Cuma Orang Naif yang Bilang Jadi PSK Itu Gampang – Terminal Mojok

Cuma Orang Naif yang Bilang Jadi PSK Itu Gampang

Artikel

“Di dunia seperti ini (menjadi PSK), menstruasi saja adalah musibah.” Kata-kata itu masih membekas dalam benak saya. Dan pembicaraan sebelumnya telah mengubah sudut pandang saya terhadap salah satu pekerjaan paling tua sepanjang peradaban manusia.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, silakan lepaskan dahulu kacamata moral anda. Mari kita pahami PSK secara objektif sebagai sebuah pekerjaan. Oke, mylov?

Pekerja seks komersial (PSK) selalu menjadi olok-olok. Seperti yang terjadi pada aktris HH, olok-olok warganet subur di setiap kolom komentar media sosial. Dari sekadar mengolok-olok moral HH, sampai mencibir melacurkan diri sebagai pekerjaan paling enak. Dianggap mudah karena mereka berpikir PSK hanya bermodal rebahan. Mungkin yang komentar demikian adalah kaum rebahan yang merindukan insentif Kartu Prakerja.

Aslinya, menjadi PSK adalah pekerjaan berat. Pekerjaan yang menguras tenaga serta pikiran. Pekerjaan yang menuntut si pekerja menguasai banyak ilmu. Juga butuh ketahanan mental untuk menghadapi cibiran dari lingkungan. Kalau kalian menganggap pekerjaan PSK itu mudah, artinya kalian sudah tertipu video porno.

Narasumber saya adalah Miss Panda, sudah pasti bukan nama sebenarnya. Ia seorang single parent yang karena butuh makan, terpaksa jadi PSK. Karena kami sudah berkawan baik, ia sangat terbuka tentang pekerjaan ini. Dan saya pikir, kalian yang selama ini meremehkan PSK juga harus tahu.

Miss Panda bekerja selama 18 jam per hari, mulai pukul 12 siang sampai pukul 6 pagi hari berikutnya. Selama tenggat waktu tersebut ia memang tidak melayani konsumen terus-menerus. Namun, selama 18 jam itu ia harus siap sedia menjajakan diri. Selama 18 jam itu pula ia harus berpenampilan menarik, tetap terlihat segar dan ceria, tanpa menunjukkan perasaan sesungguhnya.

Baca Juga:  Risiko Tinggal di Kampung yang Dikelilingi Hotel, Tempat Karaoke, dan PSK

Menurutnya, jadi PSK artinya harus siap bersaing dengan PSK lain. Bahkan di dalam rumah bordil, kompetisi tetap ada dan kadang membuat Miss Panda tertekan. Misal, ketika merasa insecure melihat teman lain yang lebih pandai bersolek. Menghadapi konsumen juga bukan perkara mudah, harus pandai bersandiwara. Seandainya sedang sedih, ya jangan ditampakkan. Bad mood tidak boleh dibawa ke pekerjaan. Tidak ada demo, aksi di jalanan, apalagi petisi online. Semua harus dipendam dalam-dalam.

Menjadi PSK juga tidak hanya berjuang secara psikologis, bahkan harus mengubah siklus alami manusia. Seperti pada paragraf awal, menstruasi adalah bencana. Oleh karena selama menstruasi ia tidak dapat bekerja, datang bulan kadang disiasati dengan mengonsumsi obat “penghilang” menstruasi. Obat keras ini juga dapat dipakai sebagai obat penggugur kandungan. Ini sudah melampaui beratnya pekerjaan lain.

Tapi, beratnya pekerjaan yang sudah dipaparkan masih belum paripurna. Seorang PSK juga harus multitalenta. Pernyataan ini pernah disampaikan teman saya, Bintang Ladenava, pejuang hak perempuan sekaligus musisi. Di matanya, PSK adalah rangkuman dari banyak pekerjaan. Dari aktris, psikolog, penari, make-up artist, sampai olahragawan. Menjadi PSK berarti harus menguasai banyak kemampuan demi kepuasan konsumen. Lumrah jika CV mereka bisa lebih panjang dari pekerja lain.

Mungkin Anda berpikir, mengapa mau menjadi PSK jika beban kerjanya sangat tinggi? Ini akan sangat personal. Miss Panda sendiri tidak ingin menjadi PSK, namun didesak tuntutan ekonomi dan tak bisa mencari pekerjaan lain. Lagi pula, masuk ke dunia prostitusi seperti terjun ke dalam pasir isap. Jika sudah masuk, sulit lepas. Sudah dapat cap ini itu, dipandang membawa bencana pula. Ingin pekerjaan yang lebih “layak” juga mengalami kesulitan. Lalu ke mana lagi mereka harus pergi?

Baca Juga:  Kiat Memahami Perbedaan Solo, Surakarta, Solo Baru, dan Kartasura

BACA JUGA Kupu-kupu Malam dan Fakta-Fakta Lainnya dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.