Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Sialnya Masuk IPS dan Pilih Jurusan Sosiologi demi Menghindari Hitung-hitungan

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
5 Februari 2021
A A
10 Rekomendasi Jurusan Kuliah yang Tidak Ada Matematika atau Hitung-hitungan
Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya semasa kecil, saya lebih gemar dengan pelajaran matematika. Bahkan ketika mengerjakan soal UN matematika, saya hanya salah satu nomor saja, itu juga karena saya buru-buru mengerjakannya. Bukannya saya sombong ya, tapi hanya sebagai bukti saja kalau saya benar-benar suka menghitung, layaknya dalam pelajaran matematika.

Hingga menginjak jenjang SMP, saya masih menyukai hitung-hitungan. Terlebih dengan pelajaran fisika. Selain karena ada hitung-hitungannya, fisika juga pelajaran yang menghitung sesuatu secara realistis. Jadi, dalam benak imajinasi ikut bermain di dalamnya.

Namun, semua itu berubah sejak negara api menyerang. Tepatnya sejak saya menduduki bangku SMA. Segala kegemaran dan pola pikir saya berubah 100% dibandingkan masa D dan SMP. Sejenis masa peralihan menuju pencerahan renaissance gitu.

Ketika masuk kelas satu SMA, saya menemui pelajaran kimia yang membuat saya cukup  terkaget-kaget. Pasalnya, pelajaran tersebut belum pernah saya pelajari sebelumnya. Bahkan di SMP saya nggak ada kimia, yang ada hanya biologi dan fisika saja untuk pelajaran IPA.

Lebih kagetnya lagi ketika masuk pertemuan awal, kami sudah langsung dipaksa untuk hafal tabel periodik beserta jenis zat-zatnya. Tentu itu membuat saya syok dong, atau jika perlu serangan jantungan sekalian. Pasalnya, tabel periodik ini jumlahnya banyak banget dan kami hanya punya waktu satu minggu saja untuk menghafalnya.

Saya sendiri bukan tipe orang penghafal. Saya lebih suka memahami sesuatu dibandingkan menghafalkannya. Layaknya ungkapan Pandji Pragiwaksono dalam stand-up comedy-nya yang mengutip petuah Albert Einstein, “Saya nggak setuju dengan sistem pendidikan dengan menggunakan cara belajar hafalan, karena itu mematikan kreativitas dan mematikan semangat belajar.”

Tentu saja saya menyepakati itu. Pasalnya, jika siswa dipaksa menghafal melulu, maka siswa akan terpatok dan tersekat oleh satu fokus yang ia hafalkan saja. Siswa akan melupakan kreativitasnya ketika belajar.

Mulai saat itulah saya nggak begitu suka menghafal. Sedangkan untuk hitung-hitungan merupakan implikasi dari ketidaksepakatan saya mengenai menghafal. Sejak itu, saya sudah sangat jarang menghafal rumus-rumus rumit, saya lebih suka memahaminya saja. Hingga keterusan berdampak pada ketidaksukaan saya dalam hitung-hitungan.

Baca Juga:

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

Akhirnya, kelas dua SMA saya memutuskan untuk pindah jurusan ke IPS, yang sebelumnya kelas satu berada di jurusan IPA. Lah, kok bisa pindah jurusan? Tentu saja bisa bagi saya, pasalnya saat itu bertepatan pada peralihan kurikulum yang sebelumnya kurikulum K-13 kembali lagi ke kurikulum KTSP yang mana pihak sekolah mengizinkan saya pindah ke jurusan IPS.

Dapat dikatakan semasa kelas satu, SMA saya tersebut merupakan masa menjadi kelinci percobaan atas kurikulum K-13. Lantaran kurikulum K-13 hanya dilakukan setahun, dan kemudian kembali lagi ke KTSP. Meskipun ketika saya telah lulus SMA, sekolah saya menerapkan kurikulum K-13 secara paten.

Adapun alasan saya memilih pindah ke jurusan IPS, yakni pada kala itu saya menganggap di jurusan IPS nggak ada pelajaran hitung-hitungan dan sistem hafalan. Plus, bagi saya, anak IPS itu lebih asyik dan solid jika dibandingkan anak IPA yang cukup individualis.

Sialnya, anggapan saya mengenai pelajaran di jurusan IPS nggak tepat 100%. Untuk sistem hafalan sih anggapan saya benar, pasalnya jurusan IPS di sekolah saya nggak menganut sistem hafalan. Siswa hanya dituntut untuk paham sebuah materi, maka itu sudah cukup, dan jika siswa mampu mengembangkannya maka akan mendapatkan nilai lebih.

Nah, yang nggak tepat itu adalah pelajaran hitung-hitungan yang berhubungan angka. Nyatanya, saya bertemu dengan pelajaran ekonomi yang isinya full hitung-mengitung. Meskipun yang saya hitung adalah jumlah uang, tapi uangnya nggak ada beneran. Kan sama saja bohong, dan cukup melelahkan bagi saya.

Namun, mau gimana lagi, daripada kembali ke IPA yang lebih full hitung-hitungan. Apalagi saya sendiri nggak suka menelan air ludah sendiri yang telah saya keluarkan. Pecundang dong namanya itu. Akhirnya fatum brutum amorfati saja hingga lulus SMA.

Ketika memasuki kuliah, saya masih memiliki idealis yang sama, yakni menghindari jurusan yang menggunakan sistem menghafal dan berjibaku dengan hitung-hitungan. Akhirnya saya lebih memilih jurusan Sosiologi dari keempat keilmuan sosial pokok yang pernah saya ketahui semasa SMA, yakni geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi.

Alasan memilih jurusan Sosiologi sendiri bermula pada saat mempelajari sosiologi di SMA. Kala itu, saya masih belum menemukan sedikit pun materi hitung-hitungan. Guru saya juga nggak menyuruh siswanya menghafal rentetan teori sosiologi yang ada. Pasalnya, memang kuncinya nggak menghafal, melainkan memahami.

Namun, sepertinya takdir berkata lain ketika saya menjalani kuliah di jurusan Sosiologi. Tepatnya di semester empat, saya menemukan mata kuliah statistika untuk penelitian sosial yang isinya full hitung-hitungan. Huh, kampret memang hitung-hitungan ini.

Sungguh benar-benar di luar ekspektasi dan rencana hidup saya. atau mungkin memang jancok hidup ini?

Namun, bukan berarti saya menyerah, saya masih kukuh dengan idealis saya. Sampai detik tulisan ini dibuat, saya sedang mengerjakan skripsi berbasis kualitatif yang anti banget dengan hitung-hitungan maupun statistik layaknya skripsi kuantitatif. Ehehehe, doakan saya, ya~

BACA JUGA Tetek Bengek Kuliah di Jurusan Advertising, dari Prospek Kerja yang Luas Sampai Pusing Ngerjain Tugas dan tulisan Mohammad Maulana Iqbal lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2021 oleh

Tags: IPSjurusan ilmu sosialjurusan kuliah
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.

ArtikelTerkait

7 Dosa Mahasiswa Jurusan Akuntansi yang Sering Disembunyikan

7 Dosa Mahasiswa Jurusan Akuntansi yang Sering Disembunyikan

29 September 2025
Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

11 November 2025
Gaya Menagih Utang ala Mahasiswa Berdasarkan Fakultas Kuliah terminal mojok.co

Gaya Menagih Utang ala Mahasiswa Berdasarkan Fakultas Kuliah

27 Januari 2022

Jurusan Psikologi, Jurusan Kuliah Paling Banyak Diminati

6 Juni 2023
Mempertanyakan Orang-orang yang Masih Tertarik Kuliah Jurusan Pendidikan, padahal Lulusannya Banyak yang Sengsara Mojok.co

Mempertanyakan Orang-orang yang Kuliah Jurusan Pendidikan, padahal Jelas Lulusannya Bakal Sengsara

27 September 2025
Skenario Kurikulum Prototipe di SMA dan Terhapusnya Kesenjangan Jurusan IPA dan IPS terminal mojok.co

Skenario Kurikulum Prototipe di SMA dan Terhapusnya Kesenjangan Jurusan IPA dan IPS

27 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.