Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Curhatan Mahasiswa UAD Jogja ketika Pulang Kampung: Gedung Kampusnya Megah, tapi Orang-orang Tetep Aja Nggak Tau UAD Itu Apa dan di Mana

Muhammad Alfreda Daib Insan Labib oleh Muhammad Alfreda Daib Insan Labib
26 Juni 2025
A A
Curhatan Mahasiswa UAD Jogja ketika Pulang Kampung: Gedung Kampusnya Megah, tapi Orang-orang Tetep Aja Nggak Tau UAD Itu Apa dan di Mana

Curhatan Mahasiswa UAD Jogja ketika Pulang Kampung: Gedung Kampusnya Megah, tapi Orang-orang Tetep Aja Nggak Tau UAD Itu Apa dan di Mana

Share on FacebookShare on Twitter

Ada fakta pahit yang harus ditelan: tidak semua kampus di Jogja itu terkenal. Ya, saya sedang bicara tentang Universitas Ahmad Dahlan, atau biasa dikenal sebagai UAD, kampus di Jogja yang sebenernya lumayan familiar buat mahasiswa di Jogja, tapi tidak untuk orang luar Jogja.

Tulisan ini dilatarbelakangi dengan kisah curhatan teman saya, sebut saja Guntur, yang kuliah di UAD Jogja. Dia bercerita bahwa meskipun kampusnya relatif mewah nan megah dibanding kampus-kampus lain di Jogja, ternyata ia merasa kesulitan jika menjelaskan perihal kampusnya itu. Singkatnya, kampusnya nggak terkenal.

Menurutnya, ada dua alasan kenapa UAD sulit dipahami oleh masyarakat kampung.

Pertama, UAD belum lama naik daun

Kampus swasta mewah yang saat ini dikenal sebagai UAD sebetulnya sudah lama didirikan. Lembaga pendidikan yang dulunya merupakan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Yogyakarta ini telah berdiri sejak tahun 1960-an. Namun transformasi dan SK perubahan resmi dari IKIP menjadi UAD baru ada sejak 1994.

Pada awal masa berdirinya sampai 2015-an, UAD masih menjadi kampus yang biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang dikenal. Namun perubahan signifikan terjadi setelah dibangunnya kampus utama atau kampus empat UAD. Setelah selesainya pembangunan beberapa gedung mewah di kampus empat, UAD seakan-akan menjelma menjadi kampus swasta elit di Jogja yang patut dipertimbangkan.

Pamor UAD semakin naik ketika UAD meresmikan Fakultas Kedokteran tidak lama setelah kampus empat dibangun. Tentu saja hal ini menjadi “gengsi” tersendiri bagi seluruh elemen masyarakat UAD. Bagaimana tidak, stigma “hanya kampus-kampus elit yang punya fakultas kedokteran” bukankah sudah melekat kuat di masyarakat kita?

Meskipun UAD Jogja mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam sepuluh tahun terakhir, namun hal itu ternyata belum cukup menjadikan masyarakat kampungnya Guntur mengerti. Tidak sedikit dari bapak-bapak dan ibu-ibu kampungnya yang justru menanyakan. UAD itu di mana? sebelah mananya UGM? atau pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menggambarkan bahwa UAD belum se-terkenal itu.

Yah… begitu lah, entah bapak-bapak dan ibu-ibu kampungnya Guntur yang terlampau gaptek, atau memang karena nama UAD yang belum “sebesar” itu.

Baca Juga:

Saya Menyesal Telah Menganggap Kalau UAD Adalah Kampus Muhammadiyah yang Medioker

Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah

Kedua, kampus Muhammadiyah yang namanya tidak pakai “Muhammadiyah”

Bagi sebagian masyarakat, penamaan kampus di bawah naungan Organisasi Muhammadiyah dengan istilah “Universitas Muhammadiyah” sudahlah wajib adanya. Ini terjadi karena memang mayoritas kampus-kampus Muhammadiyah menggunakan istilah itu, seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan lain-lain.

Ternyata, perihal tidak adanya kata Muhammadiyah di nama kampus UAD menjadi tantangan tersendiri bagi Guntur. Saat ia bercerita kepada saya perihal keresahannya, ia berkata bahwa, “sudahlah UAD ini nggak dikenal, ngga ada kata Muhammadiyah-nya lagi. Angel, angel…”

Saat itu, Guntur menceritakan bahwa kalau mau menjelaskan UAD Jogja kepada masyarakat kampungnya ia perlu menyiapkan kesabaran yang ekstra. Saya ingat sekali ekspresi Guntur ketika mempraktikan percakapannya dengan salah satu ibu-bu di kampungnya. Kira-kira seperti ini percakapannya;

“Eh, Mas Guntur… Sudah lama tidak ketemu… saya denger-denger njenengan sekarang kuliah di Jogja ya mas. Kuliah di mana emangnya mas? di UGM ya?”

“Bukan, Bu, di kampus Islam.”

“Ooo… di UIN ya?”

“Bukan, Bu, di kampus Islam swasta.”

“Ooo… di UII ya?”

“Bukan bu, di kampus Islam swasta yang Muhammadiyah.”

“Ooo… berarti di UMY kan?”

“Bukan, Bu, di kampus Islam swasta Muhammadiyah yang satunya lagi, di UAD.”

“UAD kampus apa, Mas? Kok namanya nggak ada Muhammadiyah atau Islam-islamnya gitu.”

Bayangkan, berapa sabarnya Guntur setelah ditanya sedemikian banyak pertanyaan tetapi masih harus menjelaskan apa itu UAD Jogja.

Tantangan tersendiri bagi para akademisi, mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat UAD

Dari apa yang diceritakan Guntur kepada saya, Ada keyakinan tersendiri bahwa yang dialami Guntur hanyalah satu dari sekian banyak fenomena serupa yang dialami oleh ribuan mahasiswa UAD Jogja dan bahkan para alumninya. Dengan kondisi fasilitas UAD saat ini yang elit, tentu saja fenomena “besarnya bangunan kampus tidak menjamin nama besar kampus” menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh elemen keluarga besar UAD.

Sebagai teman yang baik, tentu saya memberi nasihat yang meskipun tidak bijak-bijak amat, tapi harapannya bisa sedikit menenangkan dan memotivasi Guntur. Tapi ya, motivasi saya tetap tak bisa mengubah UAD jadi lebih terkenal.

Jadi, sabar ya, Tur. 

Penulis: Muhammad Alfreda Daib Insan Labib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mahasiswa Double Degree di UGM dan Kampus Swasta, Tetap Bertahan Meski Asam Lambung Menyerang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2025 oleh

Tags: kampus di Jogjakampus muhammadiyahUAD Jogja
Muhammad Alfreda Daib Insan Labib

Muhammad Alfreda Daib Insan Labib

Alumni program Pesantren Kilat yang biasa diadakan saat bulan Ramadan

ArtikelTerkait

4 Pertanyaan yang Bikin Muak Mahasiswa UMY saking Sering Ditanyakan Mojok.co kampus muhammadiyah

7 Kampus Muhammadiyah Terbaik di Jawa, Salah Satunya di Magelang!

23 Juli 2025
7 hotel murah tak jauh dari Tuju Jogja kemiskinan di Jogja

Omong Kosong Peran Universitas dalam Mengentaskan Kemiskinan di Jogja

7 Februari 2023
5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Saya Menyesal Telah Menganggap Kalau UAD Adalah Kampus Muhammadiyah yang Medioker

22 September 2025
AMIKOM Yogyakarta 10 Fakta tentang Kampus IT Terbaik (Unsplash)

Amikom Jogja Memang Tak Gemerlap, tapi Kampus Tidak Perlu Ramai untuk Jadi Hebat

27 Juni 2025
5 Hal yang Terjadi Jika Sleman Meninggalkan Jogja (Unsplash)

Membayangkan Betapa Menderitanya Jogja Jika Sleman Menghilang Pergi, Inilah 5 Hal yang akan Terjadi

21 Maret 2025
5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

21 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

27 Januari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.