Cover Lagu Orang Lain atau Lagumu Dicover Orang Lain?

Sebenarnya sejak kapan istilah cover lagu digunakan untuk menamai kegiatan membawakan lagu orang lain? Sepertinya tren ini mulai populer di era YouTube.

Artikel

Avatar

Sebenarnya sejak kapan istilah cover lagu digunakan untuk menamai kegiatan membawakan lagu orang lain? Dulu, aku cuma tahu cover itu adalah sebutan lain dari sampul buku, kaset, CD, VCD dan sejenisnya. Kalau dilihat-lihat sepertinya tren ini mulai populer di era YouTube. Soalnya, dulu aku tak pernah memberi nama apapun pada kegiatan menyanyikan lagu orang lain. Kalau kita bawakan lagu orang ya cuma membawakan aja tanpa peduli sebutannya apa.

Baiklah, aku tidak akan berlama-lama membahas tentang istilah cover. Karena aku juga belum tahu artinya apa. Nanti sama-sama kita cari di Google. Sekarang kita masuk ke core of the core.

Setahun belakangan aku sedikit anti dengan cover walau aku juga pernah meng-cover. Alasannya mungkin terdengar aneh, yaitu cover lagu zaman sekarang terlalu sempurna. Mengapa aku bilang terlalu sempurna, karena aku membandingkan dengan zaman dimana YouTube belum sebesar sekarang. Dulu ciri khas dari cover justru suasananya yang sangat live sehingga membuatnya terdengar berbeda dengan versi aslinya. Walau secara audio tak sebaik versi aslinya, justru daya tariknya terletak di ketidaksempurnaannya.

Bandingkan dengan tren cover zaman sekarang yang jika dilihat dengan seksama, sudah tidak ada bedanya dengan lagu baru yang digarap profesional. Dikerjakan di studio dengan video klip kualitas HD. Dan yang paling gila, vokalnya di-autotune. Semakin jauhlah dia dari ciri khas cover yang kukenal dulu.

Lagian garap cover kok serius-serius amat. Nggak sayang apa duit, tenaga dan waktu yang digunakan untuk membawakan lagu dari orang lain? Oh iya, justru meng-cover ini untuk mencari uang kok yhaaa. hehe.

Tidak ada yang salah dengan mencari uang. Semua orang perlu uang. Ada yang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari ada juga yang untuk memenuhi keinginan yang tak ada batasnya. Kalau tujuannya yang pertama, sebenarnya kalau kita mau berusaha dan berpasrah Tuhan pasti akan memberikan rezeki. Tapi jika tujuannya yang kedua, ya cocoklah memang meng-cover sebanyak-banyaknya menjadi pilihan yang menarik.

Baca Juga:  Surat Terbuka Untuk Tulisan Perkara Catcalling dan Tergantung Siapa Pelakunya: Memuji dan Catcalling itu Beda, Mz!

Bagiku pribadi, saat aku memilih untuk menyanyikan lagu orang lain dan mengunggahnya di media sosial, alasan pertama adalah aku menyukai lagu yang kunyanyikan. Alasan kedua mungkin untuk pamer-pamer suara untuk membuat teman-teman atau gebetan terkesan. Nah, pertanyaannya, para peng-cover zaman sekarang ini apakah mereka membawakan lagu yang mereka sukai atau suka nggak suka yang penting cover? Karena yang kita lihat dilapangan, para peng-cover ini akan meng-cover lagu apapun yang baru dirilis atau lagu yang lagi viral harap-harap bisa ikutan viral.

Mengapa aku membahas suka atau tidak suka pada lagu yang sedang dibawakan? Karena menyanyi itu kan sebaiknya dari hati. Kalau kita menyanyikan lagu yang sebenarnya tidak kita sukai, bagaimana mungkin lagu itu bisa kita bawakan dengan baik. Apalagi jika kita hanya sekedar pamer-pamer skill dan mengubah-ubah melodi lagu seenak kita. Bukannya makin indah malah ngerusak lagu orang.

Aku sering kesal melihat orang yang melakukan cover lagu favoritku dan mereka mengubah-ubah melodinya. Namun apa daya aku tak mungkin melarang karena itu hak mereka dan juga itu bukan laguku. Tapi yang membuatku paling kesal adalah saat orang-orang malah lebih suka pada versi cover-nya daripada versi aslinya. Ya selera memang tidak bisa diperdebatkan. Tapi sejauh ini hampir tidak pernah aku lebih suka pada versi cover dibanding versi asli. Dan kalaupun versi cover mungkin lebih sesuai selera kita, tidak ada alasan untuk merendahkan versi aslinya. Dan memang hanya sedikit orang yang peduli pada nilai dalam menilai sesuatu. Semoga tidak bingung. Ya, nilai dalam menilai sesuatu.

Bagiku, seburuk apapun kualitas dari versi asli, dia tetaplah yang terbaik. Karena lagu asli memiliki nilai yang tak dimiliki versi cover. Nilai-nilai itu ada pada proses kreatif pembuatan lagu itu. Versi cover mah enak, cuma meliuk-liukkan suara biar terdengar berbeda, atau membuat aransemen aneh-aneh untuk memberi suasana baru yang kadang-kadang malah melupakan esensi lagunya. Kadang-kadang para peng-cover bahkan tidak menganalisis lirik lagu yang sedang dibawakan. Padahal dalam pembuatan sebuah lagu, para musisi benar-benar memperhitungkan setiap nada dan pilihan warna suara untuk menginterpretasikan ide yang ingin mereka sampaikan. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan dedikasi yang besar untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang baik.

Baca Juga:  Melihat Ke-selow-an Kaesang sebagai Kunci Mendinginkan Panasnya Medsos

Lalu kembali ke pertanyaan pada judul, lebih pilih mana, cover lagu orang lain atau suatu saat lagumu yang dicover orang?

Aku pikir setiap musisi pasti lebih memilih lagunya yang dicover orang. Tapi mungkin ada yang bilang bahwa dia tidak berbakat jadi lebih memilih cover saja. Padahal sebenarnya tak ada orang yang terlahir berbakat menulis lagu, setiap orang berlatih sampai akhirnya bisa menghasilkan lagu yang bisa dinikmati banyak orang.

Akhir kata, aku tidak bermaksud merendahkan para pecinta cover. Walau bagaimanapun segala sesuatu pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Meskipun aku tidak suka dengan cover pasti banyak juga orang-orang yang menyukainya, bahkan mungkin lebih banyak yang menyukainya. Marilah kita tetap bermusik dan kalau bisa cobalah membuat lagu sendiri.

---
296 kali dilihat

5

Komentar

Comments are closed.