Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Bolehkah Daeng Bermimpi Menjadi Presiden?

Mokhamad Alfian oleh Mokhamad Alfian
26 Agustus 2019
A A
daeng

daeng

Share on FacebookShare on Twitter

“Sistem demokrasi memang telah terdegradasi sejak awal di Indonesia—mungkin lebih tepat jika Daeng sebut sejak masa reformasi.” – Daeng Baco, Pengamat Politik di Warung Kopi

Daeng Baco bukan politisi, meski demikian ia menganggap bahwa ia adalah seorang pengamat politik yang lebih cerdas dari pemilik lembaga survei baik Yunarto Wijaya, Burhanuddin Muhtadi atau Saiful Mujani dan orang-orang sejenis lainnya dengan beberapa indikator.

Pertama, pembahasan Daeng Baco di warung-warung kopi tidak jauh seputar politik nasional. Kedua, ia cukup pandai dibuktikan dengan IPK-nya yang mencapai 3,00 tetapi yang menjadi masalah Daeng tidak berasal dari fakultas ilmu politik melainkan poltekkes dan saat ini berprofesi sebagai seorang mantri. Ketiga, Daeng selalu mengemukakan ide-ide jadul yang terpendam sekian lama dan salah satunya adalah pembahasan tentang ke-Indonesia-an ditulisan ini, oleh karena itu, Daeng berharap tulisan ini harus dibaca meski pada akhirnya hanya dibaca si-penyeleksi tulisan di terminal mojok yang barangkali bersuku Jawa.

Sebagai orang Makassar, Daeng lebih percaya harus ada isu yang lebih menarik ketimbang Pancasila versus Khilafah dan isu itu harus dibicarakan dimana saja bukan hanya di warung-warung kopi di Makassar tempat Daeng berseliweran dan salah satunya adalah cara paling tepat orang-orang Makassar untuk menjadi presiden sebagai sebuah impian dan kegelisahan sekaligus.

Daeng teringat betul bagaimana dimedia muncul beragam isu ketimpangan suara yang ada seperti 57,6% suara ada di Pulau Jawa sedang sisanya sekitar 43,4% tersebar di Pulau-pulau lain, yang menggambarkan dengan sederhana bahwa untuk menjadi Indonesia haruslah menjadi Jawa saja demikian juga pada segala lini kehidupan termasuk untuk menjadi seorang Presiden.

Tetapi celakanya defenisi demokrasi tetap digambarkan sebagai sebuah sistem yang adil dengan argumen yang itu-itu saja, mirip seperti ini: satu suara Daeng sama dengan satu suara mas, uda dan akang. Seringkali mendengar itu Daeng tertawa keras dan menjelaskan bahwa sistem demokrasi menurutnya yang benar-benar tidak adil dan karenanya beberapa kali Daeng harus berurusan dengan beberapa pihak yang menyatakan diri paling Pancasila karena menduga saya sebagai antek Hizbut Tahrir.

Bagi Daeng, bagaimana mungkin sistem demokrasi di Indonesia itu adil dengan perbandingan yang tidak appeal-to-appeal seperti pendapat kebanyakan orang tentang demokrasi, bahwa pada kenyataannya penduduk di Sulawesi kalah jumlah dari penduduk di Jawa sehingga apa yang dikatakan sebagai efek elektoral tidak menguntungkan Sulawesi dan politisi yang berasal darinya sebagai bagian dari Indonesia terlebih lagi Pulau-pulau lain yang bahkan lebih kecil jumlah penduduknya dibanding dengan pulau Sulawesi dan hampir seluruhnya ada di Timur Indonesia.

Sampai saat ini, ada beberapa kalimat yang Daeng Baco sukai dan hadir di warung-warung kopi di Makassar sebagai jembatan antara resah dan impian, “JK tahun 2004 itu bisa jadi presiden, dia punya segalanya kecuali satu dia bukan orang Jawa”.

Baca Juga:

5 Kegiatan yang Bisa Dilakukan Jokowi kalau Jadi Pensiunan di Solo

Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang

Sebenarnya, menurut Daeng Baco isu ini mirip-mirip mayoritas versus minoritas tetapi tidak pernah dibahasakan seperti itu demi mengikat seluruh penduduk dari sabang-merauke dalam bingkai ke-Indonesia-an, terlebih baginya untuk mengatakan itu dibutuhkan perasaan dan jiwa kerdil lagi terasing dari timur Indonesia, lalu pada kenyataannya, berapa sih persentasi pembicara –Narasumber- yang berasal dari Indonesia Timur di Media Nasional? Meski Akbar Faisal atau Ali Muchtar Ngabalin termasuk sering tampil tetapi demikian jumlah pembicara asal timur masih kalah berpuluh kali-lipat dengan pembicara dari orang-orang barat, dia sangsi dan menegaskan ini pada orang-orang disela diskusi di warung kopi tempat ia sering kasbon: bagaimana menyuarakan ini sebagai sebuah keresahan?

Daeng Baco juga paham, pada pemilu serantak kemarin ramai orang-orang membahas tentang Trump sebagai contoh yang buruk dalam berdemokrasi meski negara Trump berasal adalah Negara percontohan demokrasi terbaik dan terbesar dekade ini. Tetapi keseluruhan pembicaraan itu lebih banyak tentang cara memperoleh kemenangan yang dianggap tidak benar sekaligus buruk. Tetapi Daeng melihatnya berbeda, menurutnya, kasus Trump sebenarnya dapat dijadikan sebagai acuan yang positif untuk demokrasi yang ‘adil’ ini.

Sebagaimana yang Daeng Baco ketahui, rata-rata pendapat yang berseliweran di medos dan layar kaca tentang Trump tidak jauh dari cara Trump memenangkan pemilu dengan pola firehose of falsehood tetapi menolak membicarakan bahwa pada kenyataannya Trump lah representasi Amerika secara keselurahan meski total suaranya kalah dibanding lawannya, Hillary Clinton. Trump pantas menjadi presiden dengan memenangkan suara lebih banyak per-negara bagian bukan per-orang, sistem demokrasi yang sulit dan mungkin hanya akan menjadi angan-angan untuk diterapkan di Indonesia. Termasuk bagi Daeng Baco.

Sebab itu, menurut Daeng Baco, sistem demokrasi memang telah terdegradasi sejak awal di Indonesia—mungkin lebih tepat jika dia sebut sejak masa reformasi—meski dia salah satu yang berjuang untuk menjatuhkan Soeharto di Makassar dengan alasan yang tidak bertujuan untuk memperoleh kekuasaan tetapi lebih pada memperoleh keadilan, dan sampai dengan hari ini, Daeng Baco tetap merasa tidak adil dan isu-isu tentang ketidakadilan menurutnya akan selalu ada sepanjang sistem demokrasi di Indonesia berjalan seperti ini meski pembangunan telah diupayakan merata.

Lalu, hari ini, suara Daeng Baco akan bertambah nyaring sebagaimana nyaringnya suara orang-orang pesisir dibanding orang-orang pegunungan, dan akan bertambah jumlahnya persis seperti bertambahnya suara Tan Malaka dalam kubur atau nyaringnya suara Munir yang tewas diracun, bedanya Daeng Baco masih hidup dan terus bermimpi sebagai seorang yang merasa sistem demokrasi tidak adil sejak 1998 kini ia menyelinap didalam setiap gelas kopi dan diskusi politik di Makassar yang selalu terdengar lirih seperti membisik kau boleh memiliki semuanya tetapi jangan coba rebut mimpi-mimpi kami dalam sebuah tanya: Bolehkah Daeng atau Orang-orang Daeng Bermimpi Menjadi Presiden? (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2022 oleh

Tags: daengpolitisipresidenTrump
Mokhamad Alfian

Mokhamad Alfian

ArtikelTerkait

biden trump amerika mojok

Kita Sebenarnya Sedang Merayakan Menangnya Biden atau Merayakan Kalahnya Trump?

17 November 2020
Jangan Jadi Peneliti di Indonesia

Jangan Jadi Peneliti di Indonesia

5 September 2022
Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa?

Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa?

20 Februari 2020
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Andai Saya Jadi Presiden Selama Sehari, Saya Akan Melakukan Dobrakan Ini

24 Agustus 2021
puan maharani dpr Pak RT mojok

Puan Maharani, ketimbang Menambah Periode Jabatan Presiden, Mending Lakukan 3 Hal Ini

29 Desember 2020
Memilih Politisi Ganteng: Masih Relevankah bagi Pemilih Muda?

Memilih Politisi Ganteng: Masih Relevankah bagi Pemilih Muda?

2 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.