Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Baliho Politisi, Obat Mencret, dan Dagangan yang Tidak Bermutu

Suwatno oleh Suwatno
5 Agustus 2021
A A
baliho puan maharani branding usang mojok

baliho puan maharani branding usang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Gini lho, Kin. Kalau memang seseorang yakin apa yang sedang dijualnya itu bagus dan bermutu tinggi, orang itu nggak akan capek-capek beriklan. Kualitas barangnya sendiri yang akan meyakinkan pembeli.” ujar Cak Narto.

“Sebentar, Cak! Dengan analogi itu, apa maksud Sampean orang yang beriklan pasti barangnya nggak bagus dan nggak mutu, gitu?” Kejar Solikin.

“Lho sik ta la, Kan ini ngomongin baliho-baliho itu tho, Kin!” Jawab Cak Narto sembari menunjuk deretan baliho di seberang jalan.

Usai sedari pagi tadi bergotong royong mengecat gapura desa dalam rangka menyambut tujuh belasan sesuai anjuran pamong desa, Cak Narto, Kanapi dan Solikin mengaso di bawah rindang pohon akasia. Di seberang jalan, baliho-baliho raksasa politisi nasional njogrog dengan bermacam pose dan slogan.

Menyusul capaian medali emas pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo, kini bermunculan lebih banyak lagi baliho politisi-politisi daerah yang mejeng di sana. Memenuhi ruang publik desa.

“Iya, Cak, aku ngerti…” sergah Solikin, “…apa iya orang jualan nggak boleh beriklan. Masa orang mau nyalon nggak boleh kampanye, gitu? Masalah kualitas kan nantinya bisa kita nilai sendiri, Cak.”

“Tentu saja boleh, Kin. nggak ada larangan. Tapi, gini maksudku.” Cak Narto meneguk es teh lantas membakar kretek. Kalimatnya pasti akan panjang kali ini.

“Beriklan itu ya sesuatu yang sah, kalau konteksnya orang jualan obat kuat, obat mencret atau ayam geprek, misalnya. Tapi, ketika yang diiklankan adalah kepemimpinan, kok aku curiga. Jangan-jangan yang sedang jualan sendiri tidak yakin dengan dagangannya.”

Baca Juga:

“Satu Desa Satu Gym” Bukan Sekadar Lelucon, Itu Ide Bagus untuk Kesehatan Warga Jawa Tengah!

Jika Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Nyaleg, Begini Gaya Kampanye Mereka

“Jangan-jangan Dia juga nggak yakin kalau dirinya adalah calon pemimpin yang berkualitas. Dan akhirnya, Ia merasa perlu untuk meyakinkan orang untuk memilihnya. Merasa perlu berkampanye. Hehehe.” Cak Narto terpingkal berurai air mata.

“Wah kalau gitu yang Sampean maksud, berarti analisisnya kejauhan, Cak. Analoginya juga ra mashok.” Ledek Solikin.

“Kejauhan gimana? Ra mashok gimana, Kin?” tanya Cak Narto sambil menyeka air mata.

“Okelah, aku setuju dengan analogi bahwa politisi ini mirip dengan pedagang. Tapi, ya masa pedagang nggak boleh beriklan dan politisi nggak boleh kampanye, Cak?” Solikin memprotes.

“Lho gimana sih, Kin. Maksudku kalau orang mau beriklan obat mencret, menurutku sih itu wajar saja. Tapi, mengiklankan kepemimpinan, itu adalah bentuk iklan asongan yang paling nggak mutu.”

“Lagian, Kin, mbok ya kalau mau beriklan itu yang empatik. Yang empan papan dan memperhatikan titimangsa, gitu.” Cak Narto terkekeh sekali lagi.

“Titimangsa apa, Cak?”

Cak Narto tidak lantas menjawab. Raut mukanya mendadak serius. Hangat angin siang itu membawa sejenis kesedihan padanya.

“Kalau ada rumah orang yang sedang kebakaran, tidak patut kamu jualan alat pemadam api kepadanya. Itu namanya nggak ada empati. Kalau orang sedang kelaparan, nggak boleh kamu jual sepotong roti kepadanya. Itu namanya nggak empan papan. Di saat rakyat sedang pontang-panting bertahan hidup, menyambung nyawa hari demi hari di tengah pandemi, jangan kamu malah kampanye. Itu namanya nggak ngerti titimangsa kapan harus bakulan. Kapan harus ngasong!”

Keadaan hening. Solikin enggan menimpali. Di ujung matanya berkelebat pemandangan seseorang yang sedang tersengal nafasnya. Mencoba bertahan hidup di bangsal-bangsal rumah sakit.

“Tapi, di baliho itu kan nggak ada kata-kata ‘ayo pilih saya, coblos nganunya, atau contreng itunya’, Cak. Itu bukan baliho kampanye, Cak. Hehehe.” Kanapi terkekeh, mencoba memecah suasana canggung.

“Itu namanya teknik soft selling, Mas Pi. nggak perlu pakai kata-kata persuasi ‘ayo pilih saya’ anak kecil juga tahu kalau dia sedang berdagang. Sedang kampanye.” jelas Solikin dengan istilah orang sekolahan.

Cak Narto mengangguk memberi afirmasi penjelasan Solikin. Tapi, kemudian Ia tertunduk dan menggeleng pelan, mengembuskan asap kreteknya beradu dengan permukaan tanah.

“Kenapa lagi sih, Cak. Mbok jangan semua-semua Sampean pikir terlalu dalam gitu. Hehehe.” Hibur Kanapi.

“Emang begini kondisinya di negara demokrasi yang adiluhung ini, Ndes…” Cak Narto tersenyum, “…pencapaian reformasi kita cuma sejauh ini. Ia telah melahirkan sebuah sistem yang menginjak-injak nalar. Telah menelurkan pemimpin-pemimpin yang nir-empati. Telah menghasilkan pola kepemimpinan yang pincang, buta, dan tuli secara bersamaan.”

Hening. Kalimat Cak Narto seolah keluar tanpa menginginkan balasan atau komentar.

“Terlepas dari itu semua kita tetap patut bersyukur, Ndes…” Cak Narto berdiri. Menepuk pantat, membersihkan rerumputan dari sana. “…dengan banyaknya baliho seperti ini, ekonomi keluarga Si Pardi jadi hidup lagi. Banyak pesanan baliho masuk di konveksinya.”

“Dan, pada akhirnya kalau musim pemilu sudah datang nanti, kita sudah tahu calon mana yang harus kita pilih. Calon mana yang punya empati. Calon mana yang suka nebeng prestasi atlet. Calon mana yang qualified.”

“Di antara semua orang itu, mana yang pantas dipilih nanti pas pemilu, Cak?” Tanya Kanapi.

“Mmmm… sudah tentu yang nggak ikut-ikutan masang baliho dan beriklan di masa-masa sulit seperti ini, Pi. Hehehe.”

***

Sejurus kemudian Pardi datang menghampiri mereka. Ia membawa satu nampan sukun goreng, seceret besar es tebu, dan beberapa bungkus rokok kretek.

Sekali lagi, hidup memberikan mereka pilihan untuk tetap tersenyum.

Angin hangat membawa cengkerama mereka berhamburan ke langit. Di seberang jalan para politisi itu ikut tersenyum. Sejenis pose senyum yang aneh. Terpampang pada baliho yang robek di beberapa bagiannya.

BACA JUGA Soal Negara Demokrasi, Semua Orang di Dunia Itu Norak! dan tulisan Suwatno lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: baliho politisiDemokrasiempatikampanyekolom cak nartoPemiluPojok Tubir Terminal
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

pilkada monarki incumbent keluarga dinasti politik mojok

Ikut Pilkada kok Nebeng Nama Besar Keluarga, Ora Mashok

28 Oktober 2020
Sebut Orang yang Copy Paste Ucapan Duka Cita Nggak Tulus, Itu Sotoy Namanya! terminal mojok.co

Sebut Orang yang Copy Paste Ucapan Duka Cita Nggak Tulus, Itu Sotoy Namanya!

11 Juli 2021
Perkara Croissant di Jakarta yang Tampak Lebih Mahal daripada di Australia terminal mojok.co

Perkara Croissant di Jakarta yang Tampak Lebih Mahal daripada di Australia

10 Juli 2021
DPR 'Pemburu Sunrise': Wakil Rakyat yang Nir-Empati dan Kita yang Pelupa terminal mojok.co

DPR ‘Pemburu Sunrise’: Wakil Rakyat yang Nir-Empati dan Kita yang Pelupa

29 Juni 2021
Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

13 November 2023
Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

22 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.