Akar” gangguan jiwa tidak bicara tentang satu tema/kejadian, tapi kompleksitas yang sangat rumit dari faktor biologis, psikologis dan sosial.

 

Image

Tidak jarang juga, orang dengan depresi mengalami ragam emosi dan pikiran yang terlalu banyak dan membingungkan, sehingga tidak tau harus bercerita apa dan dari mana. Rasanya sudah terlalu “penuh”. Bicarapun rasanya percuma, sehingga yang terucap “aku nggak papa kok”.

Depresi juga ga sesederhana “nggak mendapatkan yang diinginkan”. Jadi kalo seseorang dapat yang diinginkan, seperti pasangan cantik/ganteng, jadi kaya, terkenal, maka lantas dia nggak akan depresi. Kayanya ini si jelas ya, liat aja berita berapa banyak orang “ideal” yang depresi.

Depresi terjadi karena apa jadi? Karena kompleksitas penyebab. Contoh: struktur gen + faktor keturunan + trauma + pola asuh + proses pikir + mekanisme defense emosional + support system + stresor = depresi. Kesemua faktor tadi ikut serta dalam mengakibatkan depresi. Jadi kalau penyebabnya kompleks, depresi nggak pulih dengan solusi sederhana.

Kalau kebakaran melahap satu kompleks perumahan, solusinya kan nggak cuma “matiin saklar listrik”. Kita perlu manggil pemadam, kerjasama nyiram, menyelamatkan yg terjebak, dll. Semua dilakukan sekaligus.

“Didengarkan” adalah salah satu cara memadamkan kebakaran akibat depresi. Yang lain juga tetap perlu dilakukan. Konsultasi rutin, minum obat (jika dibutuhkan), bangun support system, latihan CBT/ mindfulness/ ACT (mana yang cocok), didengarkan dengan tepat, dsb semua sekaligus.

Karena depresi butuh didengar, kita bahas sedikit tentang bagaimana itu mendengarkan. Dengan syarat, bagian lain juga perlu dilakukan, seperti konseling, minum obat, ubah gaya hidup, tidur teratur, olahraga, makan gizi seimbang, dsb.

Ketika mendengar, ingatlah bahwa “Dia” adalah subjek pembicaraan kali ini.

Jangan rebutan spotlight dengan membandingkan kepada ceritamu, kehebatanmu menyelesaikan masalah, saranmu menghadapi situasi. Jangan, rebutan jadi subjek. Ijinkan dia bicara tanpa interupsi cerita hebatmu. Niatkan untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Dengarkan saja, lepaskan asumsi. Bersikaplah seakan-akan kamu tidak tahu apa apa tentang depresi dan kisah temanmu. Dengarkan seutuhnya, sepenuhnya, dengan segenap perhatian yang kamu miliki.

Niatkan mendengar untuk memahami. Ketika mengajak seseorang yang depresi bercerita untuk kita mendengarkan, sadari bahwa percakapan ini mungkin tidak terjadi satu kali, mungkin bahkan ajakan pertamamu untuk berbagi tidak berbuah hasil, dan itu tidak apa. Sampaikan saja perhatian dan keinginanmu untuk mendengar.

Mengajak bicara, “Hei, akhir akhir ini aku melihat kamu murung. Adakah sesuatu yang mau diceritakan?”, “Hei, kamu tampak berbeda beberapa hari ini. Apa kabar?” Kalau dia menolak bercerita, “Oh baiklah kalau begitu. Tapi kalau ada apa apa, aku ada disini kok siap mendengarkan”

Pertanyaan lanjutan:

“Sejak kapan kamu merasa begini?”
“Adakah sesuatu yang kamu pikir membuat kamu merasa begini?”
“Apa yang bisa aku bantu saat ini?”
“Apakah kamu mau saran atau didengarkan saja?”
“Apakah sudah terpikir untuk mencari pertolongan profesional?”

Lalu akan muncul pertanyaan lagi, bagaimana merespon ketika mendengarkan? Orang sekarang dikasi semangat jadi sebel. Di bawah ini ada contoh respon ketika mendengarkan. Cobalah lihat dari sudut pandang pencerita, rasakan sepenuhnya dan berespon dengan empati.

Image

Ketika sudah memulai menawarkan sebagai pendengar dan dia berespon, maka langkah selanjutnya adalah:

1. Tunjukkan bahwa kita memerhatikan

Dengarkan dengan perhatian, pikiran dan fokus penuh kepada ceritanya. Lakukan kontak mata, jauhkan handphone, duduk dan dengarkanlah.

2. Sabar

Cerita ini bisa panjang, bisa menyakitkan, bisa beberapa kali kita dorong baru dia bercerita namun jangan terburu buru memaksa bercerita. Mendengarkan yang efektif itu tentang mempercayai orang yang bercerita. Kita percaya dia berusaha menderskripsikan kisahnya. Jika butuh bertanya, usahakan gunakan pertanyaan terbuka yang jawabannya tidak sekadar “iya” atau “tidak”. Ajak dia mengeksplorasi cerita dan perasaannya. Ingat, dengan tetap tidak menghakimi. Salah satu pertanyaan terbuka untuk mendorong seseorang bercerita “begitu ya.. lalu?”

3. Parafrase

Ucapkan kembali kalimat yang diceritakan, dengan bahasa kita sendiri. Hal ini menggambarkan kita mendengarkan dan berusaha memahami apa yang dia ceritakan. Dan kalau kita salah menangkap, dia bisa memperbaiki pemahaman kita terhadap kisah tersebut

“kamu bercerita tentang orang tua kamu, mereka meninggalkan kamu dan kamu merasa marah ya”
“kamu merasa dunia tidak adil, padahal kamu sudah berbuat baik tapi tetap saja ada hal buruk yang terjadi”

Ulangi kalimat yang berisi perasaan dan kejadian yang diceritakan.

4. Lakukan semua sambil mendengarkan aktif

Yang meliputi
– Konsentrasi
– Memahami
– Merespon dengan empatik
– Mengingat apa yang diceritakan

Secara aktif mari pusatkan perhatian untuk mendengarkan, untuk memahami, untuk menyelami apa yang dirasakan. Semoga bisa bermanfaat ya.

Jika ada yang mau menceritakan tipsnya dalam mendengarkan, bisa juga kok balas di kolom komentar dan kita berdiskusi bersama bagaimana mendengarkan dengan empatik. Pertolongan itu ada, mari gapai kembali kebahagiaan.

BACA JUGA Mitos Tentang Aura: Cocoklogi yang Diciptakan Bedes Klenik atau tulisan dr. Jiemi Ardian lainnya. Follow Twitter dr. Jiemi Ardian.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2019 oleh

Tags: depresiKesehatan MentalPsikologi
dr. Jiemi Ardian

dr. Jiemi Ardian

Psychiatrist at Siloam Hospital Bogor | Advisor of @ibunda_id | National Hypnotherapy Instructor |

ArtikelTerkait

Emotional Eating yang Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik terminal mojok.co

Emotional Eating: Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik

18 Februari 2021
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2_ Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri terminal mojok

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2: Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri

30 September 2021
Krisis Eksistensial

Untuk Siapapun yang Sedang Mengalami Krisis Eksistensial: Please Seek Help!

1 Oktober 2019
Lingkungan Kerja Toxic Membunuh Jiwa dan Raga Karyawan (Unsplash)

Lingkungan Kerja Toxic Membuat Karyawan Tidak Sejahtera Jiwa dan Raga

28 November 2023
kesehatan fisik dan mental

Kebiasaan yang Merusak Kesehatan Fisik dan Mental, Tapi Sering Dilakukan

19 September 2019
pendengar yang baik

Dunia Butuh Pendengar yang Baik, Bukan Orang yang Terlalu Banyak Bicara

26 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati Mojok.co

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati

31 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.