Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
30 September 2020
A A
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada 3 hal lucu yang setidaknya saya rangkum dalam minggu ini. Pertama, pemerintah yang tetap melaksanakan pilkada. Kedua, Mbak Nana yang mewawancarai secara halu Menkes Terawan yang sepertinya malu untuk datang ke Mata Najwa. Ketiga, terakhir dan pamungkas sekaligus punchline kelucuan, blusukan online yang dilakukan Mas Gibran Rakabuming, putra pertama Presiden Joko Widodo.

Bagaimana nggak aneh, konsep blusukan saja sejatinya menggelikan. Sudah salah sejak dalam tataran pemikiran, lantaran bergerak dalam kerumunan, salam-salaman, dan dikitari oleh masa yang berjubel, apa yang didapat dari blusukan selain citra? 

Begini, blusukan itu nilainya kita mendapatkan realita yang terjadi di masyarakat, kan? Kalau ramai-ramai dan berjubel-jubel, mau dapat apa? Dimintai foto bareng?

Apalagi blusukan secara daring. Mas Gibran dari rumah, tim suksesnya muterin kampung-kampung dengan membawa layar besar yang isinya Gibran sedang dadah-dadah. Belum lagi kalau blusukan ke tempat tertentu, sinyalnya hilang. Atau pas gambarnya blawur, harusnya lihat warga sedang sumringah, yang terpampang malah sedang tertawa.

Konsepnya seperti “misbar”, sebuah bioskop jadul yang eksis beberapa tahun lalu di Indonesia. Misbar itu akronim dari gerimis bubar. Jadi, masyarakat berkumpul di salah satu lapangan, nonton film yang disajikan. Begitu pula dengan blusukan daring ini. Jyannn mbois tenan apa yang dipikirkan oleh Gibran Rakabuming dan tim suksesnya.

Retorika menjadi pilihan nomor wahid bagi blio. Warga yang sedang “diblusuki”, satu persatu menuju layar, ngobrol dengan Gibran. Hal yang diobrolkan mengenai banyak hal, terutama kebutuhan apa yang diperlukan oleh warga selama masa seperti ini. Saling berkeluh kesah, lalu Gibran Rakabuming menenangkan. Begitu, Hyung.

Perlu diakui, di masa pandemi seperti ini, jalan terjal yang ditempuh oleh Gibran untuk berkampanye memang pilihan wajar. Pembatasan jarak, pertemuan, dan aktivitas karena pandemi, apalagi kurva penularan di daerah Gibran mengadu nasib belum turun. Terjun ke masyarakat adalah pilihan yang sulit. Tapi, yo nggak blusukan daring juga….

Masih banyak cara unik untuk menghindari kerumunan dan menjaga Gibran agar nggak melanggar aturan kumpul-kumpul massa. Lebih nalar, wangun, dan retoris, tanpa menempuh jalan terjal sebuah kewaguan yang bikin menggelitik.

Baca Juga:

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

Pemilihan Bupati Sidoarjo Disambut Dingin oleh Warga, Harap Maklum Masih Trauma

Pertama, doa bersama. Tentunya jalan ini pernah dilakukan oleh Gibran Rakabuming atau setidaknya akan dilakukan. Doa bersama, dalam sebuah rundown hajatan besar seperti pilkada, adalah pilihan pamungkas yang ditempuh banyak pihak. Melihat situasi seperti ini, langkah paling bijak itu ya mengganti keseluruhan kampanye, dengan doa saja.

Gibran Rakabuming dan kolega berdoa di rumahnya, tim suksesnya berdoa di kediamannya masing-masing, dan rakyat Solo bisa menentukan dengan damai. Physical distancing, protokol kesehatan, dan istilah wagu new normal itu, ditaati tanpa menghadirkan kerumunan massa.

Kedua, dangdutan daring. Pilkada dan dangdutan itu bagai dua sisi mata uang. Saling memunggungi karena perbedaan visi, namun nggak bisa dilepaskan lantaran saling memerlukan. Dangdutan butuh pilkada karena sumber cuan, pilkada butuh dangdutan karena dangdutlah sumber ketentraman batin masyarakat dapil, saya sebagai contoh nyatanya.

Dangdutan kali ini berbeda. Gibran dan tim sukses cukup nyebar speaker nyeter di setiap sudut Kota Solo. Nah, pas hari minggu sore atau hari yang ditentukan oleh timsesnya, putar saja lagu-lagu Happy Asmara atau Nella Kharisma. Wes to, dijamin masyarakat bakal ngibing, tapi di rumah masing-masing. Aneh? Setidaknya nggak seaneh blusukan daring, sih.

Ketiga, bagi-bagi sepeda. Gibran bisa mencontoh sosok luhur sekelas Presiden RI, Bapak Jokowi. Cara yang bersahaja, merakyat, dan tentunya nggak berlebihan, jelas memudahkan langkah Gibran Rakabuming dalam mengikuti perlombaan bernama pilkada. Bagi-bagi sepedanya dengan cara yang unik dan harus nggak biasa, out of the box, dan milenial sekali.

Syaratnya, barang siapa yang paling tertib menaati aturan protokol kesehatan selama pandemi, maka akan diberikan sepeda. Tanpa menyebut ikan tongkol dan terjebak dalam kampanye hitam, bagi-bagi sepeda ini malah menyelamatkan penduduk Solo dari pandemi corona.

Keempat, mendengar aspirasi masyarakat. Sebenarnya apa sih, aspirasi dari masyarakat? Yakni pro kontra masalah pilkada. Jadi begini, Mas Gibran, banyak hal yang dipertaruhkan dan ditaati selama pandemi, bahkan keluar untuk bekerja dan cari duit saja sudah banyak aturannya. Lha mosok ini pilkada, di tengah wabah dan bahaya kluster baru, tetap dilaksanakan begitu saja. Sebenarnya, pilkada ini menguntungkan siapa, sih?

Semisal Gibran mengambil jalan panjang poin nomor empat, saya yakin ke depannya, karier politik Mas Gibran, bakal lebih menanjak dan mentereng karena memihak kepada kami, keadilan yang selama ini kami cari. Banyak pengusaha “bersimbah darah” untuk menghidupi karyawan selama pandemi, mosok ya pilkada ngeyel masih mau dilanjutkan.

Nggak cuma nomor empat, sih. Nomor satu sampai tiga pun setidaknya lebih wangun ketimbang blusukan daring. Blusukan biasa saja kita nggak bisa melihat realitas sesungguhnya, apalagi yang bersifat daring.

Semangat buat Mas Gibran Rakabuming. Ayo, sing wangun lah!

BACA JUGA Curhat Penjual Angkringan Jogja yang Menganggap Kotanya Biasa Saja dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2020 oleh

Tags: kampanyePilkada
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang

25 November 2024
Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman! (Unsplash)

Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman!

9 Juni 2023
air tawar alat politik pemilu pilkada janji palsu mojok

Alat Politik itu Bisa Apa saja, Termasuk Air Tawar

9 Oktober 2020
Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

22 Desember 2023
baliho puan maharani branding usang mojok

Baliho Politisi, Obat Mencret, dan Dagangan yang Tidak Bermutu

5 Agustus 2021
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Layak Dinobatkan sebagai Kepala Keluarga Terbaik di Indonesia

12 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba
  • Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu
  • Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home
  • “Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten
  • Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.