Citra Kritis HMI Memudar, Kini Fokus Mengejar Kekuasaan

Citra Kritis HMI Memudar, Kini Fokus Mengejar Kekuasaan

Citra Kritis HMI Memudar, Kini Fokus Mengejar Kekuasaan (Pixabay.com)

Dalam pusaran dinamika yang terjadi dalam lingkup kampus maupun di negara, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tentunya tidak asing lagi. Sebagai salah satu organisasi Mahasiswa terbesar, HMI telah menciptakan kader-kader dan banyak alumni HMI dari sabang-merauke.

Secara garis besar, HMI lahir tidak dalam ruang kosong. Ada sejarah dinamis mewarnai HMI dalam perjalanannya hingga saat ini, dan HMI telah memasuki usia yang semakin senja—5 Februari nanti, 77 tahun—dengan masalah-masalah internal yang semakin rumit.

Realitas HMI saat ini

Tak dapat menutup mata pada realitas, berkali-kali sumber daya dalam himpunan ini terkuras sia-sia karena periodisasi kepengurusan hanya menggonta-ganti kepemimpinan dan menambal-sulam keretakan organisasi. Hal ini membuat para kader begitu banyak menghabiskan kekuatan-kekuatan produktifnya untuk mengurus konflik struktural yang merembet dari cabang hingga komisariat.

Kesuksesan hanya diukur apabila ada seorang alumni yang mengisi posisi strategis kenegaraan. Tak dapat dimungkiri, dengan dalih bersilaturahmi terdapat suatu kepentingan yang disamarkan dan organisasi. Digunakan hanya sebagai instrumen untuk memenuhi hasrat individu-individu maupun segelintir orang di dalamnya.

Orientasi yang mengarah pada kekuasaan telah menyebabkan HMI dewasa ini mengalami degradasi. Baik dalam sistem pengkaderan maupun wacana dan tradisi pemikiran-pemikirannya. HMI tak lagi memberi pengaruh yang kuat dalam wacana kebangsaan, keumatan, dan terutama dinamika kemahasiswaan. Semua karena iklim yang mendukung kader untuk menjadi pejabat atau politisi.

Diiming-imingi ketenaran

Setiap tahunnya, minat mahasiswa baru untuk mengikuti pengkaderan telah menurun, karena pola yang digunakan masih sangat klasik. Ketika, akan menggelar basic training (LKI), maka pamflet-pamflet yang berisi gambar-gambar alumni HMI yang telah masuk dalam tubuh birokrasi dijadikan pemancing minat mahasiswa bergabung ke dalam organisasi. Dengan memanfaatkan citra alumni-alumni yang sudah tenar, kaya, dan berbantal kuasa.

Cara ini seakan-akan bikin tidak ada yang bisa dilakukan HMI untuk menarik minat selain iming-iming kekuasaan. Tak heran kalau dalam benak calon-calon kader, yang terlintas adalah HMI itu mampu menjamin masa depan. Terutama dapat membentuk mereka kelak menjadi tokoh. Kini perekrutan kader telah memprioritaskan bagaimana menambah kuantitas, bukan untuk menambah kualitas, terkesan organisasi ini telah menjadi ormas.

Daya kritis, seakan-akan tak lagi ada pada HMI. Mereka tak lagi menarik mahasiswa untuk menjadi pemikir seperti Munir, Nurcholish Madjid, dan tokoh lain yang punya daya pikir hebat. Jika cara seperti ini yang terus dilakukan, maka tentunya tujuan untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT, seakan hanya menjadi hal yang bersifat utopia semata.

Penulis: Anan Mujahid
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Alasan yang Bikin HMI Lebih Laku Dibanding PMII di Fakultas Say

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version