Budaya-budaya Indonesia Sepele yang Sebenarnya Memperkokoh Integrasi Bangsa – Terminal Mojok

Budaya-budaya Indonesia Sepele yang Sebenarnya Memperkokoh Integrasi Bangsa

Artikel

Hah? Budaya Indonesia disepele-sepelein? Hehe. Baca dulu yuks.

Budaya Indonesia #1 Tersenyum dan menyapa

Entah siapa yang memulai pertama propaganda ini, yang jelas kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah. Selalu tersenyum entah itu ke tukang mi ayam, penjual gorengan, tukang tambal ban, polisi, sampai anggota DPR yang brengsek, tapi pas ketemu tetap bakal kita senyumin. Pokoknya gemar tersenyum kepada siapa pun yang ditemui meskipun tidak kenal. Yang nggak mau senyum, silakan keluar dari Indonesia, hehe.

Satu-satunya yang sulit kita senyumin adalah mantan, khususnya mantan pacar. Aneh… kita susah tersenyum ke mantan pacar tapi salim dan unjuk gigi minta foto bareng saat ketemu politisi. Padahal mereka sama-sama menjual janji palsu.

Yang perlu diingat, senyuman akan meningkatkan energi positif kepada orang-orang sekitar, apalagi ditambah dengan menyapa orang yang kita kenal. Siapa tahu kan dengan senyum dan sapa bisa tumbuh rasa sayang. Siapa tahu walau sudah karena disenyumin tetap bakal terasa seperti saudara.

Budaya ini perlu banget dilestarikan karena integrasi bangsa yang kokoh adalah integrasi yang didasari rasa sayang. Selain itu senyum juga menunjukkan rasa senang dan tidak ada masalah dengan orang yang diberi senyum. Maka orang lain pun akan merasa aman dengan kita. Asal jangan senyum-senyum sendiri dan senyum yang mencurigakan. Yang pertama bisa dikira kurang waras, yang keduya bisa disangka pelecehan seksual. Ujungnya malah memecah belah bangsa

Baca Juga:  Inflasi, Penyebab Negara Tidak Mencetak Uang yang Banyak untuk Mengatasi Kemiskinan

Budaya Indonesia #2 Menambahkan nama lawan bicara di akhir kalimat

Saat bicara dengan orang sebaiknya menambahkan nama panggilan lawan bicara di akhir kalimat sebagai bentuk sapaan. Ini berlaku saat tatap muka maupun pas chatting. Contohnya adalah saat bertanya lokasi Yuliana atau menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

“Di mana, Yul?”
“Sudah makan, Yul?”

Menambahkan panggilan di akhir kalimat akan terkesan lebih sopan dan ramah. Apalagi kalo lagi PDKT. PDKT juga bagian dari usaha memperkokoh integrasi dua insan manusia. Begitu pun saat berbicara dengan dosen, entah untuk bimbingan atau yang lainnya, sebaiknya menambahkan nama sapaan dosen di akhir kalimat.

“Saya ke sana, Pak.”
“Sudah selesai, Bu.”

Dengan menggunakan panggilan atau sapaan, dosen akan merasa dihormati. Bayangkan jika tidak menggunakan kata “Pak”, pasti dikira cuek. Sangat sederhana dan terkesan receh kan hal ini, tapi tetap penting karena berhubungan dengan kesopanan. Ini berlaku untuk komunikasi dengan semua orang, khususnya yang dihormati.

Budaya Indonesai #3 Membalas pertanyaan teman di grup meski tidak tahu jawabannya

Ini adalah budaya yang sering dilupakan. Banyak yang memilih mengabaikan pertanyaan teman di grup chat atau di grup medsos karena tidak tahu jawabannya. Padahal kita hanya perlu membalas dengan “Maaf tidak tahu, Rin” atau “Sori, Rin, gua nga ngerti”. Sederhana sekali tapi banyak yang tidak peduli dengan budaya ini. Alhasil, Rini sakit hati dong nggak ada yang jawab. Padahal dia lihat chat-nya di grup banyak yang nge-read. Bisa-bisa Rini merasa tidak ada yang peduli lagi dengannya dan berpikir untuk mengakhiri hidup saja (buset, drastis amat. Jangan, Rin, jangan!).

Baca Juga:  3 Hal yang Bisa Bikin Manchester United Gagal Juara

Intinya ini budaya receh, remeh, sepele, tapi jika dilupakan bisa berakibat fatal. Atau misal Rini nggak bunuh diri, tetep aja dia bisa jadi nggak mau membalas pertanyaan temannya di grup buat balas dendam. Tentu saja akan mengurangi rasa peduli terhadap orang lain sesama anggota grup.

Budaya Indonesai #4 Ketawa solidaritas saat ada joke garing

Generasi saat ini sangat senang sama hal-hal receh yang lucu dan menghibur. Tidak jarang dalam sebuah pertemanan ada orang-orang yang sengaja melemparkan joke untuk membuat orang lain tertawa dan merasa senang berteman dengannya. Namun, tidak semua orang yang bisa membuat joke yang beneran lucu. Di titik itu kita semua sadar melucu itu sulit.

Tapi kita kan harus hargai teman yang sudah berusaha. Sesekali tertawalah untuk mengapresiasi joke orang lain walau garing. Ini akan meningkatkan kepercayaan diri orang lain dan tidak membuatnya merasa kikuk. Sudah pasti ini juga bisa memperkokoh integrasi bangsa karena kita menunjukkan rasa senang akan hal yang dilakukan orang lain. Selama joke yang dilakukan masih dalam batas wajar, tidak ada salahnya mengapresiasi dengan sedikit memberikan sumbangan hahahihi atau wkwkwk.

Kita punya semua hal untuk merasa berbeda, dan perbedaan itu kadang dimanfaatkan orang jahat untuk memecah belah. Semoga dengan mempraktikkan budaya-budaya receh di atas integrasi kita sebagai satu bangsa, satu negara, tetap kokoh.

Baca Juga:  Menerima Sepenuh Hati Jokes Ala Bapak-Bapak yang Menyebalkan

*N.P. Satu Nusa Satu Bangsa*

BACA JUGA Surat Protes Driver Ojol buat Customer yang Suka Nyuruh Beli Ini-Itu di Luar Aplikasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.