Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bukan Joker: Seribu Kebaikan Dilupakan Hanya Karena Satu Keburukan

Lestahayu oleh Lestahayu
8 Oktober 2019
A A
keburukan

keburukan

Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah merasa menyesal telah berbuat banyak kebaikan, tetapi hanya karena satu keburukan yang bagi kita sangat sepele, semua hal baik itu seolah tak ada artinya? Pernahkah pula merasa kebaikan yang lebih gede dari gunung itu tidak dihargai oleh orang lain? Bila begitu, haruskah pensiun dini dalam berbuat baik, kemudian berniat untuk mengubah haluan—agar orang menghargai kebaikan-kebaikan yang sudah kita lakukan?

Saya mendadak tergelitik dengan beberapa tulisan yang akhir-akhir ini sering melintas di lini masa salah satu media sosial saya, yakni tentang kebaikan yang tidak dihargai atau dipandang sebelah mata, dan kiriman serupa lainnya. Mau bagaimanapun model kalimatnya, inti dari tulisan-tulisan itu adalah orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Mirip-mirip Joker lah yhaaa~

“Jika seseorang sering berbuat baik tetapi tidak dihargai, maka jangan tanya kenapa orang tersebut bisa berubah menjadi jahat.”

“Ketika perbuatan baik seseorang tidak pernah dihargai, jangan kaget saat sifat buruk seseorang akan muncul ke permukaan.”

“Kecewa itu saat terlalu sering berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi orang lain tidak menghargai.”

“Daripada jadi orang baik tapi nggak dihargai, mending jadi anak nakal lagi aja, ah.”

“Apa gunanya berbuat baik, kalau pada akhirnya tidak pernah dihargai dan hanya dipandang sebelah mata? Percuma, cuma bikin kecewa dan makan hati.” Hati ayam?

“Sikap saya bergantung pada Anda. Anda baik, saya bisa jauh lebih baik. Tapi kalau Anda jahat, saya bisa lebih jahat dari Anda.”

Baca Juga:

Jogja, Kota yang Keburukannya (Entah Kenapa) Selalu Dimaafkan

The Flash: Ketika Multiverse Sudah Mencapai Titik Jenuhnya

Yah, seperti yang di atas itulah beberapa contohnya. Hampir mirip fenomena Joker, kaaaan? Mungkin maksud mereka, mereka itu maunya berbuat seenak udel, tapi begitu tobat dan sekali saja berbuat baik ya langsung disembah.

Ya, memang tidak ada yang salah dengan kiriman-kiriman yang saya maksud. Itu hak mereka. Yang dicurahkan pun adalah isi hati mereka. Lagi pula, yang digunakan adalah akun media sosial dan paket data milik mereka. Mereka tidak pernah meminjam atau menodong dari saya. Jari yang digunakan untuk mengetik pun bukan punya saya. Saya hanya urun mripat untuk membaca.

Tapi jujur saja, tulisan-tulisan begitu mengingatkan saya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, beberapa tahun ke belakang. Dan setelah dipikir-pikir lagi, pemikiran semacam itu memang menjurusnya ke kalkulasi. Hitung-hitungan. Baiknya hanya pura-pura dan untuk pamer, dengan hasrat agar dilihat oleh orang-orang. Lalu, jatuhnya jadi tidak ikhlas. Serasa hanya mencari pengakuan dari sekitar supaya dianggap baik. Terkesan hanya cari muka. Padahal selama ini muka saya tidak pernah hilang, kenapa pula harus cari muka? Hehehehe. Sepertinya waktu itu saya memang sedang kurang kerjaan.

Semakin bertambah usia, saya semakin mengerti bahwa ternyata orang yang benar-benar baik justru tak pernah berharap memperoleh perlakuan yang sama ataupun meminta balasan dari orang lain. Ya sudah, berbuat baik ya berbuat baik aja, tanpa embel-embel apa-apa. Kalau berbuat baik dengan harapan agar mendapat balasan yang sama, itu namanya menjual harga diri. Kalau perbuatan baik pribadi pakai acara dipublikasikan segala, bukankah itu namanya sedang memfitnah diri sendiri. Eh?

Tapi bukan saya namanya kalau tidak tahu cara untuk membela diri. Eh?

Bisa saja, ya, bisa saja, waktu itu saya belum berpikir bahwa sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja itu sudah menjadi kodrat sebagai manusia. Bahwa sesungguhnya perbuatan baik itu ialah watak bawaan sejak masih bayi, atau bahkan fase jauh sebelumnya. Suatu hal yang sifatnya biasa-biasa saja. Tidak begitu istimewa. Bukan hal yang perlu diungkit-ungkit sebagai alasan untuk bersikap pamrih. Bukan sesuatu yang mahal serta mewah. Bukan sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang langka dan hampir punah. Bukan hal yang patut membuat saya menjadi congkak dengan merasa jauh lebih baik dari orang lain.

Justru memang akan aneh rasanya jika keadaan terbalik. Seribu keburukan dilupakan hanya karena satu kebaikan. Seolah-olah kebaikan adalah sebuah kosakata baru dalam kamus kehidupan manusia pada zaman yang serbamodern ini. Dianggap sangat luar biasa dan begitu istimewa sekaligus langka. Seolah-olah, kebaikan menjadi perbuatan yang sangat perlu untuk dipublikasikan, butuh pengakuan, serta harus diungkit secara terus menerus. Lah?

Itu ibarat cewek yang mengagumi seorang cowok yang punya hobi marah-marah, menghina orang,  suka bertindak seenaknya, omongannya kasar, pemabuk berat, dan hal-hal buruk semacamnya. Tetapi karena ganteng, semua keburukannya itu dimaklumi. Buset, dah.

Memang. Ada masanya seseorang harus melupakan seribu kebaikan dan mengingat satu keburukan, yaitu kebaikan dan keburukan kepada orang lain. Ada masanya pula seseorang harus melupakan seribu keburukan dan mengingat satu kebaikan, yaitu keburukan serta kebaikan dari dan oleh orang lain.

Tapi, kita ini kan manusia, ya. Punya keterbatasan dalam memahami hal-hal dasar semacam ini, bahkan ada yang sampai tertekan karena kurang sabar dalam mencari apa yang salah. Hanya karena sering terbalik dalam memaknainya. Juga cuma karena sering sekali salah tempat dalam menerapkannya.

Masih ada yang protes, “Tapi nyatanya orang emang lebih suka mengungkit keburukan orang lain dan mudah melupakan kebaikan orang lain.”

Kalau memang ada banyak orang yang sering mengungkit keburukan kita, anggap saja mereka adalah asisten yang mengambil alih tugas untuk mengingat keburukan kita, sekaligus penopang memori dalam otak yang makin penuh ini. Mari menghargai kebaikan mereka yang dengan sukarela menjadi asisten tanpa harus dibayar, meski mengorbankan banyak waktu dan tenaga. Kalau merasa tidak enak kemudian mau membalas dengan melakukan hal serupa, juga silakan. Itu hak asasi semua orang, kan? Kewajiban yang perlu dipenuhi pun sangat gampang: hanya harus menanggung capeknya saja.

Kalau masih ngotot agar kebaikan-kebaikan kita dihargai oleh orang lain, memangnya penghargaan semacam apa yang diinginkan dan diharapkan? Adakah urusan antara perbuatan tersebut dengan orang lain?

Sekian. (*)

BACA JUGA Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti: Joker Bukan Orang Baik, Stop Bermental Korban! atau tulisan Lestahayu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2019 oleh

Tags: batmanjokerkeburukanorang jahatreview film joker
Lestahayu

Lestahayu

Sebagian orang memanggil saya Hayu, tapi lebih banyak yang memanggil Septi. Pernah pacaran satu kali. Suka menulis cerita fiksi, makanya pengin jadi sahabat PUEBI dan KBBI.

ArtikelTerkait

joker vs joker

Joker VS Joker: Membandingkan Joker Rekaan Todd Phillips dengan Versi Tim Burton dan Nollan

7 Oktober 2019
film joker

Film Joker Ditujukan untuk Orang-Orang yang Minim Simpati

7 Oktober 2019
thomas wayne

Joker: Apakah Benar Arthur Fleck Adalah Anak Thomas Wayne?

14 Oktober 2019
The Flash: Ketika Multiverse Sudah Mencapai Titik Jenuhnya

The Flash: Ketika Multiverse Sudah Mencapai Titik Jenuhnya

15 Juni 2023
Mari Berandai-andai Jika Batman Jadi Santri Terminal Mojok

Mari Berandai-andai jika Batman Jadi Santri

12 Februari 2021
Ketika Babarsari Jadi Lokasi Syuting Film Joker

Ketika Babarsari Jadi Lokasi Syuting Film Joker

14 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper Mojok.co KA Feeder Whoosh

Sisi Gelap KA Feeder Whoosh, Fasilitas Gratis yang Bikin Penumpang Whoosh Merasa Miris

1 Maret 2026
PCX 160 Motor Mewah tapi Menyedihkan, Mending Beralih ke Lexi 155 yamaha lexi

Yamaha Lexi Kalian Anggap Produk Gagal dan Motor Paling Nanggung Cuma karena Bodinya Gede? Astaga, Jelek Betul Selera Kalian

2 Maret 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.