Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Cinta dan Benci Untuk Dokter Tirta Mandira Hudhi

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
31 Maret 2020
A A
Cinta dan Benci Untuk Dokter Tirta Mandira Hudhi

Cinta dan Benci Untuk Dokter Tirta Mandira Hudhi

Share on FacebookShare on Twitter

Saat ini dokter Tirta, seorang dokter yang juga pengusaha dan influencer, sedang sakit. Untungnya, bukan sakit corona. Saya bukan fans apalagi haters beliau. Tak kenal juga, karena itu tak sayang, dan tak punya urusan karena itu tak ada alasan membenci.

Tapi linimasa media sosial saya ramai sekali sampai bikin kepala saya pening karena di sana banyak sekali opini baik itu yang pro maupun yang kontra soal sepak terjang dokter muda yang eksentrik ini.

Meskipun tidak follow akun beliau, cuitan dan video dokter Tirta sering melintas di linimasa saya khususnya ketika ramai-ramai soal virus corona ini. Dari linimasa saya juga lah saya tahu kalau dokter Tirta pernah membeli masker bedah dari reseller dengan harga 420 juta (200 juta dari uang pribadi) dan dibagikan ke tenaga kesehatan di beberapa Rumah Sakit, menggalang dana untuk tambahan gizi tenaga kesehatan berupa telur rebus dan madu, berkeliling (di masjid, gereja, bahkan angkot) menyemprot disinfektan, kampanye ‘di rumah saja’, dan seterusnya. Singkatnya banyak sekali yang dilakukan dokter Tirta karena itu ada banyak cinta untuknya dari netizen.

Tapi ada satu hal yang bikin dia jadi sosok kontroversial: gayanya yang nge-gas bahkan sampai marah-marah kepada pejabat. Beberapa kali vide dia ngegas viral dibagikan terutama oleh mereka yang kecewa dengan pemerintah atau oleh pihak yang masih terpapar kekecewaan Pilpres di masa lalu dan berusaha memberi tekanan ke pemerintah terutama melalui media sosial.

Dari gaya nge-gas dan tembak sana sini inilah muncul ketidaksukaan dari pihak lainnya yang masih percaya dengan pemerintah dan oleh mereka yang mendukung Jokowi.

Saya bisa mengerti beberapa alasan orang yang berubah menjadi tidak suka padahal awalnya hanya terheran-heran saja. Banyak luka yang masih basah selama Pilpres 2014 dan 2019 karena strategi politik identitas terutama ras dan agama.

Dokter Tirta yang seorang mualaf dikabarkan berteman dengan Felix Siauw, seperti orang lain, saya yang awam berpikir koh Felix sebaiknya mondok ke pesantren atau nyimak ngaji Gus Baha supaya ilmu bertambah ketimbang asyik mengetik cuitan sampah. Afwan, hanya mengingatkan saja, Koh.

Kabar burung yang lain adalah dokter Tirta turut terlibat di program UKM Oke Oce. Tolong jangan salahkan burung karena ia hanya penyampai kabar.

Baca Juga:

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Dokter Tirta Benar, Presiden Jokowi Memang Nggak Mungkin Salah, apalagi Kena Sanksi

Intinya belakangan ini oleh sebagian orang, dokter Tirta dianggap sedang berpolitik praktis saat berkegiatan sebagai relawan.

Saya pemilih Jokowi, pendukung Ahok, dan salah satu dari rakyat Indonesia yang terheran-heran kenapa masih ada saja yang follow akun media sosial koh Felix, tapi saya tidak punya asumsi apa pun tentang dokter Tirta.

Siapalah saya butiran nutrisasi rasa jeruk di dasar gelas yang tak tersentuh adukan sendok dan diabaikan pula oleh sedotan. Satu-satunya pertanyaan yang terlintas adalah alasan apa yang membuat seseorang bisa punya energi sebesar itu untuk nge-gas padahal seharian jadi relawan. Apa pengaruh amygdala yang bekerja terlalu keras?

Pertanyaan ini terjawab di akun twitter dokter Tirta. Ternyata beliau sempat tertular TBC dari teman yang batuk di depannya sampai harus berobat selama 10 bulan dan sakit-sakitan seumur hidup. Gara-gara kondisi kesehatan ini juga beliau sempat menolak beasiswa untuk menjadi peneliti bahkan berhenti praktek sebagai dokter IGD hingga akhirnya memutuskan fokus pada bisnis dan menjadi influencer sebagai dokter edukasi.

Dokter Tirta tergerak untuk kembali ke “lapangan” setelah ada pandemi. Selain sering mendapat kabar dari teman sejawatnya, dosen yang dekat dengannya (dokter Iwan) meninggal dunia karena infeksi corona, di titik ini ia teringat percakapannya dengan dokter Iwan. Saya kutip plek saja,

“Jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri”.

Saya bisa memahami emosi yang jenisnya seperti itu dan bagaimana dampaknya pada diri seseorang. Lagipula bukan hanya dokter Tirta yang gemas saat mendengar kalimat, “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Ini menjadi kerja sama yang penting.”

Ucapan pejabat bukanlah sekedar slip of tongue yang biasa saja. Pernyataan tersebut menyiratkan persepsi dan sudut pandangnya yang bias kelas. Yang harus dikhawatirkan adalah membuat kebijakan yang berat sebelah dengan sudut pandang yang bias kelas tersebut.

Saya tahu betul rasanya lapar, saat merantau ke Depok untuk berkuliah sampai lembaran uang lima ribu satu-satunya yang saya punya menjadi sumber kegalauan–harus memilih beli nasi ke warteg atau nge-print tugas. Kondisi ini juga yang bikin saya rajin puasa daud bukan karena merasa salehah tapi ya emang tak punya uang. Jika pandemi ini terjadi belasan tahun lalu maka saya termasuk dari mereka yang masih sibuk beredar di jalanan Jakarta karena tak punya pilihan.

Selain berbagi informasi apa pun tentang pandemi, mengutuk pemerintah yang dinilai lamban, menyebarkan bukti budi baik parpol yang berbagi masker dan sembako, berdiam di rumah menolak berkerumun, traktir ojol, apa yang bisa dilakukan?

Yang pasti berbagi energi positif bisa diwujudkan dalam banyak hal untuk saling menguatkan. Bergotong-royong menghadapi pandemi, masalah ini adalah urusan kita semua, bukan hanya pemerintah. Perjalanan masih panjang. Siapkan energi yang cukup untuk bertahan.

Cinta dan benci adalah keniscayaan. Bukan sesuatu yang buruk, jika tak melukai siapapun. Ada kalimat menarik dari dokter Tirta di ILC (Indonesia Lawyer Club) tanggal 24 Maret 2020 sebagai pengingat untuk semua orang termasuk pemilik kalimat ini sendiri, demi kesehatan dan kebaikan kita bersama, “Sing wis, yo wis, legawa mawon.”

BACA JUGA Tolonglah, Menstruasi itu Cuma Siklus Bulanan, Nggak Ada Hubungannya Sama Dosa dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2022 oleh

Tags: dokter tirtaTirta Mandira Hudhi
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

1 Mei 2025
jrx mojok.co

Memprediksi Isi DM JRX Setelah Tirta Muncul di Holywings

16 Juni 2020
dokter tirta jokowi kerumunan protokol mojok

Dokter Tirta Benar, Presiden Jokowi Memang Nggak Mungkin Salah, apalagi Kena Sanksi

27 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.