Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Betapa Mudahnya Nge-Judge Generasi yang Suka GoFood

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
22 Januari 2022
A A
Betapa Mudahnya Nge-Judge Generasi yang Suka GoFood terminal mojok.co

Betapa Mudahnya Nge-Judge Generasi yang Suka GoFood (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, warga Twitter tengah ramai menanggapi komentar netizen yang kaget dengan anggaran makan 20 ribu sehari untuk satu keluarga. Keluarga tersebut berisi dua orang dewasa dan satu anak-anak. Banyak yang menganggap si netizen ini tidak tahu bahwa taraf kehidupan perekonomian di Indonesia memang belum merata. Lantas, ia yang mungkin hidup berkecukupan dari kecil jadi kaget dengan fenomena tersebut.

Sebetulnya itu wajar. Pasalnya, dulu teman-teman saya juga syok saat saya cerita bahwa satu butir telur dapat diolah ibu saya untuk jadi lauk enam orang. Orang nggak punya biasanya memang kreatif. Mereka nggak pernah kehilangan ide untuk mencukupi kebutuhan di tengah segala keterbatasan. Untuk mencukupi gizi anaknya, sebutir telur itu diparutkan kelapa muda oleh ibu saja. Maka, jadilah ia lauk untuk orang serumah.

Teman-teman saya yang dari kota juga heran ketika di rumah kami tidak ada minyak goreng. Pasalnya, untuk membuat minyak goreng, kami harus memarut kelapa dan mengaduk santan tersebut berjam-jam. Perasaan heran ini menurut saya wajar. Namun, keheranan yang dilakukan oleh netizen di atas kesannya justru meremehkan bahwa anggaran kebutuhan tersebut seolah memang dipaksakan dan dibuat-buat.

Berangkat dari “masalah” itu, lahirlah cuitan baru yang menyinggung netizen yang kagetan tersebut sebagai generasi “gofad gofud” dan nggak melek harga kebutuhan pokok. Ini menimbulkan perdebatan baru karena dianggap menyinggung manusia yang hobi beli makanan online. Seolah, orang yang suka beli makanan secara online nggak peka dengan isu kenaikan harga pokok.

Sebagai pelanggan GoFood, ShopeFood, dan GrabFood, saya jadi merasa bersalah. Apalagi, banyak komentar yang muncul justru saling beradu nasib. Ada yang bilang, meski ia punya uang tapi tetap masak. Ada yang bilang, meski bekerja tapi ia tetap menyempatkan masak. Banyak yang berpendapat bahwa masak itu lebih murah dan higienis. Pun masak adalah skill dasar yang perlu dimiliki setiap orang. Ya, saya setuju dengan itu.

Namun, di dunia nyata, komentar soal hobi GoFood ini terdengar lebih sadis. Ada yang bilang, gara-gara saya malas masak, saya gagal jadi perempuan dan istri yang baik. Gara-gara saya sering order GoFood, saya dibilang boros dan menghambur-hamburkan uang. Padahal, daripada mengkritik, kenapa nggak menanyakan apa yang melatar belakangi orang berlaku konsumtif dengan order makanan online terus menerus?

Semenjak pindah ke Jogja, saya memang jadi rajin GoFood setiap hari. Hal ini karena setiap harinya saya tinggal di warung yang tempatnya terbatas. Di bagian belakang hanya cukup untuk satu kamar, jadi tidak memungkinkan buat menaruh kulkas ataupun kompor gas karena banyak dagangan kartonan di belakang. Saya punya kompor listrik, tapi biasanya hanya saya gunakan untuk bikin mi instan.

Ketika saya beli makanan secara online, saya sudah mempertimbangkan segalanya. Beli makanan online begini bukan berarti saya sok kaya atau saya pengin makan yang sok mewah gitu. Bukan. Saya juga bukan nggak bisa masak, bisa kok. Tapi memang waktu dan tempatnya aja yang nggak ada.

Baca Juga:

5 Alasan Pesan Makan Online Masih Lebih Logis daripada Beli Langsung di Warung meski Zaman Promo Sudah Berlalu

Menggugat Warung Makan yang Lupa Mematikan GoFood, ShopeeFood, dan GrabFood: Dosa Besar Bikin Repot Banyak Orang!

Saya dari pagi sampai malam sibuk di warung. Jadi, buat keluar cari makan itu juga agak ribet karena saya belum punya “pemain pengganti” yang bisa gantiin jaga warung. Order makanan via online ini menurut saya cukup membantu, terlebih di daerah saya yang warung makannya cukup terbatas dan pilihan makanannya juga itu-itu saja.

Bagi yang dalam satu keluarga jumlah anggotanya banyak, tentu order makanan seperti ini jadinya boros. Namun, buat saya yang hanya tinggal berdua degan suami, ini justru lebih irit daripada masak. Pasalnya, selera makanan kami berdua memang berbeda. Dia suka manis, saya suka padas. Dia suka yang bersantan, saya suka tumis. Jadi, kalau masak, biasanya saya justru bikin dua menu. Oleh karena itu, suami menyarankan saya untuk nggak usah memasak, mending beli saja.

Dulu saya juga orang yang berpikir kalau jajan itu sesuatu yang boros. Hingga saya kemudian sadar bahwa dalam “jajan” saya itu mungkin ada rezeki orang lain. Mungkin terlalu berlebihan, tapi saya sering sekali ketemu driver yang begitu bahagia sekali tiap dapat orderan. Tak sedikit juga yang curhat kalau dari pagi mereka belum mendapat orderan sama sekali, padahal ada anak istri di rumah yang berharap suami atau bapaknya pulang dengan membawa uang.

Satu hal lagi, sebelum saya memesan makanan biasanya saya sudah memantau warung makanan yang saya pesan. Jadi, saya sudah hafal menu apa saja dan bagaimana kondisi warungnya. Teman saya juga banyak yang berjualan makanan di aplikasi untuk menunjang perekonomian keluarga.

Saat ini mungkin uang saya memang belum banyak. Hanya saja, nggak ada salahnya untuk meringankan beban orang lain dengan cara meringankan beban saya sendiri. Saya yang malas masak dan harus standby di warung tentu sangat terbantu, drivernya terbantu, dan pemilik warung makannya juga terbantu. Lalu apa yang salah?

Saya ingat pesan psikolog saya ketika saya merasa tertekan dengan rasa bersalah karena jarang masak, “Kamu bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kamu bisa sekolah lagi. Kamu bisa bekerja sambil menjalankan usaha. Tapi ingat, kamu tak bisa melakukan semua peran itu dalam satu waktu. Jadi, nggak apa-apa.”

Penulis: Reni Soengkunie
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2022 oleh

Tags: borosgofoodmemasak
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

buku bajakan buku-buku baru buku musik mojok

Tips Supaya Beli Buku di Bazar Buku Nggak Jadi Momen Pemborosan

25 September 2020
Benarkah Pertalite Harga Baru Lebih Boros? Mari Kita Buktikan

Benarkah Pertalite Harga Baru Lebih Boros? Mari Kita Buktikan

26 September 2022
5 Proyek Pemerintah yang Boros Anggaran Terminal Mojok

5 Proyek Pemerintah yang Boros Anggaran

31 Januari 2023
Mempertanyakan Coffee Shop yang Mematok Harga Tanggung, Bikin Repot Pembeli Saja Mojok.co

Mempertanyakan Coffee Shop yang Mematok Harga Tanggung, Bikin Repot Pembeli Saja

30 Juni 2024
Begini Rasanya Tinggal di Desa yang Tidak Dijangkau GoFood dan GrabFood terminal mojok

Begini Rasanya Tinggal di Desa yang Tidak Dijangkau GoFood dan GrabFood

14 September 2021
Mentang-mentang Gratis, Tisu di Rumah Makan Kadang Diambil Seenaknya. Hadeeeh terminal mojok.co

Mentang-mentang Gratis, Tisu di Rumah Makan Kadang Diambil Seenaknya. Hadeeeh

19 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

27 Januari 2026
5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan Mojok.co

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

26 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.