Informasi
ADVERTISEMENT

Cianjur Berduka: Hancur oleh Gempa, Dikubur oleh SARA dan Preman

Cianjur Berduka: Hancur oleh Gempa, Dikubur oleh SARA dan Preman

Masalah premanisme juga sama saja. Situasi serba genting, masih saja berpikir uang. Jika kita amati beberapa laporan relawan, pungli ini kemungkinan bukan dilakukan oleh korban. Atau korban yang tidak terdampak parah. Pungli ini tidak hanya merugikan relawan, tapi menghambat distribusi bantuan yang sangat dibutuhkan korban.

Saya tidak membenarkan, tapi penjarahan untuk kebutuhan bersama di beberapa bencana masih lebih logis. Lha ini bukannya untuk memenuhi kebutuhan bersama, tapi malah meraup keuntungan dari kesusahan orang lain. Saya pikir cuma influencer dan vlogger yang segoblok itu, dan ternyata saya salah.

Dampaknya sudah terlihat. Tidak hanya ribut di media sosial, yang jelas nggak penting itu. Tapi juga keputusan menarik diri dari beberapa kelompok relawan. Salah satunya IDN Grassroots yang terkenal independen dalam berbagai aksi kemanusiaan. Entah akan seperti apa penanganan pasca gempa Cianjur di beberapa waktu mendatang.

Inilah bukti bahwa warga Indonesia belum siap menghadapi bencana. Bukan hanya perkara bangunan anti-gempa, atau bunker anti-lahar panas, tapi perkara mental. Bencana adalah fase di mana seluruh urusan di luar bertahan hidup bisa ditinggalkan. Baik oleh korban, ataupun masyarakat lain termasuk relawan.

Bencana adalah fase untuk bertahan hidup sebagai komunal masyarakat. Siapa pun yang jadi korban, mereka jadi bagian dari komunal pasca-bencana. Siapa pun yang memberi bantuan, semua untuk bertahan hidup bagi komunal pasca-bencana. Sesederhana itu lho.

Padahal, sekali lagi, ini adalah logika dasar. Bahkan hewan saja bisa paham pentingnya bertahan hidup. Lha ini malah manusia yang katanya berakal malah kebanyakan ita-itu untuk survive. Urusan agama lah. Urusan politik lah. Urusan aji mumpung untuk mengeruk profit lah.

Wajar jika kita sebal karena hal ra mashok dalam bencana gempa Cianjur. Tapi, jangan sampai korban gempa jadi korban pungli dan politik identitas. Apalagi sampai berlanjut bahkan muncul di daerah lain. Karena Indonesia tidak akan bebas dari bencana. Dan bisa jadi, kita sedang menunggu giliran.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kok Ya Situ Tega Pungli untuk Pemakaman Jenazah Covid-19?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2022 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

Exit mobile version