Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Berdebat Sama Orang Fanatik Itu Merepotkan

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
25 Desember 2019
A A
Berdebat Sama Orang Fanatik Itu Merepotkan

Berdebat Sama Orang Fanatik Itu Merepotkan

Share on FacebookShare on Twitter

2019 sebentar lagi berakhir. Ketika merunut perjalanan sepanjang 2019, garis besar yang saya temui dari awal 2019 hingga akhir adalah bagaimana perbedaan selalu diperdebatkan secara berlarut-larut. Semenjak konflik cebong dan kampret yang menjadi pelatuk untuk membedakan aku kubu ini dan kamu kubu itu. Membuat segala sesuatunya seakan-akan selalu berujung ke jurang perbedaan.

Yang paling baru soal ngasih ucapan selamat natal. Perdebatan dan rasa perbedaannya luar biasa. Saya tidak bicara dalam konteks haram atau tidak. Tapi bagaimana perdebatan itu muncul, nyatanya lahir dari sikap fanatik yang terlalu mengakar di dalam diri masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Mungkin saya saja yang khawatir, yang lain tidak. Namun jika kita berpikir ulang. Buat apa bangsa kita bikin semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walau berbeda-beda tapi tetap satu. Namun dalam praktiknya justru kita masih sering membeda-bedakan dan sulit untuk menjadi satu yaitu Indonesia, terlepas dari apa pun agamanya, sukunya dan warna kulitnya.

Ketika perbedaan ini terus-terusan dipupuk dan sikap fanatik yang berlebihan selalu diutamakan. Saya lagi-lagi khawatir, tahun-tahun ke depannya negeri ini semakin sulit bikin pasukan militer luar angkasa seperti apa yang dibuat Amerika Serikat.

Memang tidak dipungkiri sikap fanatik banyak melahirkan sekat-sekat perbedaan macam intoleransi dan rasis. Ini bukan isapan jempol, faktanya negeri kita masih harus terus belajar jika bicara intoleransi akibat sikap fanatik yang berlebih.

Fanatik pastinya tidak melulu soal agama. Sebelum bicara hal kompleks menyoal agama. Setidaknya kita menyadari bahwa sikap fanatik yang muncul dari hal paling sederhana sekalipun ujungnya akan selalu tidak menyenangkan. Contohnya saja pada suatu waktu saya pernah menulis sebuah postingan di grup Facebook yang menanyakan kenapa cowok-cowok boyband Korea itu jarang punya jenggot dan kumis.

Saya cuma nanya hal paling sederhana yang tentunya tidak ada satupun kata yang menyinggung dalam pertanyaan saya. Tapi bukannya dijawab dengan baik, justru saya dihujat dengan kalimat-kalimat, “kamu tau karya mereka, gak?”, “jangan ngehina gitu, dong”, “ngaca dulu, muka kamu kayak gimana, nj*ng.” Saya tentunya hanya bisa ketawa, sebegitu loyal dan fanatiknya, kah para fans-fans Indonesia terhadap pria-pria Korea?

Padahal itu pertanyaan biasa yang semestinya bisa didebat dengan fakta-fakta rasional. Tapi sikap fanatik membuat semuanya buta dan kalap. Itu contoh paling sederhana dari sikap fanatik yang didasari atas dasar suka dan fans. Ketika melihat adanya kecenderungan yang kontra terhadap idolanya, semuanya akan dihajar.

Baca Juga:

Grup WhatsApp Adalah Tempat Debat Kusir Paling Brutal Kedua Setelah Twitter

Jika Politik Bisa Ada Plot Twistnya, Apakah Cinta Juga Bisa Demikian?

Sikap fanatisme, fanatik dan turunannya memang cukup rumit. Menutup mata terhadap kebenaran dan fakta, hingga tidak mau sejalan dengan logika dan akal rasional. Jika bagi mereka benar, maka itu akan selalu benar. Dan semakin mendekati akhir 2019 ini, sikap-sikap fanatik semakin sering saya lihat, dengar dan rasakan.

Adakalanya saya melihat di sosial media berbagai perdebatan mulai dari yang akar masalahnya sangat serius hingga yang paling tidak penting. Semuanya punya benang merah yang sama, tidak ada penyelesaian di dalam perdebatan itu. Karena apa? Itu tadi, adanya sikap terlalu fanatik terhadap suatu hal.

Saya melihat bahwa justru berdebat dengan orang fanatik sama saja berdebat dengan tembok. Argumen yang kita berikan justru akan mentah ditelan angin. Dan konyolnya, masih banyak orang yang mau repot-repot berdebat dengan orang-orang fanatik walaupun mungkin mereka tahu bahwa mendebat orang fanatik itu benar-benar merepotkan.

Fanatik tidak hanya tentang satu hal, tapi banyak hal. Bahkan jika memperdebatkan soal pengahapusan situs nonton gratisan INDOXXI, ada saja kaum fanatik yang mencemooh kaum pro penghapusan INDOXXI. Padahal si kaum fanatik INDOXXI ini sebenarnya tahu bahwa situs yang mereka kunjungi itu ilegal tapi karena sudah fanatik dan tentu saja ditambah dengan alasan yang dibuat seolah-olah situs INDOXXI itu legal, maka sikap fanatik itu semakin sulit didebat.

Kepuasan ego dari sikap fanatik itu memang luar biasa. Itu saya rasakan sendiri ketika saya mematahkan pendapat orang yang mengatakan bahwa One Piece itu komik yang jelek. Sikap fanatik pada dasarnya dimiliki oleh semua orang. Hanya saja trigger-nya berbeda-beda. Ada yang ketrigger dengan mendengar warga mayoritas mengucapkan selamat Hari Raya untuk warga minoritas, ada yang ketrigger ketika idol-nya diejek hingga ada yang ketrigger ketika junjungannya dikritik. Dan masih banyak trigger-trigger lainnya. Bahkan saat ini pun saya sedang bersikap fanatik seolah-olah tulisan saya ini benar. Aaah, kita semua memang manusia fanatik.

Mungkin benar kata Puthut EA dengan sedikit modifikasi dari saya, “bagi banyak orang, berdebat dengan orang fanatik itu merepotkan. Kadang saya juga merasa begitu. Sebab kemampuan otak saya tiba-tiba berubah menjadi di bawah rata-rata, dan niat berdebatnya malah berubah bukan untuk mencari kebenaran.”

BACA JUGA Tentang Belajar dan Ketakutan-Ketakutan Kita atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: berdebatcebong kampretorang fanatik
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

plot twist

Jika Politik Bisa Ada Plot Twistnya, Apakah Cinta Juga Bisa Demikian?

23 Oktober 2019
Grup WhatsApp Keluarga Besar Adalah Kawah Candradimuka Sebelum Berdebat di Sosial  Media

Grup WhatsApp Adalah Tempat Debat Kusir Paling Brutal Kedua Setelah Twitter

9 Oktober 2020
orangtua

Jangan Gunakan Kepintaran Kita Untuk Berdebat Dengan Orangtua

6 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.