Bolehkah Daeng Bermimpi Menjadi Presiden?

“Sistem demokrasi memang telah terdegradasi sejak awal di Indonesia—mungkin lebih tepat jika Daeng sebut sejak masa reformasi.” – Daeng Baco

Artikel

Avatar

“Sistem demokrasi memang telah terdegradasi sejak awal di Indonesia—mungkin lebih tepat jika Daeng sebut sejak masa reformasi.” – Daeng Baco, Pengamat Politik di Warung Kopi

Daeng Baco bukan politisi, meski demikian ia menganggap bahwa ia adalah seorang pengamat politik yang lebih cerdas dari pemilik lembaga survei baik Yunarto Wijaya, Burhanuddin Muhtadi atau Saiful Mujani dan orang-orang sejenis lainnya dengan beberapa indikator.

Pertama, pembahasan Daeng Baco di warung-warung kopi tidak jauh seputar politik nasional. Kedua, ia cukup pandai dibuktikan dengan IPK-nya yang mencapai 3,00 tetapi yang menjadi masalah Daeng tidak berasal dari fakultas ilmu politik melainkan poltekkes dan saat ini berprofesi sebagai seorang mantri. Ketiga, Daeng selalu mengemukakan ide-ide jadul yang terpendam sekian lama dan salah satunya adalah pembahasan tentang ke-Indonesia-an ditulisan ini, oleh karena itu, Daeng berharap tulisan ini harus dibaca meski pada akhirnya hanya dibaca si-penyeleksi tulisan di terminal mojok yang barangkali bersuku Jawa.

Sebagai orang Makassar, Daeng lebih percaya harus ada isu yang lebih menarik ketimbang Pancasila versus Khilafah dan isu itu harus dibicarakan dimana saja bukan hanya di warung-warung kopi di Makassar tempat Daeng berseliweran dan salah satunya adalah cara paling tepat orang-orang Makassar untuk menjadi presiden sebagai sebuah impian dan kegelisahan sekaligus.

Daeng teringat betul bagaimana dimedia muncul beragam isu ketimpangan suara yang ada seperti 57,6% suara ada di Pulau Jawa sedang sisanya sekitar 43,4% tersebar di Pulau-pulau lain, yang menggambarkan dengan sederhana bahwa untuk menjadi Indonesia haruslah menjadi Jawa saja demikian juga pada segala lini kehidupan termasuk untuk menjadi seorang Presiden.

Tetapi celakanya defenisi demokrasi tetap digambarkan sebagai sebuah sistem yang adil dengan argumen yang itu-itu saja, mirip seperti ini: satu suara Daeng sama dengan satu suara mas, uda dan akang. Seringkali mendengar itu Daeng tertawa keras dan menjelaskan bahwa sistem demokrasi menurutnya yang benar-benar tidak adil dan karenanya beberapa kali Daeng harus berurusan dengan beberapa pihak yang menyatakan diri paling Pancasila karena menduga saya sebagai antek Hizbut Tahrir.

Baca Juga:  KPK dan Masa Depan Anti Korupsi yang di Ujung Tanduk

Bagi Daeng, bagaimana mungkin sistem demokrasi di Indonesia itu adil dengan perbandingan yang tidak appeal-to-appeal seperti pendapat kebanyakan orang tentang demokrasi, bahwa pada kenyataannya penduduk di Sulawesi kalah jumlah dari penduduk di Jawa sehingga apa yang dikatakan sebagai efek elektoral tidak menguntungkan Sulawesi dan politisi yang berasal darinya sebagai bagian dari Indonesia terlebih lagi Pulau-pulau lain yang bahkan lebih kecil jumlah penduduknya dibanding dengan pulau Sulawesi dan hampir seluruhnya ada di Timur Indonesia.

Sampai saat ini, ada beberapa kalimat yang Daeng Baco sukai dan hadir di warung-warung kopi di Makassar sebagai jembatan antara resah dan impian, “JK tahun 2004 itu bisa jadi presiden, dia punya segalanya kecuali satu dia bukan orang Jawa”.

Sebenarnya, menurut Daeng Baco isu ini mirip-mirip mayoritas versus minoritas tetapi tidak pernah dibahasakan seperti itu demi mengikat seluruh penduduk dari sabang-merauke dalam bingkai ke-Indonesia-an, terlebih baginya untuk mengatakan itu dibutuhkan perasaan dan jiwa kerdil lagi terasing dari timur Indonesia, lalu pada kenyataannya, berapa sih persentasi pembicara –Narasumber- yang berasal dari Indonesia Timur di Media Nasional? Meski Akbar Faisal atau Ali Muchtar Ngabalin termasuk sering tampil tetapi demikian jumlah pembicara asal timur masih kalah berpuluh kali-lipat dengan pembicara dari orang-orang barat, dia sangsi dan menegaskan ini pada orang-orang disela diskusi di warung kopi tempat ia sering kasbon: bagaimana menyuarakan ini sebagai sebuah keresahan?

Daeng Baco juga paham, pada pemilu serantak kemarin ramai orang-orang membahas tentang Trump sebagai contoh yang buruk dalam berdemokrasi meski negara Trump berasal adalah Negara percontohan demokrasi terbaik dan terbesar dekade ini. Tetapi keseluruhan pembicaraan itu lebih banyak tentang cara memperoleh kemenangan yang dianggap tidak benar sekaligus buruk. Tetapi Daeng melihatnya berbeda, menurutnya, kasus Trump sebenarnya dapat dijadikan sebagai acuan yang positif untuk demokrasi yang ‘adil’ ini.

Sebagaimana yang Daeng Baco ketahui, rata-rata pendapat yang berseliweran di medos dan layar kaca tentang Trump tidak jauh dari cara Trump memenangkan pemilu dengan pola firehose of falsehood tetapi menolak membicarakan bahwa pada kenyataannya Trump lah representasi Amerika secara keselurahan meski total suaranya kalah dibanding lawannya, Hillary Clinton. Trump pantas menjadi presiden dengan memenangkan suara lebih banyak per-negara bagian bukan per-orang, sistem demokrasi yang sulit dan mungkin hanya akan menjadi angan-angan untuk diterapkan di Indonesia. Termasuk bagi Daeng Baco.

Baca Juga:  Kalau Teman Jualan, Wajib Beli Nggak, sih?

Sebab itu, menurut Daeng Baco, sistem demokrasi memang telah terdegradasi sejak awal di Indonesiamungkin lebih tepat jika dia sebut sejak masa reformasimeski dia salah satu yang berjuang untuk menjatuhkan Soeharto di Makassar dengan alasan yang tidak bertujuan untuk memperoleh kekuasaan tetapi lebih pada memperoleh keadilan, dan sampai dengan hari ini, Daeng Baco tetap merasa tidak adil dan isu-isu tentang ketidakadilan menurutnya akan selalu ada sepanjang sistem demokrasi di Indonesia berjalan seperti ini meski pembangunan telah diupayakan merata.

Lalu, hari ini, suara Daeng Baco akan bertambah nyaring sebagaimana nyaringnya suara orang-orang pesisir dibanding orang-orang pegunungan, dan akan bertambah jumlahnya persis seperti bertambahnya suara Tan Malaka dalam kubur atau nyaringnya suara Munir yang tewas diracun, bedanya Daeng Baco masih hidup dan terus bermimpi sebagai seorang yang merasa sistem demokrasi tidak adil sejak 1998 kini ia menyelinap didalam setiap gelas kopi dan diskusi politik di Makassar yang selalu terdengar lirih seperti membisik kau boleh memiliki semuanya tetapi jangan coba rebut mimpi-mimpi kami dalam sebuah tanya: Bolehkah Daeng atau Orang-orang Daeng Bermimpi Menjadi Presiden? (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
14


Komentar

Comments are closed.