Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Cover Lagu Orang Lain atau Lagumu Dicover Orang Lain?

Plato Ginting oleh Plato Ginting
4 Juli 2019
A A
cover lagu

cover lagu

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya sejak kapan istilah cover lagu digunakan untuk menamai kegiatan membawakan lagu orang lain? Dulu, aku cuma tahu cover itu adalah sebutan lain dari sampul buku, kaset, CD, VCD dan sejenisnya. Kalau dilihat-lihat sepertinya tren ini mulai populer di era YouTube. Soalnya, dulu aku tak pernah memberi nama apapun pada kegiatan menyanyikan lagu orang lain. Kalau kita bawakan lagu orang ya cuma membawakan aja tanpa peduli sebutannya apa.

Baiklah, aku tidak akan berlama-lama membahas tentang istilah cover. Karena aku juga belum tahu artinya apa. Nanti sama-sama kita cari di Google. Sekarang kita masuk ke core of the core.

ADVERTISEMENT

Setahun belakangan aku sedikit anti dengan cover walau aku juga pernah meng-cover. Alasannya mungkin terdengar aneh, yaitu cover lagu zaman sekarang terlalu sempurna. Mengapa aku bilang terlalu sempurna, karena aku membandingkan dengan zaman dimana YouTube belum sebesar sekarang. Dulu ciri khas dari cover justru suasananya yang sangat live sehingga membuatnya terdengar berbeda dengan versi aslinya. Walau secara audio tak sebaik versi aslinya, justru daya tariknya terletak di ketidaksempurnaannya.

Bandingkan dengan tren cover zaman sekarang yang jika dilihat dengan seksama, sudah tidak ada bedanya dengan lagu baru yang digarap profesional. Dikerjakan di studio dengan video klip kualitas HD. Dan yang paling gila, vokalnya di-autotune. Semakin jauhlah dia dari ciri khas cover yang kukenal dulu.

Lagian garap cover kok serius-serius amat. Nggak sayang apa duit, tenaga dan waktu yang digunakan untuk membawakan lagu dari orang lain? Oh iya, justru meng-cover ini untuk mencari uang kok yhaaa. hehe.

Tidak ada yang salah dengan mencari uang. Semua orang perlu uang. Ada yang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari ada juga yang untuk memenuhi keinginan yang tak ada batasnya. Kalau tujuannya yang pertama, sebenarnya kalau kita mau berusaha dan berpasrah Tuhan pasti akan memberikan rezeki. Tapi jika tujuannya yang kedua, ya cocoklah memang meng-cover sebanyak-banyaknya menjadi pilihan yang menarik.

Bagiku pribadi, saat aku memilih untuk menyanyikan lagu orang lain dan mengunggahnya di media sosial, alasan pertama adalah aku menyukai lagu yang kunyanyikan. Alasan kedua mungkin untuk pamer-pamer suara untuk membuat teman-teman atau gebetan terkesan. Nah, pertanyaannya, para peng-cover zaman sekarang ini apakah mereka membawakan lagu yang mereka sukai atau suka nggak suka yang penting cover? Karena yang kita lihat dilapangan, para peng-cover ini akan meng-cover lagu apapun yang baru dirilis atau lagu yang lagi viral harap-harap bisa ikutan viral.

Mengapa aku membahas suka atau tidak suka pada lagu yang sedang dibawakan? Karena menyanyi itu kan sebaiknya dari hati. Kalau kita menyanyikan lagu yang sebenarnya tidak kita sukai, bagaimana mungkin lagu itu bisa kita bawakan dengan baik. Apalagi jika kita hanya sekedar pamer-pamer skill dan mengubah-ubah melodi lagu seenak kita. Bukannya makin indah malah ngerusak lagu orang.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Aku sering kesal melihat orang yang melakukan cover lagu favoritku dan mereka mengubah-ubah melodinya. Namun apa daya aku tak mungkin melarang karena itu hak mereka dan juga itu bukan laguku. Tapi yang membuatku paling kesal adalah saat orang-orang malah lebih suka pada versi cover-nya daripada versi aslinya. Ya selera memang tidak bisa diperdebatkan. Tapi sejauh ini hampir tidak pernah aku lebih suka pada versi cover dibanding versi asli. Dan kalaupun versi cover mungkin lebih sesuai selera kita, tidak ada alasan untuk merendahkan versi aslinya. Dan memang hanya sedikit orang yang peduli pada nilai dalam menilai sesuatu. Semoga tidak bingung. Ya, nilai dalam menilai sesuatu.

Bagiku, seburuk apapun kualitas dari versi asli, dia tetaplah yang terbaik. Karena lagu asli memiliki nilai yang tak dimiliki versi cover. Nilai-nilai itu ada pada proses kreatif pembuatan lagu itu. Versi cover mah enak, cuma meliuk-liukkan suara biar terdengar berbeda, atau membuat aransemen aneh-aneh untuk memberi suasana baru yang kadang-kadang malah melupakan esensi lagunya. Kadang-kadang para peng-cover bahkan tidak menganalisis lirik lagu yang sedang dibawakan. Padahal dalam pembuatan sebuah lagu, para musisi benar-benar memperhitungkan setiap nada dan pilihan warna suara untuk menginterpretasikan ide yang ingin mereka sampaikan. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan dedikasi yang besar untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang baik.

Lalu kembali ke pertanyaan pada judul, lebih pilih mana, cover lagu orang lain atau suatu saat lagumu yang dicover orang?

Aku pikir setiap musisi pasti lebih memilih lagunya yang dicover orang. Tapi mungkin ada yang bilang bahwa dia tidak berbakat jadi lebih memilih cover saja. Padahal sebenarnya tak ada orang yang terlahir berbakat menulis lagu, setiap orang berlatih sampai akhirnya bisa menghasilkan lagu yang bisa dinikmati banyak orang.

Akhir kata, aku tidak bermaksud merendahkan para pecinta cover. Walau bagaimanapun segala sesuatu pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Meskipun aku tidak suka dengan cover pasti banyak juga orang-orang yang menyukainya, bahkan mungkin lebih banyak yang menyukainya. Marilah kita tetap bermusik dan kalau bisa cobalah membuat lagu sendiri.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: cover laguMedia SosialYoutuber
Plato Ginting

Plato Ginting

Penyanyi dan penulis lagu yang sedang belajar komedi dan aktif membuat konten apa saja di sosial media. Pecinta malam.

ArtikelTerkait

Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia terminal mojok.co

Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia

14 Oktober 2020
20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

22 September 2023
konten mukbang

Alasan Nonton Mukbang: Bukan Hanya Makanannya Tetapi Juga Warnanya

2 September 2019
media sosial nama akun pakai nama anak itu ngeselin posting foto anak di media sosial mojok.co

Akun Medsos Pribadi Diganti Pakai Nama dan Foto Anak Itu Buat Apa sih?

1 April 2020
3 Tipikal Admin Media Sosial yang Bikin Mangkel terminal mojok.co

3 Tipikal Admin Media Sosial yang Bikin Mangkel

23 November 2020
kreator konten

Hati-hati di Internet dan Kehidupan Saat Ini, Jika Blunder Langsung Dijadikan Konten

4 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja Mojok.co

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja

29 Juni 2026
Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Udara Bersih, Hak Asasi yang Cuma Bisa Dirasakan Warga Depok Sebulan Sekali

28 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.