Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dear Mas Kevin, Benarkah Toko Buku Bisa Ciptakan Pasar?

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
7 Januari 2020
A A
wisata jakarta, Dear Mas Kevin, Benarkah Toko Buku Bisa Ciptakan Pasar?
Share on FacebookShare on Twitter

Sejujurnya tulisan ini saya buat untuk menanggapi apa yang telah ditulis Mas Kevin Ng dalam tulisan sebelumnya, berjudul Tenang Saja, Pasar Bisa Diciptakan di Toko Buku. Kata belio, buku-buku yang disematkan di rak “best seller” adalah buku yang jauh dikatakan “the best”. Saya tidak mafhum apa dasar Mas Kevin menulis seperti itu. Barangkali ia terkejut dengan perkembangan literasi di Indonesia belakangan, secara belio kan kuliahnya di University of Western Australia.

Mas Kevin menulis, kalau toko buku ternyata bisa menciptakan pasar hanya melalui rak yang diberi embel-embel “best seller”, pernyataan itu ia kaitkan dengan Putri Marino yang menulis buku barunya dan viral. Barangkali tulisan itu ia buat setelah melihat buku karya Putri Marino itu tertata rapi di rak “best seller”, jadi agak sinis gitu, ehe. Saya ingin memberitahu Mas Kevin yang mungkin baru kali ini menyadari kalau perkembangan literasi kita ya begitu-itu.

Penerbit yang seperti Mas Kevin sebut bernalar kapitalis memang betul sekali. Memang kapitalis sudah mendarah daging, jadi nggak perlu dibesar-besarkan lah, karena itu sudah wajar. Zaman sekarang kalau nggak kapitalis, nggak bisa hidup. Ceileee. Tapi pernyataan toko buku bisa menciptakan pasar ini yang mengganggu di pikiran saya. Maksud saya, apa benar toko buku bisa ciptakan pasar?

Mas Kevin menulis, apabila tak ada permintaan dari konsumen, maka produsen tidak menawarkan. Namun bersamaan dengan konsep itu, ia menuliskan bahwa pasar penerbit berbeda karena masuk ke ekonomi kreatif. Artinya secara implisit Mas Kevin mengamini bahwa industri penerbitan buku adalah industri kreatif. Penerbit bisa menerbitkan buku apa pun, tidak melulu mengikuti pasar. Yang mau baca bukunya silakan, tidak membaca pun nggak masalah, karena itu prinsipnya. Alhasil, penerbit independen mulai bermunculan, kita sering menyebutnya penerbit indie.

Banyaknya penerbit yang justru memakai paradigma pasar barangkali membuat Mas Kevin mengkritik itu, bahkan sampai ke ranah literasi Indonesia yang buruk. Apalagi kehadiran penulis-penulis, terutama novel yang memasang garis cerita klise, isinya percintaan melulu. Ya mau bagaimana lagi, seperti apa yang dibilang Efek Rumah Kaca di lagu Cinta Melulu bahwa kita memang suka mendayu-mendayu benar adanya.

Akan tetapi, apabila membicarakan perihal pasar berarti bicara seluruh komponennya, mulai dari produsen, distributor, sampai konsumen. Mas Kevin yang kuliah di Australia itu membahas pasar tapi hanya pada elemen produsen dan distributor. Dalam hal ini produsen yaitu penerbit dan penulis. Sementara distributor adalah toko buku yang dianggapnya bisa menciptakan pasar.

Well, mengenai pasar penerbitan buku ini sejatinya yang mengambil peran penting adalah pembaca. Mas Kevin pun dalam tulisannya itu melegitimasi diri sebagai perwakilan pembaca. Entah pembaca mana yang dia wakilkan, atau merasa terwakilkan olehnya. Yang bisa saya terka adalah mungkin pembaca-pembaca buku “kiri”, buku-buku Pramoedya, atau para pembaca yang hobi membaca novel bergaya Eka Kurniawan. Artinya Mas Kevin sebagai pembaca juga berperan penting dalam pasar penerbitan.

Dear Mas Kevin, emangnya semua pembaca buku seperti Anda? Nggak semua orang bisa tahu mana buku dengan kualitas bagus, mana yang tidak. Semua pembaca punya selera bukunya masing-masing. Nah ini yang belum ditekankan oleh Mas Kevin. Mas sepertinya lupa kalau masyarakat kita itu heterogen, begitu pula para pembaca bukunya. Jadi tidak bisa dipukul rata dong!

Baca Juga:

Pasar Sendangmulyo Semarang, Pasar Underrated Penyelamat Warga Komplek seperti Saya

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

Seperti yang Mas contohkan, ada yang suka puisi Putri Marino, ada pula yang sinis karena puisi istri Chicco Jerikho itu karena nggak sesuai dengan kaidah “sastra”. Saya juga bukan penulis sama seperti Mas Kevin. Tetapi untuk mengkambing hitamkan penulis karena perkembangan literasi yang buruk, saya tak seberani Mas Kevin. Karena saya dan Mas Kevin sama-sama tahu menulis itu berat, kalimat demi kalimat membutuhkan kerja otak yang tak bisa dianggap enteng.

Dalam menciptakan sebuah pasar, peran pembaca atau konsumen lebih dibutuhkan, bukan toko buku. Silakan toko buku memajang buku-buku yang menurutnya “best seller” ke rak khusus. Tapi jangan lupa, kalau yang membikin buku itu bisa “best seller” adalah pembaca bukan penulis apalagi penerbit. Penulis bisa menulis buku apa pun, tak perlu memikirkan soal perkembangan literasi.

Penerbit boleh saja “menebeng” popularitas penulis (baca: artis) yang kebetulan memiliki followers banyak untuk meraup keuntungan. Kalau nggak ada yang beli bukunya, mau apa? Artis atau seleb medsos yang punya followers ratusan juta sekalipun belum tentu bukunya laku di pasaran. Ini hanya perkara laris manis atau tidak. Pembaca harus lebih jeli lagi membaca buku yang benar-benar bermutu, yang bisa membuat buku sungguh-sungguh menjadi “jendela dunia” bukan “jendela popularitas” semata.

BACA JUGA Di Toko Buku, Syiah-Sunni dan Komunis-Fasis Tak Pernah Saling Bertengkar atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2020 oleh

Tags: pasarpenerbit indietoko buku
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Jurus Kapal Api Bertahan di Tengah Gempuran Bisnis Kopi

Jurus Kapal Api Bertahan di Tengah Gempuran Bisnis Kopi

5 Juni 2022
Pasar Gedhe Klaten, Pasar Tradisional Pertama di Indonesia yang Ramah Lingkungan karena Menggunakan PLTS

Pasar Gedhe Klaten, Pasar Tradisional Pertama di Indonesia yang Ramah Lingkungan karena Menggunakan PLTS

30 Agustus 2024
Pasar Baru Jakarta: Namanya Saja yang "Baru", padahal Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Belanda

Pasar Baru Jakarta: Namanya Saja yang “Baru”, padahal Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Belanda

5 Juli 2024
Di Binjai, Pasar Tradisional Lebih Diminati daripada Pasar Modern karena Bisa Drive Thru

Di Binjai, Pasar Tradisional Lebih Diminati daripada Pasar Modern karena Bisa Drive Thru

23 Mei 2024
3 Kelicikan Penjual Daging Ayam yang Patut Diwaspadai Pembeli

3 Kelicikan Penjual Daging Ayam di Pasar yang Patut Diwaspadai Pembeli

17 September 2024
Pasar Jongkok Wonokromo, Pasar Maling Surabaya yang Bikin Pembeli Berprasangka Buruk

Pasar Jongkok Wonokromo, Pasar “Maling” Surabaya yang Bikin Pembeli Berprasangka Buruk

20 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.