Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
25 Januari 2026
A A
Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini

Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, linimasa medsos ramai memperbincangkan satu hal yang kelihatannya sepele, tapi memantik perdebatan yang panjang. Yaitu soal Tempo Gelato yang hanya menerima pembayaran tunai. Ada yang kesal, ada yang merasa itu kuno, ada juga yang menganggap hal tersebut tidak ramah konsumen di era serba QR dan e-wallet. Pokoknya ramai. Sampai-sampai ada yang menduga kalau Tempo Gelato ini agen pencucian uang. Duh, netijen, netijen~

Harus diakui, sejak hadirnya QRIS, banyak orang mulai beralih dari transaksi tunai ke nontunai. Cashless dianggap lebih praktis dan aman karena kita tak perlu lagi membawa uang banyak di dompet, yang katanya bisa mengundang niat jahat.

Meski, kalau boleh jujur, sistem QRIS ini juga punya efek samping yang tak tertulis. Yaitu, bikin pengeluaran jadi lebih liar. Dikit-dikit scan, dikit-dikit scan. Bohong banget kalau ada yang bilang sengaja nggak bawa uang banyak di dompet biar nggak laper mata. Percuma. Nggak bakalan. Ending-nya ya tetep njajan terus, scan terus.

Balik soal Tempo Gelato yang hanya menerima pembayaran tunai. Saya yakin selain Tempo Gelato, banyak toko atau outlet lain yang hanya menerima pembayaran tunai. Kira-kira, kenapa ya mereka tidak menyediakan pembayaran cashless? Apa iya alasannya seperti apa yang didugakan oleh netijen? Untuk pencucian uang?

Baca juga: Rasanya Sangat Sedih ketika Nenek Saya Dituduh Nggak Mau Bayar Roti Terkenal karena Nggak Bisa Pakai QRIS.

Tidak semua pelanggan melek digital

Sebelum kita mengecap toko yang menolak pembayaran cashless sebagai agen pencucian uang, mari kita pahami dulu satu hal. Bahwa pembayaran cashless yang bagi kita mudah, normal dan kepenak ini, sebenarnya tidak bisa dirasakan merata oleh semua orang.

Tidak semua pelanggan terbiasa membuka aplikasi, scan QR, atau memastikan saldo e-wallet cukup sebelum beli sesuatu. Terutama, bagi orang tua, pelanggan dari daerah, atau mereka yang uangnya hanya cukup untuk hari itu saja.

Bagi mereka, uang itu ya yang nyata. Yang bisa dipegang, dihitung, dan disimpan di dompet. Sisi itulah yang coba untuk dipahami oleh toko yang hanya menerima pembayaran tunai. Pemilik toko ini agak-agaknya ingin agar semua orang tetap bisa dilayani tanpa merasa tertinggal.

Baca Juga:

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

Bayar tunai tidak tergantung pada sinyal

Salah satu alasan kenapa orang lebih memilih transaksi secara cashless adalah kerena kepraktisannya. Iya, sih, praktis. Asal, sinyalnya lancar terus. Masalahnya, hidup ini jarang sekali berada di jalur yang normal terus. Termasuk, transaksi cashless. QR bisa gagal, server bisa down, sinyal bisa ngilang, atau lebih klasik lagi: mati lampu.

Saya pernah berada dalam satu antrian yang sialnya, jadi lebih lama karena orang di depan saya mengalami kendala saat akan melakukan pembayaran cashless. Bete? Jelas.

Kasir yang bertugas saat itu saya yakin lebih-lebih bete dan cape. Buktinya, saya lihat beberapa kali dia ngretekin leher. Bisa jadi, itu bukan kali pertama pelanggan bermasalah dengan sinyal saat akan melakukan transaksi cashless di hari itu.

Nah, drama yang seperti itu, tidak akan terjadi saat transaksinya dilakukan dengan uang tunai. Tinggal hitung, serahkan, lalu kasih kembalian, selesai.

Menghindari biaya admin dan potongan

Alasan lain kenapa ada toko yang hanya menerima pembayaran tunai adalah untuk menghindari biaya admin. Sebagai pelanggan, kita mungkin asik-asik saja, scan sana scan sini. Tapi, dari perspektif pengusaha, pembayaran via aplikasi ini bisa mengurangi keuntungan mereka.

Pasalnya, di balik kemudahan pembayaran non-tunai, ada biaya atau potongan lain yang membuat uang masuk ke kas toko tidak lagi utuh. Bagi usaha kecil, potongan-potongan ini jelas akan terasa.

Itu sebabnya, daripada keuntungan berkurang untuk ngasih makan sistem, ya mending ngalai nggak usah terima pembayaran cashless. Tunai aja lebih kepenak. Semua uang masuk 100 persen ke kantong pemilik usaha.

Baca juga: QRIS Memang Memudahkan, tapi Pembayaran Tunai Tetap Sah dan Tidak Boleh Ditolak!

Uang tunai untuk biaya operasional

Bagi toko yang perputaran uangnya lambat, transaksi cashless jelas tidak menimbulkan banyak persoalan. Uang masuk hari ini bisa menunggu settlement besok atau lusa. Toh, kebutuhan operasionalnya tidak mendesak setiap jam. Sehingga, transaksi nontunai jadi pilihan yang paling masuk akal.

Sebaliknya, untuk toko dengan perputaran uang cepat dan kebutuhan operasional harian, pembayaran tunai jelas sangat dibutuhkan. Uang hasil jualan hari itu bisa langsung dipakai belanja bahan, bayar pegawai, atau menutup kebutuhan mendadak lainnya.

Kan repot juga kalau misal mau belanja tapi harus ditunda gara-gara nunggu uang cair. Bisa-bisa, besoknya nggak bisa jualan karena kekurangan bahan baku.

Dianggap belum perlu

Terakhir, alasan toko masih menerima pembayaran tunai adalah menyesuaikan dengan karakteristik pelanggan di tokonya. Bisa jadi, mayoritas pelanggan di tokonya adalah orang-orang yang transaksinya kecil-kecil.

Mungkin sekadar mampir beli garam, air mineral, korek, dll. Atau, bisa juga kebanyakan pelanggannya adalah bocil-bocil tukang jajan makanan ringan. Jadi, transaksi cashless masih dianggap belum perlu di tokonya.

Kan wagu juga ya, misal kita ke warung, cuma mau beli Autan 2000 perak trus kudu ngeluarin HP dulu, scan sidik jadi dulu, buka aplikasi dulu, masukkan password dulu… Halah, kesuwen. Trus, nggak mungkin juga bocil mau beli permen jempol disuruh bayar pakai QRIS. Bisa-bisa malah pada kabur pembeli di toko tersebut.

Pada akhirnya, agak kejauhan kalau kita berpikir bahwa semua toko yang tidak menerapkan pembayaran cashless ini sebagai agen pencucian uang. Bisa jadi alasan sesungguhnya ya yang sudah disebutkan di atas. Mulai dari kesadaran bahwa tidak semua orang melek digital hingga transaksi cashless yang dianggap belum perlu karena tidak cocok dengan karakteristik pelanggan.

Kalau kamu bagaimana? Lebih suka transaksi cashless atau yang tunai-tunai aja?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Januari 2026 oleh

Tags: cashcashlessdompet digitalpembayaran QRISpembayaran tunaiQRISsaldo e-wallettunaiuang tunai
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

3 Hal Merepotkan di Balik Pembayaran QRIS yang Nggak Disadari Banyak Orang Mojok.co

3 Hal Merepotkan di Balik Pembayaran QRIS yang Nggak Disadari Banyak Orang

20 Juni 2024
Mahasiswa Masih Nungguin Uang Kiriman dari Orang Tua Aja Sok-sokan Punya Paylater, buat Apa?

Mahasiswa Masih Nungguin Uang Kiriman dari Orang Tua Aja Sok-sokan Punya Paylater, buat Apa?

24 Oktober 2023
6 Hal yang Perlu Disiapkan Warga Kabupaten yang Berencana ke Jakarta Mojok.co

6 Hal Perlu Disiapkan Warga Kabupaten yang Berencana ke Jakarta agar Tidak Kerepotan

2 Desember 2023
cashless society

Indonesia Menuju Cashless Society

18 September 2019
Tukang Parkir Surabaya Bikin Iri Daerah Lain, Sistemnya Canggih dan Lebih Jujur Mojok.co

Tukang Parkir Surabaya Bikin Iri Daerah Lain, Sistemnya Canggih dan Lebih Jujur

17 Januari 2024
Penipuan Pembayaran Melalui QRIS Semakin Banyak, Kenali Modus dan Pencegahannya

Penipuan Pembayaran Melalui QRIS Semakin Banyak, Kenali Modus dan Pencegahannya

23 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua Mojok.co

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua

8 Maret 2026
4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut Terminal

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

10 Maret 2026
Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

11 Maret 2026
Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Tidak Pernah Mengecewakan Mojok.co

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

11 Maret 2026
THR Ludes Sebelum Hari Raya Bukan Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah Mojok.co

THR Ludes Sebelum Hari Raya Tidak Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah

9 Maret 2026
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita
  • Honda Brio Mobil Aneh, tapi Memberi Kebanggan ketika Menjadi Mobil Pertama bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan
  • Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang
  • Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga
  • Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan
  • Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.