Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Mahasiswa Masih Nungguin Uang Kiriman dari Orang Tua Aja Sok-sokan Punya Paylater, buat Apa?

Ahmad Arief Widodo oleh Ahmad Arief Widodo
24 Oktober 2023
A A
Mahasiswa Masih Nungguin Uang Kiriman dari Orang Tua Aja Sok-sokan Punya Paylater, buat Apa?

Mahasiswa Masih Nungguin Uang Kiriman dari Orang Tua Aja Sok-sokan Punya Paylater, buat Apa? (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Udah tau nggak punya penghasilan tetap, masih nungguin uang kiriman dari orang tua pula, eh kok ada mahasiswa yang nekat bener punya paylater.

Sebagai mantan mahasiswa “si paling organisatoris”, sampai detik ini saya masih sering dapat perkembangan informasi terkait kehidupan mahasiswa. Khususnya mahasiswa UIN Walisongo, almamater tercinta. Informasi yang tak luput jadi kabar terkait mahasiswa hari ini tentu soal gaya hidup.

Konon, gaya hidup mahasiswa UIN Walisongo zaman now lebih glamor ketimbang zaman saya dulu. Mulai dari gadget sampai fesyen mahasiswanya sekarang selalu mengikuti perkembangan terkini. Padahal zaman saya dulu, mahasiswa hanya perlu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan untuk dianggap keren. Nggak perlu repot-repot ngikutin gaya busana yang paling update sekadar untuk jadi keren.

Guna memenuhi kebutuhan hidup yang lebih glamor, tak sedikit mahasiswa yang memiliki akun paylater. Biasanya, paylater yang mereka miliki dari toko oren yang menjadi tempat jual beli online. Atau, paylater dari aplikasi dompet digital.

Terus terang, menurut saya, mahasiswa itu sebaiknya nggak perlu punya paylater. Saya akan membeberkan alasannya.

Pendapatan mahasiswa pas-pasan

Mayoritas mahasiswa S-1 nggak punya pendapatan tetap. Pendapatan utama mereka biasanya ya uang bulanan dari orang tua. Sebab, kebanyakan mahasiswa S-1 di Indonesia kuliahnya masih dibiayai beasiswa BI. BI-nya bukan Bank Indonesia ya, melainkan bapak ibu.

Umumnya, kiriman orang tua hanya ngepas untuk kebutuhan bulanan mahasiswa. Jadi, cukupnya ya untuk kebutuhan makan, sewa kos, dan kuliah. Soal kebutuhan lain-lain seperti hiburan biasanya didapat dari hasil kecermatan mengatur keuangan, alias pintar-pintarnya mahasiswa untuk ngirit.

Dengan kondisi pendapatan yang serba mepet tersebut, tak sepatutnya mahasiswa belanja melalui paylater. Karena ada potensi mereka bakal kebingungan terkait cara melunasi utang-utangnya di paylater. Betul apa betul, Gaes?

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Uang bulanan kadang datang tak tepat waktu

Seumpama pendapatan mahasiswa dari uang bulanan orang tuanya lebih dari cukup, kelebihan uang bulanannya bisa dipakai sebagai cicilan paylater misalnya, saya yakin jumlahnya juga nggak banyak. Sekilas, masalahnya mungkin kelihatan selesai. Akan tetapi kita perlu mengingat bahwa uang kiriman orang tua ini nggak selalu tepat waktu.

Bila uang kiriminan nggak ditransfer tepat waktu, otomatis cicilan paylater juga nggak bisa dibayar sesuai jadwalnya. Kalau sudah begini, bisa-bisa mahasiswa yang ngutang dikenai denda oleh pihak paylater dan malah jadi beban.

Mahasiswa yang mengandalkan paylater cenderung jadi boros

Selain nggak mampu membeli barang secara tunai, ada berbagai alasan lain yang membuat seseorang punya paylater. Salah satunya adalah tergiur promo yang ditawarkan jika menggunakan paylater. Alasan ini memang logis mengingat di salah satu e-commerce ada promo khusus bagi para pemilik paylater.

Alih-alih hemat, pengguna paylater malah bakal jadi boros. Awalnya nggak ada kebutuhan atau keinginan membeli sebuah barang, setelah ada diskon yang lumayan dari paylater malah mendorong pengguna untuk belanja. Saya yakin kasus semacam ini terjadi bukan sekali atau dua kali saja, melainkan sudah berkali-kali. Bahkan nggak cuma satu orang yang mengalami, tapi banyak.

Paylater memupuk kebiasaan utang

Saya sepakat bahwa nggak ada salahnya berutang, asalkan tahu cara melunasinya. Banyak lho perusahaan di Indonesia yang memiliki utang dengan nominal lumayan besar, tapi perusahaannya tetap bisa hidup dan terus berkembang.

Yang salah itu kalau berutang tapi nggak tahu cara melunasinya. Giliran ditagih utangnya, malah lebih galak daripada yang nagih. Tak jarang juga yang ngutang malah memaki-maki yang ngasih utang.

Seumpama punya paylater, seorang mahasiswa artinya memupuk kebiasaan utang sejak dini. Bagi saya, kebiasaan suka berutang ini kurang baik. Buktinya, saking mendarah dagingnya kebiasaan ngutang di masyarakat kita, sampai ada jokes pinjam dulu 100 yang populer di masyarakat akhir-akhir ini.

Sekiranya itulah beberapa alasan yang membuat saya menyarankan mahasiswa agar nggak perlu memiliki paylater. Para mahasiswa harusnya cukup dipusingkan dengan tugas-tugas dari dosen. Jangan tambah pusing gara-gara harus mikirin cicilan paylater!

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sistem PayLater dan Normalisasi Budaya Berutang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2023 oleh

Tags: dompet digitalMahasiswapaylaterUtang
Ahmad Arief Widodo

Ahmad Arief Widodo

Penulis lepas yang fokus membahas kedaerahan, dunia pemerintahan dan ekonomi. Stand like a hero and die bravely.

ArtikelTerkait

kelompok

Dear Maba: Jangan Jadi Temen Kelompok yang Menyebalkan

22 Agustus 2019
Cara Chat Dosen Pembimbing supaya Cepat Lulus. Mahasiswa Akhir Wajib Baca Ini! Mojok.co

Cara Chat Dosen Pembimbing supaya Cepat Lulus. Mahasiswa Akhir Wajib Baca Ini!

5 Desember 2023
dosen penguji

Ketahui Tipe Dosen Penguji Skripsi dan Kerja Praktik, Supaya Tidak Dibantai Saat Ujian

4 Agustus 2019
KA Pandanwangi, Penyelamat Mahasiswa Banyuwangi yang Kuliah di Jember

KA Pandanwangi, Penyelamat Mahasiswa Banyuwangi yang Kuliah di Jember

23 Juli 2023
Mahasiswa Semarang KKL ke Jogja Buat Apa? Banyak Tempat yang Lebih Baik dari Jogja

Mahasiswa Semarang KKL ke Jogja Buat Apa? Banyak Tempat yang Lebih Baik dari Jogja

15 Februari 2024
Magangtulation Perayaan Ujian Magang, Budaya yang Lebih Bodoh daripada Semprotulation Mojok.co

Magangtulation Itu Perayaan Ujian Magang, Budaya yang Lebih Bodoh daripada Semprotulation

19 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Biaya Merawatnya Sama Sekali Tak Murah

25 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.