Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bulak, Kecamatan yang Paling Patut Dikasihani di Surabaya

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
17 November 2025
A A
Bulak, Kecamatan yang Paling Patut Dikasihani di Surabaya Mojok.co

Bulak, Kecamatan yang Paling Patut Dikasihani di Surabaya (bulak.surabaya.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Kecamatan apa yang lebih kasihan dari Bulak Surabaya, coba?

Sore yang tenang di suatu hari di pesisir Surabaya. Saya berdiri di atas sebuah jembatan berukuran panjang sekitar 800-900 meter. Mata saya menatap dengan lekat ke arah laut, sambil sesekali tangan menyuapi jajanan ringan yang dibeli. Meski tenang, suasana di sekitar saya tetap ramai.

Para pedagang kecil yang tak hentinya bersuara, pejalan kaki yang berlalu-lalang, ada yang duduk sambil bercerita. Ada pula yang seperti saya, berdiri terdiam menikmati laut yang warna birunya mulai hilang berganti kecoklatan karena dihantam oleh limbah industri. Itulah jembatan Suroboyo. Sebuah jembatan ikonik yang jadi oasis bagi yang ingin menikmati rasa tenang di sore hari. Meninggalkan kebisingan di pusat kota Surabaya.

Tulisan saya ini tidak akan membahas jembatan Suroboyo, melainkan Kecamatan Bulak yang menjadi letak jembatan ini berdiri. Bulak merupakan kecamatan yang jadi manifestasi soal kerusakan, rasa sakit, penderitaan, dan kemalangan yang dipaksa tetap tampil cantik demi branding kawasan wisata.

Bulak Surabaya, daerah pesisir yang memprihatinkan

Kecamatan Bulak adalah salah satu daerah pesisir di Surabaya yang memprihatinkan. Mungkin orang lebih familiar dengan Kecamatan Kenjeran yang banyak masalahnya. Namun, sebenarnya, Kecamatan Bulak Surabaya nggak kalah miris. Kumuh yang berhadapan dengan jumlah penduduk yang meningkat tiap tahun sudah menjadi persoalan klasik yang tak kunjung selesai. 

Sementara, pada musim hujan, kecamatan ini harus berjibaku dengan ancaman banjir rob, penyakit musiman yang tak pernah menemukan solusi. Rob masuk ke rumah mereka, membanjiri dapur dan ruang tamu tanpa permisi. Di banyak rumah, tembok bagian bawah sudah berubah warna, garis kecoklatan tempat air pernah berhenti.

Potret aktivitas ekonomi di sana pun menunjukkan ironi. Para nelayan turun ke laut berburu ikan dengan kondisi laut yang sudah tak sehat. Setelah itu mereka harus dihadapkan pada harga ikan yang ditentukan oleh orang di pusat kota. Sementara di sisi lain, harga solar dan kebutuhan rumah tangga ditentukan Tuhan, pemerintah, dan inflasi.

Kalau diperhatikan, rumah-rumah di sana umumnya dibangun tidak berdasarkan desain kelayakan huni dan arsitektur ideal, tapi dari logika bertahan hidup. Papan bekas, tembok tambal-sulam, atap seng yang sudah lebih sering mendengar doa daripada ketukan tukang. Gang-gangnya sempit, saluran airnya kadang lebih mirip etalase sampah plastik daripada drainase. Anak-anak main bola di jalan yang, kalau hujan pasang naik, dalam hitungan menit bisa berubah jadi kolam dadakan.

Baca Juga:

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

Dirias jadi kawasan wisata

Gambaran itu memberikan cerita bahwa kemiskinan hadir bukan hanya dari pendapatan yang tak layak, tapi juga dalam potret kekumuhan. Kumuh di sini bukan sekadar kata sifat, tapi kombinasi dari penurunan kualitas hidup, sampah yang berbau tak sedap, dan minimnya ruang terbuka hijau yang inklusif. Adapun jembatan Suroboyo sudah dijajah oleh orang luar kecamatan yang butuh keindahan untuk dinikmati. Sementara Taman Hiburan Pantai Kenjeran (meski namanya Kenjeran letaknya di Kecamatan Bulak) telah dikomersialisasi.

Nelayan di Bulak Surabaya hidup di posisi yang serba sulit. Penghasilannya bergantung pada laut yang makin sulit diprediksi. Sementara, rumahnya berdiri di wilayah yang perlahan-lahan “dikembalikan” ke laut lewat rob.

Di atas semua persoalan itu, Bulak justru mendapat “peran” tambahan dari Pemkot, yaitu jadi kawasan wisata pesisir. Warga yang tersiksa karena kumuh, khawatir tentang bagaimana harus hidup besok, dipaksa tampil indah agar terlihat manis di feed Instagram para wisatawan.

Secara resmi, kawasan pesisir Bulak memang diposisikan sebagai daya tarik wisata utama Surabaya utara. Pantai Kenjeran (Lama dan Baru) disebut sebagai salah satu daya tarik wisata kota dalam kajian perancangan dan pengembangan wisata pesisir. Yang makin menambah ironi, meski letaknya di kecamatan Bulak, branding wisata yang disebarkan adalah Kenjeran yang merupakan tetangga kecamatan. Jadi terkenalnya bukan dengan identitas asli yaitu Bulak, tapi dengan menggunakan identitas lain. Kasihan betul daerah ini.

Kawasan yang dalam banyak kajian akademik dan berita dianggap sebagai pemukiman kumuh dengan tantangan ekosistem yang memprihatinkan, dirias menjadi kampung wisata pesisir. Pemkot mengembangkan promenade, mempercantik akses ke Sentra Ikan Bulak, dan menghubungkan semua itu dengan Jembatan Suroboyo sebagai koridor wisata.

Warga juga butuh perbaikan kualitas hidup

Sebenarnya semua itu sah-sah saja. Kota butuh ruang wisata yang bisa komersialkan ke publik. Tapi, patut diingat, bahwa warga setempat juga butuh pembenahan secara fundamental tentang kualitas hidup. Bukan hanya sesuatu yang terlihat dari kamera.

Di titik ini, Bulak benar-benar mirip tubuh seseorang yang dipaksa tampil rapi. Riasannyanya adalah mural dan lampu jembatan. Gaunnya adalah jargon “kampung wisata bahari”. Tapi di balik baju itu, dia mengidap “penyakit kronis” yaitu kemiskinan struktural, banjir rob, sanitasi buruk, dan ketidakpastian masa depan nelayan yang tersisih oleh perubahan ekonomi dan tata ruang.

Semua penyakit itu tidak pernah benar-benar ditangani. Paling-paling hanya ditutupi dengan kosmetik tipis bernana wisata pesisir. Tujuannya supaya ketika orang kota butuh tempat eksis, selalu ada wadah untuk selfie.

Penulis:  Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 November 2025 oleh

Tags: BulakBulak SurabayaKecamatan Bulakkecamatan di surabayaSurabayaSurabaya Utara
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

7 Fakta Surabaya yang Bikin Kota Lain Cuma Bisa Gigit Jari

7 Fakta Surabaya yang Bikin Kota Lain Cuma Bisa Gigit Jari

30 November 2025
6 Jalan Nggak Rata di Surabaya yang Paling Parah

6 Jalan Nggak Rata di Surabaya yang Sering Dikeluhkan Warga

5 Maret 2022
4 Tempat Wisata Malam di Surabaya yang Ramah Kantong

4 Tempat Wisata Malam di Surabaya yang Ramah Kantong

13 Juni 2022
Wisata Kolong Jembatan Suramadu, Potret Warga Surabaya yang Kurang Tempat Healing Mojok.co

Wisata Kolong Jembatan Suramadu, Bukti Warga Surabaya yang Kurang Tempat Healing

18 Desember 2023
Atlantis Land Surabaya: Tempat Wisata yang Pernah Jadi Primadona Itu Sekarang Merana Mojok.co

Atlantis Land Surabaya: Tempat Wisata yang Pernah Jadi Primadona Itu Sekarang Merana

11 Oktober 2024
Bangkalan Madura Adalah Korban Utama dari Jembatan Suramadu, Bukan Surabaya

Sebagai Warga Bangkalan Madura, Saya Setuju Suramadu Dirobohkan kalau Memang Meresahkan Warga Surabaya

6 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.