Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi salah satu kesempatan penting bagi siswa maupun mahasiswa untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Lewat PKL peserta bisa belajar skill baru hingga mengenal lingkungan kerja dan budaya profesional.
Dahulu saya dan teman-teman pun sempat ikut PKL. Kami datang dengan semangat menggebu, rasa ingin tahu yang besar, dan harapan memperoleh banyak pengalaman dari orang-orang yang telah lebih dahulu bekerja.
Akan tetapi, kenyataannya, karyawan atau pekerja di tempat kerja terlihat kurang peduli, sulit diajak berdiskusi, atau bahkan dianggap pelit ilmu. Ketika peserta PKL bertanya, terkadang jawaban yang diberikan singkat.
Saat ingin belajar lebih banyak, tidak jarang mereka justru diminta menunggu atau diarahkan untuk mencari informasi sendiri terlebih dahulu.
Jujur, situasi ini buat saya dan teman-teman PKL kikuk akhirnya hanya duduk diam dan datang setiap pagi, istirahat, pulang. Jarang ada banyak ilmu yang terserap. Kecewa tapi semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Saya kemudian paham setelah jadi karyawan
Setelah jadi karyawan atau pekerja saya paham betul mengapa karyawan tidak membagi pekerjaan kepada anak PKL. Karyawan bukan pelit ilmu tapi kita benar-benar nggak ada waktu.
Dunia kerja memiliki ritme yang berbeda dengan lingkungan sekolah atau kampus. Setiap pekerjaan memiliki target, tenggat waktu, tanggung jawab, serta beban pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu.
Bahkan, setiap pekerjaan yang datang banyak saya benar-benar harus fokus agar tepat, cermat dan cepat. Ketika fokus terbagi, risiko kesalahan menjadi lebih besar.
Sementara itu, jika harus membimbing anak PKL secara detail, waktu yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Menjelaskan alur pekerjaan, memberikan arahan, mengawasi proses, hingga memastikan bahwa setiap langkah dipahami membutuhkan waktu tambahan, sedangkan pekerjaan yang sedang berjalan sering kali tidak dapat menunggu.
Sebagai seorang staff, saya masih punya atasan yang seringkali mengomel ketika ada typo ataupun kesalahan kecil. Setahun bekerja tentu typo sekecil apapun harus diminimalisir. Oleh karena itu, saya lebih baik mengerjakan sendiri daripada menyuruh adik PKL lalu malah menyalahkan karena kesalahan kecil.
Peserta PKL tidak boleh diberi beban kerja berlebihan
Selain persoalan waktu, terdapat kebijakan perusahaan yang juga perlu diperhatikan peserta PKL. Tidak semua perusahaan memperbolehkan karyawan memberikan beban kerja besar kepada peserta PKL.
Hal ini dilakukan karena peserta PKL masih berada dalam tahap belajar, sehingga tanggung jawab utama mereka adalah memahami proses kerja, bukan menggantikan tugas karyawan secara penuh.
Fokus utamanya disini juga datang ketika anak PKL tidak dibayar untuk melakukan pekerjaan ini. Sehingga tidak diperbolehkan untuk memberikan pekerjaan berat. Jadi, ya itu yang bisa diberikan karyawan pada anak PKL hanya fotocopy, scan, merapikan file, dan pekerjaan ringan lainnya.
Ada data rahasia
Risiko pekerjaan juga menjadi pertimbangan yang penting. Beberapa pekerjaan berkaitan dengan data perusahaan, informasi pelanggan, laporan internal, maupun dokumen yang bersifat sensitif. Kesalahan kecil saja dapat menimbulkan dampak yang cukup besar.
Perusahaan tentu memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan informasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya kebocoran data. Oleh karena itu, tidak semua pekerjaan dapat diberikan atau diakses secara bebas, terutama kepada peserta PKL yang masih dalam proses pembelajaran.
Bagi saya, masa PKL yang relatif singkat juga menjadi masalah. Sebagian besar peserta PKL hanya menjalani program selama sekitar dua hingga tiga bulan. Waktu tersebut tentu terlalu singkat apabila harus mengajarkan seluruh proses pekerjaan dari awal hingga akhir secara mendalam.
Bahkan, untuk karyawan baru sekalipun, proses adaptasi dan pembelajaran dapat membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, mengajarkan seluruh proses kerja dari A sampai Z kepada peserta PKL dalam waktu singkat bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Jadi, bukannya pelit ilmu, karyawan terlihat ogah-ogahan bimbing PKL ya. Saya tahu, pada dasarnya ilmu tidak akan berkurang ketika dibagikan. Namun, kenyataannya di lapangan tidak sesederhana itu membimbing peserta PKL.
Penulis: Nurul Fauziah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
