Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
29 Januari 2026
A A
Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali Mojok.co

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya ingat pertama kali nyoba naik Batik Solo Trans (BST). Busnya bersih, ber-AC, halte nyaman. Sistem pembayaran pun modern, sudah pakai QRIS atau e-money. Ini bukan bus yang berhenti di mana saja sesuka hati sopir. Ini lebih mirip bus kota yang serius dibuat untuk mobilitas warga, bukan sekadar pajangan di brosur pariwisata.

Warga Solo atau mahasiswa rantau yang sudah lama pakai BST, mungkin setuju transportasi publik Solo itu nyaman pol. Tapi, di balik kenyamanan itu, ada cerita yang sering nggak tertulis. Penumpang kadang harus melewati drama transit berkali-kali sebelum sampai ke tujuan. 

Batik Solo Trans memang nyaman

Tadinya Solo itu kota dengan opsi transportasi umum yang sederhana seperti angkot, ojek, atau kendaraan pribadi. Kehadiran Batik Solo Trans seperti jawaban dari kota yang ingin warganya naik bus tanpa mikir soal macet atau parkir. Apalagi, armadanya bersih, sopirnya ramah, dan tarifnya sangat terjangkau sekitar Rp2.000 sekali jalan. 

Halte-halte BST juga dibuat nyaman. Ada yang jadwal kedatangan terpampang, tempat duduk yang teduh, dan ruang yang cukup buat nunggu bus tanpa kepanasan. Itu nilai plus yang jarang banget kita temukan di sistem angkutan lain di Solo.

Akan tetapi, kenyamanan itu bukan berarti lancar tanpa kompromi.

Transit, transit, transit

Berapa kali saya harus transit untuk pergi dari kos ke kampus? Tiga. Tiga kali. Dan itu bukan eksagerasi. Rute BST secara garis besar mungkin sudah menjangkau banyak titik penting. Titik-titik seperti Bandara Adi Soemarmo, Terminal Palur, Terminal Kartasura, sampai Solo Baru bahkan Bekonang dilewati. Namun, kalau tujuannya bukan di koridor utama, kamu akan sangat akrab dengan kata “transfer”.

Misalnya, kos saya di daerah selatan Solo (bukan di koridor utama) ke kampus di utara Solo. Rute langsung nggak ada. Jadinya saya harus turun di halte koridor utama, nunggu bus feeder, lalu pindah bus lagi untuk menjangkau jalan kampus yang kemudian harus jalan kaki lagi sedikit. Kalau salah sambung atau telat beberapa menit, jadwal transit itu bisa makin bikin stres.

Kita sering dengar istilah “BST punya 12 koridor utama dan feeder”, tapi integrasinya kadang masih belum mulus kalau dipakai buat mobilitas kampus harian bukan sekadar jalan-jalan atau ke terminal besar.

Baca Juga:

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

Baca juga Aturan Tidak Tertulis Ketika Naik Batik Solo Trans agar Selamat dari Semprotan Supir.

Jam operasional Batik Solo Trans nggak ramah mahasiswa dan pekerja

Selain soal rute, jam operasional pun pernah bikin kita geleng kepala. Beberapa koridor sempat dipangkas jam layanannya hanya sampai sore, padahal mahasiswa atau pekerja kadang pulang seusai jam kuliah atau kerja. Jadwal seperti ini membuat mahasiswa yang kuliah sampai sore kelasnya mesti cari alternatif lain yang otomatis nambah biaya transport atau menyulitkan.

Sementara koridor lain tetap jalan sampai jam malam, usaha itu memang patut diapresiasi. Tapi, ketidakseragaman jam layanan menunjukkan bahwa sistem ini belum benar-benar user-centered. Terutama buat mereka yang rutinitasnya terikat jam kuliah dan kerja.

Headway cukup, tapi harus tepat waktu

Kalau soal jarak kedatangan bus di setiap halte, info yang pernah saya baca menyebut headway antara 10 sampai 15 menit itu relatif baik untuk bus kota. Tapi, ketika kamu harus transit tiga kali di satu perjalanan, headway tadi yang terasa tidak istimewa. Apalagi kalau salah satu armada ada yang terlambat, bisa jadi drama perjalanan. 

Baca juga Batik Solo Trans, Bukti Kota Solo Nggak Bisa Dipandang Sepele.

Saya bukan penentang transportasi publik Solo. Justru sebaliknya, saya malah bersyukur Solo punya BST yang murah dan fasilitas memadai. Ini bukti kalau kota sebesar Solo juga bisa serius memikirkan solusi transportasi massa, bukan sekadar menyerahkan semuanya ke kendaraan pribadi.

Akan tetapi, kenyamanan fisik seperti bus ber-AC dan halte teduh saja tidak cukup kalau sistem rute dan integrasinya masih membuat penumpang transit bekali-kali untuk sekadar pergi dari titik A ke B sehari-hari. Jalan kampung yang kecil memang jadi tantangan desain sistem bus, dan demand matematika rute di kota kecil itu jauh berbeda dari kota besar dengan pola mobilitas yang lebih padat. Namun, bukan berarti kita tidak boleh ngeluh soal hal ini.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Trans Jogja Perlu Banyak Belajar dari Batik Solo Trans Supaya Semakin Nyaman.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: batik solo transbtsbus solosolo
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Surakarta Semakin Mirip Jogja Semakin Tidal Ideal untuk Pensiun (Unsplash)

Kenaikan Tingkat Kriminalitas dan Semakin Semrawut, Surakarta Sudah Bukan Lagi Tempat yang Ideal untuk Pensiun seperti Jogja

1 Maret 2024
Ngemplak, Kecamatan yang Terlalu Solo untuk Boyolali

Ngemplak, Kecamatan yang Terlalu Solo untuk Boyolali

15 Desember 2025
Apa yang Terjadi jika Becak Punah dari Solo_ terminal mojok

Apa yang Terjadi jika Becak Punah dari Solo?

3 Oktober 2021
Jogja dan Solo di Mata Orang Jambi (Unsplash.com)

Jogja dan Solo di Mata Orang Jambi: Tetap Menarik dan Layak Disambangi

7 Agustus 2022
Panduan Makan Selat Solo di Surakarta agar Sesuai di Lidah

Panduan Makan Selat Solo agar Rasanya Sesuai di Lidah

13 April 2023
5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain Mojok.co

5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain

3 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026
Wisata Wonosobo Enak Dinikmati, tapi Tidak untuk Ditinggali (Unsplashj)

5 Wisata Wonosobo Selain Dieng yang Tak Kalah Indah untuk Dinikmati, meski Nggak Enak untuk Ditinggali

14 Februari 2026
Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan Mojok.co

Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan

19 Februari 2026
QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Ribet dan Cepat Miskin (Unsplash)

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

19 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”
  • Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam
  • Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.