Bukan Hanya Kinder Joy! Musuh Baru Itu Bernama Cadbury Lickables – Terminal Mojok

Bukan Hanya Kinder Joy! Musuh Baru Itu Bernama Cadbury Lickables

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Wahai para bapak, ibu, om, dan tante sekalian, perlu waspadai Cadbury Lickables demi stabilitas keuangan hingga akhir bulan.

Suatu hari, seorang paklik yang baik dan pengertian, mengajak keponakannya ke sebuah toko untuk jajan. Paklik tersebut sudah menyiapkan diri sejak jauh-jauh hari dengan menganggarkan uang sebesar Rp50 ribu. Namun, selain untuk jajan keponakannya, uang tersebut sekalian ia gunakan untuk beli kopi beserta gas LPG tiga kilogram. Kebetulan, paklik tersebut adalah saya.

Mohon maaf, pandemi membuat keuangan nggak cukup oke. Oleh karena itu, setiap keuangan perlu diperhatikan matang-matang supaya langkah kecil menjadi paklik idaman terasa ringan dan betul-betul menyenangkan keponakan. Ketika mengajak keponakan jajan, dugaan saya, yang ia inginkan adalah es krim, cokelat, atau biskuit. Jadi, palingan uang Rp5 sudah cukup. Jadi kalau dikurangi gas Rp20 ribu dan kopi Rp20 ribu, masih ada sekitar Rp5 ribu untuk parkir dan mengisi jimpitan.

Untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, saya sudah mewanti-wanti keponakan saya untuk tidak membeli Kinder Joy. Dan ini selalu berhasil. Kinder Joy. Kinder Joy adalah musuh lama saya. Ia musuh lama penghasilan yang mepet dan bikin meteran listrik yang hobi bersiul. Beruntungnya, keponakan saya sudah tidak tertarik dengan Kinder Joy, si telur laknat itu. Meski tidak mudah, butuh waktu lama bagi saya untuk mencuci otaknya. Hahaha.

Awalnya, semua terlihat indah dan sempurna. Hingga tiba saat kami sampai di kasir, tempat di mana kulkas es krim dan rak coklat berada. Keponakan saya yang lucu itu, terlihat mengitari spot tersebut. Ia terlihat bingung memilih-milih sesuatu. Jeng, jeng, jeng! Mata saya terbelalak. Tampak sebuah tabung ungu yang bercahaya di rak tersebut. Jajanan jenis apa lagi ini? Dari bungkusnya yang  eksklusif, pasti harganya lebih dari Rp10 ribu. Cahayanya menarik jiwa dan hasrat balita yang saya bawa itu. Tangan bocah itu semakin mendekat, bungkus kopi saya usah mesrah. Firasat buruk pun datang.

Yak, Cadbury Dairy Milk Lickables, diraihnya. Sebuah nama yang lebih panjang dari Kinder Joy, begitu pula harganya. Terpaksa, kopi kegemaran itu saya korbankan. Saya elus-elus dulu bungkus kopi itu, sebelum akhirnya saya tinggalkan di rak toko itu: sendirian, kedinginan, seperti memaksa ikut ke rumah. Seolah ia rindu dengan air panas termos lima literan. Jan, Kinder Joy sudah aman, ganti si ungi yang bikin aaarrrggghhh ini.

“Kan, ini bukan Kinder Joy?” ucapnya dengan wajah yang sangat menggemaskan itu. Lantas saya jawab dengan anggun, “Iya, Sayang.”

Dengan senyum yang fake, saya belai rambutnya. Saya mudah luluh oleh rengekan para bocah, sialan bener. Saya tak pernah bilang tidak. Saya selalu menggunakan metode jadi orang sok bijak. Seolah memberi pilihan, tapi sebenarnya tengah memengaruhi pikiran anak itu. Supaya ia mengerti kalau pakliknya ini bukan Atta Halilintar dan dirinya bukan Rafathar.

Untuk sekali itu, saya izinkan. Kolo-kolo pikir saya. Ngempet ngopi seminggu tak ada salahnya yang penting keponakan saya senang.

Sayangnya, kejadian laknat itu terus berulang. Sampai pada titik saya sakau ngopi, sudah hampir sebulan saya nggak beli kopi. Satu buah Cadbury Lickables, sama dengan harga kopi bubuk lokal untuk persediaan seminggu lebih. Saya  masih memikirkan jalan keluarnya, sambil nongkrong dengan para bapak-bapak, baik yang seumuran dan yang mengaku seumuran.

Rupanya, kebanyakan bapak-bapak yang ada di tongkrongan itu merasakan hal yang sama. Jiwa UMR mereka bergejolak saat ngomongin Kinder Joy yang kini ketambahan tandem baru di rak kasir, si Cadbury Lickables. Bahkan, seorang dari kami ada yang ikut UMR Jogja. Melas tenan.

Bukan cuma ibu-ibu, mereka para pria juga merasa tertindas oleh Kinder Joy dan Cadbury Lickables laknat itu. Pun saya, seorang bujangan dan masih muda. Seorang dari kami bahkan sudah pasrah dan mengizinkan anaknya untuk beli Kinder Joy tiap ke toko. Tentu karena harganya masih lebih murah daripada si Cadbury Lickables.

Lantaran dua jajanan itu, seorang yang ada di tongkrongan sampai berhenti beli rokok, alias beralih ke tingwe (nglinting dewe), biar keuangan jadi irit.

Saya dan beberapa bujang di situ merasa lebih beruntung. Jajanan berhadiah dengan coklat seuprit itu, bisa dibilang menjadi tantangan rumah tangga masa depan. Tak pernah ada yang menyangka, jajanan sekecil itu bisa bikin semua orang jadi sambat. Melihat berbagai sambatan mereka, saya pun jadi lebih legowo soal Cadbury Lickables dan Kinder Joy. Saya masih aman, masih bejo. Memang kodratnya anak-anak begitu. Perut saya juga lebih sehat tanpa kopi, meski pikiran sering kalut di pagi hari.

Selalu ada sisi baik di setiap munculnya jajanan laknat jenis baru. Saya berharap kondisi finansial saya kembali aman sehingga bisa membelikan Cadbury Lickables tanpa tekanan batin lagi.

Mungkin, beli Cadbury Lickables tanpa takut kantong kering adalah sebuah tanda kehidupan yang makmur. Hingga tiba suatu hari, seorang keponakan yang lain juga datang ke rumah saya. Masak, saya cuma beli satu. Hmmm, ora ngopi pirang minggu iki, Lur?

Sumber Gambar: YouTube CadburyDairyMilkIn

BACA JUGA Halo IndoAlfa, Sebagai Ibu Rumah Tangga Saya Usul Pajang Kinder Joy di Tempat Kapur Barus Aja atau tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Baca Juga:  Membandingkan Jalan di Jogja, Surabaya, dan Wakatobi. Mana yang Lebih Mulus?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
12


Komentar

Comments are closed.