Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya

Ahmad Nadlif oleh Ahmad Nadlif
17 Juli 2024
A A
Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya Mojok.co

Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Demak daerah di Jawa Tengah yang nggak ramah untuk mereka yang gemar membaca. 

Saya sempat kaget ketika tahu bahwa Jawa Tengah merupakan provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi ke-2 se-Indonesia. Posisi itu berarti Jawa Tengah hanya setingkat di bawah Yogyakarta yang punya julukan Kota Pelajar itu. Kok bisa ya, provinsi yang terdiri atas 29 kabupaten itu mengalahkan DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dua provinsi yang punya ekosistem literasi lebih mapan.

Asumsi saya, peringkat yang gemilang itu ditopang oleh kota-kota besar seperti Semarang, Solo hingga Boyolali. Ekosistem membaca di daerah-daerah itu memang lebih baik dibanding kabupaten lain. Sementara Demak, daerah saya berasal, mungkin malah jadi kabupaten pemberat peringkat tersebut. 

Saya bisa berkata demikian karena aktivitas membaca, sama sekali belum menjadi sebuah tradisi yang melekat kuat pada sebagian besar warga Kota Wali. Bahkan saya berani mengatakan bahwa Demak bukanlah daerah yang ramah bagi para pembaca buku. Kok bisa? Berikut alasan-alasannya.     

Susahnya menemukan toko buku di Demak

Jika kalian tinggal di kabupaten Demak, maka hampir saya pastikan bahwa kalian akan kesulitan untuk mencari toko buku. Sebab, jangan bayangkan Demak layaknya Semarang yang di setiap sudutnya ada toko buku, kalau boleh mengatakan, mencari toko buku di Kota Wali ini sama saja kayak mencari jarum dalam jerami, artinya susah banget untuk menemukannya.

Di Semarang kita mungkin mengenal nama-nama seperti Gramedia, toko buku Merbabu, hingga beberapa toko buku yang berderet di jalan Stadion. Nah kalau di Demak, sepanjang penelusuran saya, setidaknya hanya ada dua toko buku yakni Toko Buku Media Belajar dan Aneka Jaya. Itupun koleksinya juga nggak lengkap-lengkap amat. Sangat jauh dengan toko buku di daerah Semarang-an.

Selain itu, kalau Demak juga masyhur dengan banyaknya jumlah pesantren di dalamnya, logikanya, seharusnya toko kitab juga bejibun dimana-mana. Sebab hal itu semacam jadi fasilitator bagi para santri dan tentu menjadi pangsa pasar yang menjanjikan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Di Mranggen yang punya lebih dari 10 pesantren misalnya, toko kitab yang terkenal hanya ada Toko Sallimna. Itupun yang dijual hanya kitab-kitab yang masuk dalam kurikulum pesantren. Mencari kitab di luar itu sangat sulit. 

Mungkin dulu memang ada, toko kitab yang juga menjual buku-buku umum di Mranggen, namanya toko Yusuf Putra. Namun toko tersebut tampaknya telah pindah entah kemana dan sekarang disulap menjadi Mixue. Jadi, ya, beginilah kondisinya sekarang. Alhasil, paling mentok ya pasti beli online jika memang mau nyari buku.      

Baca Juga:

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

Di Demak, nggak ada tempat yang nyaman untuk membaca buku

Jujur saja, tempat paling nyaman untuk membaca buku di Demak adalah di dalam rumah. Sebab, kalau kita melakukan aktivitas membaca di teras saja misalnya, terkadang ada aja tetangga yang memandang kita dengan penuh sensi. Anggapan sok pintar begitu saja langsung melekat. Orang yang karakter bodo amatnya kurang kuat macam saya pasti ngerasa risih.

Di beberapa tempat umum pun juga begitu. Sebut saja di perpustakaan umum Demak, saya pernah mencoba mencari referensi sekaligus baca-baca di tempat tersebut. Sialnya, banyak anak-anak sekolah yang terlalu berisik sehingga sangat mengganggu. Nahasnya lagi, kelakuan mereka yang demikian itu malah nggak ditegur oleh para pegawai.

Saking bingungnya nyari tempat baca buku yang nyaman di Demak, dulu saya bahkan pernah nyoba baca di area pemakaman, yakni makamnya para masyayikh pendiri Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen. Saya cukup merasa nyaman pada awalnya, sebab kondisinya sendirian dan hening. Namun situasi berubah tatkala ada rombongan salah satu pondok putri di Mranggen yang datang untuk berziarah. Saya langsung kikuk dan sontak pulang ke rumah. Bingung kan akhirnya mau baca di mana?  

Pelayanan publik di bidang literasi masih amburadul

Faktor lain yang membuat Demak nggak ramah dengan pembaca buku adalah pelayanan publik yang masih amburadul. Pasalnya, Amanda, salah satu pegiat literasi di Demak merasa pernah dikecewakan oleh para pegawai Perpustakaan Umum Kabupaten Demak.

Ceritanya gini, pada bulan Maret lalu ia mengajukan diadakannya perpustakaan keliling, namun dari pihak perpustakaan mengundur jadwalnya di bulan April, kemudian masuk di bulan Aprilnya, katanya diundur lagi menjadi bulan Mei. Dan hingga sekarang masih nggak ada pergerakan juga. Kalau begini, wajar saja kalau warga Demak masih banyak yang asing dengan buku?

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) masih belum merata

Satu hal yang mungkin bisa diapresiasi dari Demak terkait upaya memanjakan para pembaca buku adalah munculnya pengadaan Taman Bacaan Masyarakat di beberapa tempat. Apresiasi di sini tentu bukan ditujukan pada pemerintahnya, melainkan sebagian kecil masyarakatnya yang terjun dalam Forum Literasi Demak. Sebab selama ini, TBM-TBM yang ada tampaknya masih dikelola secara pribadi dengan dibantu oleh Forum Literasi Demak. Pemerintah malah terlihat masih nihil sebagai fasilitator TBM selain hanya mengadakan seminar dan pelatihan.

Selain itu, dikarenakan pengelolanya masih atas nama pribadi, Taman Bacaan Masyarakat di Demak terbilang masih belum merata. Di Mranggen misalnya, kecamatan yang punya 19 desa itu setidaknya hanya terdapat satu TBM yang masih aktif, yakni TBM Griya Pustaka di desa Ngemplak. Selain itu? Ya, tentu nihil. Makanya, pemerintah Demak harusnya bisa lebih peduli hal-hal beginian.

Itulah setidaknya beberapa alasan kenapa kabupaten Demak merupakan daerah yang nggak ramah terhadap pembaca buku. Kalau dipikir-pikir, sedih juga sih tinggal di Demak, selain harus bergumul dengan jalanan rusak setiap harinya, pengin bisa pintar saja ternyata susahnya minta ampun.

Penulis: Ahmad Nadlif
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 3 Alasan Demak Kalah Tenar Dibanding Kabupaten di Sekelilingnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2024 oleh

Tags: Bukudemakjawa tengahLiterasiMembaca
Ahmad Nadlif

Ahmad Nadlif

Mas-mas jawa biasa.

ArtikelTerkait

Sragi Pekalongan, Tempat Terbaik untuk Frugal Living di Jawa Tengah. Dijamin Cepat Kaya dan Bisa Bolak-balik Umrah kalau Tinggal di Sini

Sragi Pekalongan, Tempat Terbaik untuk Frugal Living di Jawa Tengah. Dijamin Cepat Kaya dan Bisa Bolak-balik Umrah kalau Tinggal di Sini

5 Maret 2024
Lampu Merah Kalibanteng Semarang Musuh Besar Sepeda Motor (Unsplash)

Anak SD Dibonceng Bapaknya Berhenti di Lampu Merah Kalibanteng Semarang, Pas Hijau Udah Lulus SMP

5 Februari 2024
Mak Jah, Si Wonder Woman dari Desa Bedono Demak Terminal Mojok

Mak Jah, Sang Wonder Woman Indonesia dari Desa Bedono Demak

16 Desember 2020
Derita Menjadi Buruh di Sayung Demak

Derita Menjadi Buruh di Sayung Demak

1 Mei 2023
Bakso Bang Sodiq, Penjaga Lidah Kaum Proletar Semarang (Unsplash)

Bakso Bang Sodiq, Bakso Paling Laris di Ngaliyan Semarang yang Menjadi Penyangga Lidah Kaum Proletar

11 Mei 2024
Pengalaman Kawan Saya Mengajar Siswa SMP yang Belum Bisa Baca: Bukannya Dapat Hadiah, Malah Mengundang Masalah

Pengalaman Kawan Saya Mengajar Siswa SMP yang Belum Bisa Baca: Bukannya Dapat Hadiah, Malah Mengundang Masalah

9 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.