Cinta dan Benci Untuk Dokter Tirta Mandira Hudhi

Dokter Tirta dicintai karena melakukan banyak hal untuk membantu menghadapi pandemi. Tapi ada juga yang membenci karena dianggap sedang berpolitik praktis.

Artikel

Aminah Sri Prabasari

Saat ini dokter Tirta, seorang dokter yang juga pengusaha dan influencer, sedang sakit. Untungnya, bukan sakit corona. Saya bukan fans apalagi haters beliau. Tak kenal juga, karena itu tak sayang, dan tak punya urusan karena itu tak ada alasan membenci.

Tapi linimasa media sosial saya ramai sekali sampai bikin kepala saya pening karena di sana banyak sekali opini baik itu yang pro maupun yang kontra soal sepak terjang dokter muda yang eksentrik ini.

Meskipun tidak follow akun beliau, cuitan dan video dokter Tirta sering melintas di linimasa saya khususnya ketika ramai-ramai soal virus corona ini. Dari linimasa saya juga lah saya tahu kalau dokter Tirta pernah membeli masker bedah dari reseller dengan harga 420 juta (200 juta dari uang pribadi) dan dibagikan ke tenaga kesehatan di beberapa Rumah Sakit, menggalang dana untuk tambahan gizi tenaga kesehatan berupa telur rebus dan madu, berkeliling (di masjid, gereja, bahkan angkot) menyemprot disinfektan, kampanye ‘di rumah saja’, dan seterusnya. Singkatnya banyak sekali yang dilakukan dokter Tirta karena itu ada banyak cinta untuknya dari netizen.

Tapi ada satu hal yang bikin dia jadi sosok kontroversial: gayanya yang nge-gas bahkan sampai marah-marah kepada pejabat. Beberapa kali vide dia ngegas viral dibagikan terutama oleh mereka yang kecewa dengan pemerintah atau oleh pihak yang masih terpapar kekecewaan Pilpres di masa lalu dan berusaha memberi tekanan ke pemerintah terutama melalui media sosial.

Dari gaya nge-gas dan tembak sana sini inilah muncul ketidaksukaan dari pihak lainnya yang masih percaya dengan pemerintah dan oleh mereka yang mendukung Jokowi.

Saya bisa mengerti beberapa alasan orang yang berubah menjadi tidak suka padahal awalnya hanya terheran-heran saja. Banyak luka yang masih basah selama Pilpres 2014 dan 2019 karena strategi politik identitas terutama ras dan agama.

Dokter Tirta yang seorang mualaf dikabarkan berteman dengan Felix Siauw, seperti orang lain, saya yang awam berpikir koh Felix sebaiknya mondok ke pesantren atau nyimak ngaji Gus Baha supaya ilmu bertambah ketimbang asyik mengetik cuitan sampah. Afwan, hanya mengingatkan saja, Koh.

Baca Juga:  Kemiripan #ReformasiDikorupsi dengan Revolusi Mei 1968

Kabar burung yang lain adalah dokter Tirta turut terlibat di program UKM Oke Oce. Tolong jangan salahkan burung karena ia hanya penyampai kabar.

Intinya belakangan ini oleh sebagian orang, dokter Tirta dianggap sedang berpolitik praktis saat berkegiatan sebagai relawan.

Saya pemilih Jokowi, pendukung Ahok, dan salah satu dari rakyat Indonesia yang terheran-heran kenapa masih ada saja yang follow akun media sosial koh Felix, tapi saya tidak punya asumsi apa pun tentang dokter Tirta.

Siapalah saya butiran nutrisasi rasa jeruk di dasar gelas yang tak tersentuh adukan sendok dan diabaikan pula oleh sedotan. Satu-satunya pertanyaan yang terlintas adalah alasan apa yang membuat seseorang bisa punya energi sebesar itu untuk nge-gas padahal seharian jadi relawan. Apa pengaruh amygdala yang bekerja terlalu keras?

Pertanyaan ini terjawab di akun twitter dokter Tirta. Ternyata beliau sempat tertular TBC dari teman yang batuk di depannya sampai harus berobat selama 10 bulan dan sakit-sakitan seumur hidup. Gara-gara kondisi kesehatan ini juga beliau sempat menolak beasiswa untuk menjadi peneliti bahkan berhenti praktek sebagai dokter IGD hingga akhirnya memutuskan fokus pada bisnis dan menjadi influencer sebagai dokter edukasi.

Dokter Tirta tergerak untuk kembali ke “lapangan” setelah ada pandemi. Selain sering mendapat kabar dari teman sejawatnya, dosen yang dekat dengannya (dokter Iwan) meninggal dunia karena infeksi corona, di titik ini ia teringat percakapannya dengan dokter Iwan. Saya kutip plek saja,

“Jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri”.

Saya bisa memahami emosi yang jenisnya seperti itu dan bagaimana dampaknya pada diri seseorang. Lagipula bukan hanya dokter Tirta yang gemas saat mendengar kalimat, “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Ini menjadi kerja sama yang penting.”

Baca Juga:  Let's Confuse Kids Nowadays dengan RPUL, RPAL, dan Kamus Peribahasa

Ucapan pejabat bukanlah sekedar slip of tongue yang biasa saja. Pernyataan tersebut menyiratkan persepsi dan sudut pandangnya yang bias kelas. Yang harus dikhawatirkan adalah membuat kebijakan yang berat sebelah dengan sudut pandang yang bias kelas tersebut.

Saya tahu betul rasanya lapar, saat merantau ke Depok untuk berkuliah sampai lembaran uang lima ribu satu-satunya yang saya punya menjadi sumber kegalauan–harus memilih beli nasi ke warteg atau nge-print tugas. Kondisi ini juga yang bikin saya rajin puasa daud bukan karena merasa salehah tapi ya emang tak punya uang. Jika pandemi ini terjadi belasan tahun lalu maka saya termasuk dari mereka yang masih sibuk beredar di jalanan Jakarta karena tak punya pilihan.

Selain berbagi informasi apa pun tentang pandemi, mengutuk pemerintah yang dinilai lamban, menyebarkan bukti budi baik parpol yang berbagi masker dan sembako, berdiam di rumah menolak berkerumun, traktir ojol, apa yang bisa dilakukan?

Yang pasti berbagi energi positif bisa diwujudkan dalam banyak hal untuk saling menguatkan. Bergotong-royong menghadapi pandemi, masalah ini adalah urusan kita semua, bukan hanya pemerintah. Perjalanan masih panjang. Siapkan energi yang cukup untuk bertahan.

Cinta dan benci adalah keniscayaan. Bukan sesuatu yang buruk, jika tak melukai siapapun. Ada kalimat menarik dari dokter Tirta di ILC (Indonesia Lawyer Club) tanggal 24 Maret 2020 sebagai pengingat untuk semua orang termasuk pemilik kalimat ini sendiri, demi kesehatan dan kebaikan kita bersama, “Sing wis, yo wis, legawa mawon.”

BACA JUGA Tolonglah, Menstruasi itu Cuma Siklus Bulanan, Nggak Ada Hubungannya Sama Dosa dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
30


Komentar

Comments are closed.