Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Budaya Kita Bukan Tertib, tapi ‘Mumpung Belom…’

Raflidila Azhar oleh Raflidila Azhar
17 September 2020
A A
senjata biologis VOC jakarta mojok mumpung belum

senjata biologis VOC jakarta mojok mumpung belum

Share on FacebookShare on Twitter

Senin ini, DKI Jakarta kabarnya melakukan PSBB total. Tentu keputusan ini, bagi sebagian orang, terasa berat karena bisa “menggoyang” pekerjaan mereka. Dan juga, mungkin DKI Jakarta akan sama seperti awal-awal Maret dulu. Jalanan lengang, sepi, kualitas udara meningkat.

Keputusan ini tentu memancing polemik. Pemerintah pusat yang seakan “dicuekin” oleh pemprov melancarkan protes, isu mempengaruhi IHSG, tentangan dari kota-kota tetangga, dan goyangan terhadap ekonomi nasional adalah polemik yang harus dihadapi.

Namun, saya tidak akan membahas hal tersebut. Pertama, saya sudah muak melihat polemik-polemik “balapan” antara pusat-pemprov atau kebalikannya. Kedua, PSBB atau tidak, beberapa oknum masyarakat yang masih “genit” dalam menerapkan PSBB ini masih menyebar di penjuru-penjuru daerah yang, bisa jadi, menjadi dinamit bagi masyarakat lain dalam menyebarkan “kegenitan” ini.

Genit yang saya maksudkan adalah, salah satunya, adalah tindakan melanggar PSBB keluyuran tanpa ada alasan jelas seperti bekerja, dinas, atau yang sifatnya penting. Dan parahnya, mereka bahkan liburan ke daerah-daerah wisata ke kota-kota satelit dan daerah di luar Jakarta. Padahal, salah satu tujuan PSBB adalah membatasi dan memutus mata rantai progres penyebaran Covid itu sendiri.

Contoh konkretnya begini. Senin ini akan dilakukan PSBB, pengumumannya Jumat kemarin, lalu “Berarti, hari Senin kita udah nggak bisa ke mana-mana dong” akan menjadi kalimat yang familiar di hari ketika pengumuman PSBB disiarkan. Masih ada jeda di hari Sabtu dan Minggu, dan di kedua hari itu pembaca akan langsung mengerti apa yang dilakukan orang-orang yang menggunakan kata tersebut.

“Mumpung belum mulai PSBB-nya, ayok jalan-jalan dulu” atau “mumpung malming nih, senin udah PSBB, kuy lah ngumpul” atau kalimat-kalimat lain yang memiliki makna yang sama. Hasilnya, ada kemungkinan di kedua hari tersebut akan terdapat kenaikan pengendara menuju keluar Jakarta atau pada Sabtu-Minggu orang-orang akan tetap berlalu-lalang di sekitaran Jakarta.

Padahal diumumkannya jadwal dilaksanakan PSBB agar menjadi rujukan untuk tidak sama sekali keluar rumah. Begini, pengumuman ini harusnya memiliki efek tidak langsung pada kehendak orang-orang untuk keluar tanpa keperluan, alias cuman jalan-jalan. Efek tidak langsung yang saya maksud ialah pengumuman PSBB ini sebagai lampu kuning sebelum menuju lampu merah, yakni PSBB itu sendiri.

“Kegenitan” itu tidak hanya terjadi saat ini. Kerap kali, pun pembaca mungkin juga pernah bertemu model “kegenitan” begini. Waktu sebelum dilarangnya sesuatu akan digunakan semaksimal mungkin melakukan hal-hal yang nanti akan dilarang. Dalihnya seperti di atas, “mumpung belum dilarang” atau “mumpung masih boleh” atau mumpung-mumpung yang lainnya.

Baca Juga:

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

Disadari atau tidak, mungkin budaya kita adalah memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Mungkin jargon-jargon ini didapat dari seminar-seminar entrepreneurship dan bisnis yang acap kali menggunakan pita suara berlebihan. Iya, seminar yang sering teriak-teriak untuk membangkitkan semangat itu.

Mungkin, di satu sisi, itu baik. Memanfaatkan kesempatan sekecil mungkin itu baik loh ya. Tapi kalo jargon itu digunakan saat corona begini, aduh, mending jangan deh. Bagi yang tidak urgent ya di rumah aja. Nggak semua kesempatan kudu wajib diambil kok.

Mumpung belum PSBB itu ya baiknya dipakai buat beli persediaan makanan atau kebutuhan rumah tangga yang lain. Kalau PSBB kan bakal banyak rumah makan tutup, kalau kalian nggak pake waktu senggang sebelum PSBB itu buat beli persediaan, terus kalian mau makan apa? Emang liburan bikin kenyang? Emang Insta story rasanya gurih?

Lagian kalau nggak liburan ngapa sih? Mati? Kan nggak juga. Suka atau tidak, PSBB ini punya niat yang bagus. Virus kan belum jelas nih vaksinnya, daripada ketularan konyol gara-gara liburan, mending di rumah dulu aja. Heran saya, asli.

Katakanlah kalau kalian nekat liburan karena mumpung belum PSBB, dan di jalan kalian malah menemui kemacetan. Bukannya bahagia, malah bete karena kena macet. Waktu yang dipakai buat istirahat malah habis buat marah-marah. Coba kalau di rumah aja, beres.

Sebaiknya kita tahan dulu keinginan kita untuk melakukan hal-hal yang kita (pikir) kita inginkan, dahulukan keselamatan. Mumpung PSBB, mending kita habiskan dengan bersih-bersih kamar, baca buku, apa maraton drakor.

Gitu, Mylov~

BACA JUGA Rakyat Protes New Normal, Pemerintah Berlalu dan tulisan Raflidila Azhar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini. d

Terakhir diperbarui pada 17 September 2020 oleh

Tags: BudayaJakartapsbb
Raflidila Azhar

Raflidila Azhar

Baru selesai studi Sastra Inggris di UIN Malang, kampus pesantren Indonesia.

ArtikelTerkait

Ketika arah mata angin jadi masalah buat orang Jogja di Jakarta (Unsplash)

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

11 Juli 2026
Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya Mojok.co

Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya

23 Mei 2025
Konten Jakarta ke Bekasi 2 Jam Di Jogja Bisa Tembus Gunung tapi Kudu Nekat Terminal Mojok

Konten Jakarta ke Bekasi 2 Jam: Di Jogja Bisa Tembus Gunung tapi Kudu Nekat

25 Januari 2023
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Rekomendasi Wisata Nol Rupiah di Kota Malang terminal mojok.co

Fenomena Persaingan Bahasa Kediri dan Jakarta dalam Tongkrongan di Malang

8 Juli 2020
Derita Jadi Orang Jakarta Selatan di Perantauan: Dicap Anak Gaul, padahal Aslinya Biasa Aja Mojok.co

Cerita Orang Jakarta Selatan di Perantauan: Dicap Anak Gaul, padahal Aslinya Biasa Aja

5 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.