Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Budaya Memanggil Gelar itu Sudah Final, Prof. Ariel Heryanto!

Fitra Aidil Akbar Siadari oleh Fitra Aidil Akbar Siadari
4 Oktober 2020
A A
Budaya Memanggil Gelar itu Sudah Final, Prof. Ariel Heryanto! terminal mojok.co

Budaya Memanggil Gelar itu Sudah Final, Prof. Ariel Heryanto! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, Ariel Heryanto menulis status di Facebooknya, “Di dua universitas Australia aku diangkat jadi professor. Di negeri itu ga ada yang nyapa ‘prof’ di luar (up)acara resmi. Di kampus para mahasiswa, panggil aku “Hai, Ariel”. Tapi temen2 Indonesia umumnya nyapa aku ‘prof’. Juga di berbagai forum tak resmi, termasuk medsos. Iih, geli. Kayak ada yang mengkili-kili ketiak”.

Rupanya selama ini, dalam kesehariannya dosen di Monash University, Melbourne, Australia itu memang risih dipanggil dengan gelar akademik yang diperolehnya. Di Negeri Kanguru itu, pemanggilan orang dengan gelar, agaknya menjadi sesuatu yang ganjil.

Lalu saya menyisir kolom komentar. Banyak yang menyetujui pandangan kolumnis tersebut. Kesepahaman mereka ini seperti menunjukkan bahwa mereka juga tinggal di luar negeri yang budayanya mirip atau mereka punya pengalaman yang sama kendati mereka warga negara Indonesia.

Coba kita comot satu contoh kalimat, “Di kampus para mahasiswa, panggil aku ‘Hai, Ariel’”. Silakan kalimat ini diimajinasikan. Dilontarkan di salah satu kampus di Indonesia oleh seorang mahasiswa kepada dosennya yang juga menyandang guru besar, ditambah dengan dua gelar profesor dari luar negeri.

Katakanlah ada seorang guru besar di kampus Anda, namanya Profesor Wahyu. Ia berpapasan dengan sekumpulan mahasiswa yang sedang asyik bercengkerama di taman kampus. Lalu para mahasiswa ini menyapa “Hai, Wahyu, apa kabar?”. Lihat, apakah rasanya masih sama dengan yang disebut Ariel Heryanto tadi? Tentu tidak. Syukur-syukur kumpulan mahasiswa itu tak ditempeleng. Guru besar gitu lho.

Saya tak hendak menggugat keadaan di Australia, toh memang begitulah budayanya. Sudah pakem. Bukan sesuatu yang mengejutkan seperti gegar budaya bagi saya. Sebab di film-film ber-setting Amerika atau Australia, tak jarang diperlihatkan bagaimana seorang bocah mengucapkan selamat pagi ke tetangganya yang sudah kakek-kakek dengan panggilan namanya saja.

Awalnya pada titik skeptisme tertentu, saya sampai mempertanyakan, kenapa budaya memanggil orang di Australia tak ada embel-embel gelar? Gelar apapun. Baik gelar itu didapat gara-gara sebuah jabatan di pemerintahan, pekerjaan, atau status di keagamaan misalnya.

Jangan-jangan pemanggilan gelar-gelar ini adalah warisan budaya kerajaan? Ingat bagaimana sebuah gelar “Sir” di Inggris? Sebuah gelar yang diberikan oleh kerajaan kepada seseorang karena sebuah jasa yang bersama gelar itu melekat tanda kehormatan. Misalkan gelar Sir yang disandang oleh fisikawan Isaac Newton atau mantan pelatih Manchester United Alex Ferguson. Lalu datanglah raja menobatkannya dengan segala bentuk seremonial, simbol, norma-norma kesopanan.

Baca Juga:

Motivasi Orang Cantumin Gelar Akademik di Medsos Itu Apa sih?

Metamorfosis Nama Panggilan Orang Bima Abadi sampai Mati. Terminal Mulok #03

Tradisi-tradisi semacam inilah yang tidak ada di Negara Benua seperti yang digelikan oleh Ariel Heryanto itu. Kita sama-sama tahu, Australia bukanlah negara kerajaan. Mereka membentuk negara itu dengan spirit orang-orang buangan yang terhukum. Jadi, tidak ada jejak-jejak budaya feodal di sana. Meskipun, dulu nenek moyang mereka berasal dari Inggris.

Di tanah air pun pemanggilan gelar-gelar pada orang ini hampir dapat kita temukan di seluruh daerah. Bisa jadi, ini warisan feodal dari kerajaan-kerajaan yang berdiri di tiap wilayah Nusantara. Meski ada perubahan dengan yang sekarang, namun tetap saja nama orang selalu disematkan embel-embel gelar.

Kita tidak mungkin memberlakukan keadaan layaknya Australia di sini. Memanggil orang tanpa gelar penghormatan, terlebih orang itu memang sudah “punya”, seperti ada yang kurang oke. Bahkan cenderung menabrak norma umum. Memang seperti itulah adanya budaya kita. Tak perlu ada gugatan lagi.

Contoh saja pada tatanan adat misalnya. Laki-laki pada orang Minangkabau, setelah menikah akan dipanggil gelar Sutan. Sebuah gelar yang diberikan sebagai bentuk penghormatan. Atau pada orang Batak yang kasusnya mirip. Pemanggilan berubah demi untuk penghormatan.

Bagi orang batak yang sudah menikah, terlebih sudah punya anak, pemanggilan namanya sudah tidak berlaku lagi karena dianggap tidak sopan. Sekalipun yang memanggil orang tua bahkan pasangannya sendiri. Tak boleh itu. Nama panggilan akan berubah menjadi anak.

Misalkan namanya Tigor punya anak bernama Rinto. Maka Tigor hanya boleh dipanggil “Pak Rinto”. Begitupun nanti jika Rinto telah menikah dan punya anak. Katakanlah nama anaknya Luhut. Maka Tigor akan berubah panggilan lagi menjadi “Oppung Luhut”, dan Rinto berubah menjadi “Pak Luhut”. Betapa pun saat ini ada menteri bernama Luhut, tapi dipanggil Oppung Luhut, orang-orang Batak atau yang mengerti akan memakluminya. Lha iya dong, kalau mau memanggil gelar Oppung kepada Luhut Binsar Panjaitan, harus pakai nama cucunya yang paling besar.

Saya juga pernah kagok setelah tahu bahwa “Cak” adalah panggilan di Jawa Timur yang maknanya setara dengan “Mas”. Sebab sebelumnya saya memanggil seorang kawan dari Malang dengan sebutan Mas Cak Yudi. Saya menyangka “Cak” adalah bagian namanya, bukan gelar panggilan.

Dari sekian contoh daerah-daerah yang saya paparkan saja, sudah mengesankan betapa kelunya lidah orang Indonesia memanggil orang tanpa gelar. Apa yang “menggelitik ketiak” Ariel Heryanto tadi saya anggap, ya, kurang pas saja. Aantara budaya Australia dan Indonesia perihal pemanggilan gelar ini memang kutubnya sudah berlawanan. Lingkungan Australia lebih plong saja. Kurang lebih seperti Amerika. Nama, ya untuk dipanggil, bukan untuk dipugar-pugar dengan sejumlah embel-embel gelar akademik, sosial, agama. Apalagi Ariel Heryanto ini orang Indonesia, lahir dan besar di Indonesia. Hal itu yang bikin makin tidak pas.

Nah, coba bayangkan kejadiannya di Indonesia. Siapa di sini yang sanggup dengan serampangan memanggil seorang profesor cukup dengan nama? Atau ada yang masih ingat nggak, ada capres belum jadi presiden sudah dipanggil “siap presiden!”? Mana ada yang merasa ketiaknya dikili-kili kayak yang dibilang Prof. Ariel Heryanto itu.

BACA JUGA Buanglah Khayalan Romantis Pernikahan kalau Masih Serumah dengan Mertua dan tulisan Fitra Aidil Akbar Siadari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2020 oleh

Tags: gelar akademiknama panggilan
Fitra Aidil Akbar Siadari

Fitra Aidil Akbar Siadari

Penyuka lembah, bermukim di Kepulauan Riau.

ArtikelTerkait

Motivasi Orang Cantumin Gelar Akademik di Medsos Itu Apa sih?

Motivasi Orang Cantumin Gelar Akademik di Medsos Itu Apa sih?

10 Agustus 2022
3 Panggilan Akrab yang Jarang Kamu Dengar di Jawa Timur Terminal Mojok

3 Panggilan Akrab yang Jarang Kamu Dengar di Jawa Timur

10 Januari 2021
Metamorfosis Nama Panggilan Orang Bima Abadi sampai Mati. Terminal Mulok #03 mojok.co/terminal

Metamorfosis Nama Panggilan Orang Bima Abadi sampai Mati. Terminal Mulok #03

16 Maret 2021
Tempat Duduk Saat Tahlilan Bisa Digunakan untuk Memetakan Status Sosial Seseorang terminal mojok.co

Kenapa Tidak Ada Orang dengan Gelar Habib di Muhammadiyah?

23 November 2020
Betapa Naifnya Orang yang Maksa Kuliah S-2 Cuma Buat Jadi Pelarian

Sudah Saatnya Menghilangkan Nilai Akademis sebagai Syarat Beasiswa

30 Oktober 2020
gelar akademik di undangan pernikahan

PD Saja Kalau Mau Pasang Gelar Akademik di Undangan Pernikahan

16 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

19 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.