Tentang Belajar dan Ketakutan-Ketakutan Kita

Belajar seringkali butuh keberanian karena kita diharuskan membedah subjek-subjek yang memunculkan kebencian, ketakutan dan prasangka begitu dipikirkan.

Artikel

Avatar

Bagi saya, proses belajar berarti juga pembebasan pikiran. Karena itu, belajar seringkali butuh keberanian karena kita diharuskan membedah subjek-subjek yang sebelumnya terasa asing. Yang karena keterasingannya seringkali memunculkan kebencian, ketakutan dan prasangka begitu dipikirkan.

Belajar bisa saja mengharuskan kita untuk menyalakan lilin pada ruang gelap menyeramkan, mencari-cari sosok hantu yang selalu diceritakan ibu agar kita tidak tidur kelewat malam, lalu menyeret si hantu ke meja bedah untuk diamati satu per satu tiap anggota badannya.

Kita bisa menemukan pisau tajam atau malah boneka beruang lucu dibalik tangannya yang diselimuti kain panjang. Satu per satu bukti demi bukti dicatat sehingga kita bsa tentukan siapa si hantu sebenarnya.

Setelah menyimpulkan, ia bisa saja adalah sesosok kejam yang suka memburu anak kecil. Atau ternyata cuma seorang pedagang bakso murah hati yang kebetulan punya fitur muka mirip narapidana, membuat kita bergumam : “Bangsat! Ternyata aku kena tipu.”

Skenario ini pun bisa jadi 180 derajat berbeda. Pahlawan-pahlawan yang diceritakan tiap pagi di sekolah bisa juga berubah menjadi penjahat-penjahat kejam.

Itulah belajar, mengubah yang tidak diketahui jadi diketahui. Setelah tahu, yang ditakuti jadi dipahami (dan barangkali) lalu ditertawai. Rasa benci bisa berganti hormat. Yang dicintai pun bisa jadi malah dibenci.

Entah ada berapa persekusi, kebencian dan penindasan yang terjadi hanya karena ketidaktahuan dan ketakutan yang tidak beralasan. Sebut saja kasus pengusiran Ahmadiyah di Lombok. Atau konflik dan kebencian yang sering terdengar soal penganut Syi’ah.

Sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui akal sehat. Melalui belajar. Melalui bertanya : Syi’ah atau Ahmadiyah itu kepercayaan yang seperti apa sih? Mereka nyembah siapa? Kalau sesembahannya beda, apa saya harus marah? Ajaran mereka bisa bikin saya terluka nggak sih? Kalau tidak, kenapa harus menyerang sesama manusia yang tidak mengambil apapun dari saya meski kepercayaannya beda?

Semuanya makin ruwet ketika kebencian tadi diselimuti oleh berbagai macam asumsi konyol—soal PKI misalnya. Kebencian terhadap segala hal yang berbau komunis dicampur aduk dengan informasi-informasi yang tak pernah terbukti kebenarannya (dan benar-benar absurd minta ampun) seperti komunis yang akan bangkit, komunis yang rapat di warung makan, komunis yang suka motong kelamin, komunis yang sembunyi di lembaran rupiah, dan sebagainya. Padahal ya semuanya bisa diselesaikan dengan belajar. Dimulai dengan satu pertanyaan sederhana : komunis itu apa sih?

Baca Juga:  Menyemarakkan Takbiran Keliling, Tetapi Enggan Menggemakan Takbir di Masjid Kampung Sendiri

Masih ada lho—orang yang begitu paranoid dengan PKI—percaya kalau Jokowi itu komunis, benci setengah mati pada orang murtad dan tidak lelah berdebat soal halal-haramnya mengucapkan selamat hari raya. Kalau tidak karena paranoid dan benci ya isu-isu kurang kerjaan tadi tidak akan pernah kena tiup yang kencang setiap tahun atau setiap pemilu. Dalam konteks barusan, belajar pun jadi begitu penting.

Penggerak untuk belajar adalah rasa penasaran yang kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan : mulai dari yang dianggap konyol dan tolol sampai yang dianggap terlalu canggih. Ketika pertanyaan telah terlahir langkah selanjutnya adalah pencarian bahan belajar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Entah dari buku, komik, film, nasehat orang tua, guru, video YouTube, dan lain sebagainya.

Saya beruntung punya akses luas kepada bahan bacaan dan tontonan yang membuat saya terdiam lama memikirkan pertanyaan remeh yang ternyata begitu sulit untuk dijawab sendiri. Membaca juga membuat saya terjaga di tengah malam memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat banyak orangtua menghardik anaknya dengan kalimat sakti, “Hush, jangan ngomong gitu!”

Di situlah bagian sialnya, saudara-saudara. Ketika sejak kecil pikiran kita seringkali dipotong semena-mena dengan perkataan, “jangan ngomong gitu!”

Sedikit sekali ruang untuk mengutarakan pertanyaan dan pernyataan yang sedikit nyerempet. Budaya sehari-hari kita seolah lalu lintas yang begitu padat penuh ketakutan dan barangsiapa yang berani melawan arus akan kena tabrak 13 motor sport berkecepatan tinggi. Kalau tidak kecelakaan dan kapok melawan arus—ya mati.

Ketakutan-ketakutan ini pun jadi makin terwujud dalam kehidupan masyarakat dengan adanya pasal-pasal karet seperti UU ITE yang sudah menjerat beberapa orang yang berani-beraninya melawan arus dengan pernyataan nyeleneh dan kasar menurut standar orang lain.

Sebut saja Ahok, Andre Taulany, Ahmad Dhani, Rocky Gerung sampai Habib Rizieq. Orang-orang ini dilaporkan karena “menista”, “menyinggung”. Objek-nya dari agama sampai lambang negara. Saya dan banyak orang juga tidak setuju dengan beberapa pernyataan mereka. Tentu kita bisa berdebat, tapi rupanya ada saja orang-orang cepat tanggap yang mengusulkan : “penjarakan saja, bung!”

Karena itu, selamat! Kini budaya ketakutan kita telah naik tingkat menjadi undang-undang! Ruang diskusi akhirnya menjadi begitu sempit karena filter-filter yang begitu ganas menghabisi pertanyaan-pertanyaan kita. Filter-filter ini bisa datang dalam bentuk undang-undang. Sedangkan dalam bentuk yang paling merakyat ia ada pada budaya ketakutan masyarakat kita yang begitu sering terlihat.

Baca Juga:  Rendahnya Selera Pekerjaan Sarjana Masa Kini, Iyakah?

Ironisnya, bahkan di institusi pendidikan pun ketakutan-ketakutan terhadap subjek tertentu tetap terpelihara dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan juga dibunuh. Entah ada berapa guru yang saya dengar sendiri menyebarkan ketakutan terhadap komunisme dan atheisme dengan analisa yang ngawur.

Meskipun ya hal itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bagaimana tidak, banyak dari guru-guru ini menghabiskan 32 tahun dari rentang hidup mereka dicekoki propaganda penuh kebencian lewat sekolah, koran, film dan TV.

Buku-buku pelajaran sekolah pun sangat tidak memadai untuk memprovokasi siswa dalam bertanya. Seringkali fokus dari buku-buku ini hanya untuk menghafal, menjawab soal-soal mengenai nama, hari, tanggal dan tempat. Siswa dan guru pun terpaksa harus mengikuti karena dikejar target dapat nilai tinggi sewaktu ujian semester dan ujian nasional.

Belum lagi soal pemberantasan dan pelarangan buku-buku kiri juga pemblokiran beberapa situs internet. Akhirnya, ketika ada satu-dua anak yang beruntung bisa lolos dari jeratan lingkaran setan pendidikan kita, yang mulai penasaran dan ingin melihat dari perspektif berbeda, beberapa bahan belajarnya justru sudah dibakar terlebih dahulu.

Meski sebenarnya kita tidak perlu terlalu bersedih juga, sih. Karena pada akhirnya internet tetap dapat meloloskan media-media alternatif yang bisa sedikit melawan arus dan syukur-syukur bisa memengaruhi orang-orang yang juga sama-sama jenuh dengan segala ketakutan ini.

Tempat-tempat yang mendorong kita untuk bertanya akan selalu hadir, meski mungkin lingkupnya masih kecil. Pengaruh mereka masih kalah kalau dibandingkan dengan media arus utama yang lebih hati-hati. Tapi mereka akan tetap ada dan justru terlihat makin menjamur.

Sarana-sarana non-internet seperti perpustakaan, bioskop, dan toko buku pun akan tetap punya pengaruh. Saya, misalnya, memulai petualangan intelektual saya dari film Gie rekomendasi teman sekolah dan buku cerpen Pramoedya di perpustakaan SMP.

Jadi, belajarlah! Bahan-bahannya sebenarnya sudah ada dan mudah sekali didapat. Nonton dan baca yang banyak—akan ada saatnya orang-orang yang anda kenal mungkin bisa meludahi anda rame-rame kalau mereka tahu isi pikiran anda. Tapi ya, apa boleh buat kan? Sekali-kali mencoba jadi waras bukanlah pilihan yang jelek.

---
826 kali dilihat

10

Komentar

Comments are closed.