Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Benteng Van der Wijck Gombong, Warisan Sejarah yang Terjebak Jadi Wahana Murahan

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq oleh Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
20 September 2025
A A
Benteng Van der Wijck Gombong Kini Sebatas Wahana Murahan (Unsplash)

Benteng Van der Wijck Gombong Kini Sebatas Wahana Murahan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Bayangkan, ada bangunan segagah Benteng Van der Wijck Gombong, Kebumen. Konon, benteng ini adalah satu-satunya benteng oktagonal di Indonesia, usianya lebih dari dua abad, dinding bata merahnya tebal dan kokoh. 

Kalau di luar negeri, bangunan model begini biasanya jadi destinasi wajib turis sejarah, tempat mahasiswa arsitektur studi lapangan, dan sejarawan bikin diskusi. Tapi di Gombong? Yang paling laris justru kereta kelinci yang muter-muter di atas atap. Rasanya kayak punya profesor sejarah yang malah disuruh jadi badut ulang tahun. 

Sebagai orang Kebumen yang lahir, tumbuh, dan sering main di benteng luar biasa ini, saya kadang merasa antara bangga sekaligus nelangsa. Bangga karena punya peninggalan bersejarah yang levelnya nasional, bahkan unik di Asia Tenggara. Tapi nelangsa karena pengelolaannya bikin benteng itu lebih mirip pasar malam permanen ketimbang situs sejarah.

Sejarah Benteng Van der Wijck Gombong yang (nyaris) tertimbun wahana

Benteng Van der Wijck Gombong dibangun sekitar tahun 1820-an oleh Hindia Belanda. Bentuknya segi delapan (oktagonal), konon satu-satunya di Indonesia. 

Fungsinya macam-macam. Dulu markas militer Belanda, kemudian sekolah semi-militer (Pupillen School), zaman Jepang dipakai PETA, dan terakhir sempat jadi barak ABRI. Dengan kata lain, benteng ini saksi perjalanan sejarah militer kita. 

Tapi, kalau datang sekarang, narasi sejarah itu kalah pamor sama wahana hiburan. Tiket masuk Rp25.000. Lalu, di dalamnya, kamu akan menemukan playground, kolam renang, sampai kereta mini. 

Ada, sih, papan sejarah seadanya, tapi sering kusam dan tak terawat. Lorong-lorong panjang yang semestinya bisa jadi pameran interaktif, malah kosong. Pengunjung Benteng Van der Wijck Gombong jadi bingung. Ini tempat sejarah atau taman hiburan yang kebetulan ada bangunan tua?

Benteng gagah, wahana murahan

Jujur, saya nggak anti hiburan. Anak kecil butuh main, keluarga butuh rekreasi. Tapi apakah pantas bangunan bersejarah sekelas Benteng Van der Wijck Gombong diperlakukan seperti itu? 

Baca Juga:

Purwokerto dan Salatiga: Kota paling Aneh di Indonesia, tapi Justru Paling ideal untuk Menetap dan Hidup Tenang

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

Kadang saya mikir. Benteng segede itu kok cuma jadi latar belakang kereta kelinci. Sama saja kayak punya perpustakaan nasional tapi isinya cuma komik Doraemon bajakan. 

Ironisnya, wahana hiburan yang ada pun tidak semuanya terawat. Beberapa sudah aus, ada yang jarang dipakai, bahkan tak jelas fungsinya. Sementara, bangunan benteng sendiri dibiarkan dengan ruang-ruang kosong yang potensinya luar biasa.

Bayangan museum hidup di Benteng Van der Wijck Gombong

Saya sering membayangkan, seandainya Benteng Van der Wijck Gombong dikelola serius. Tempat itu bisa jadi museum hidup yang luar biasa. 

Anak-anak sekolah bisa belajar sejarah kolonialisme langsung dari bangunannya. Mahasiswa bisa melakukan penelitian. Turis bisa datang untuk merasakan pengalaman sejarah. 

Coba bayangkan, lorong-lorong benteng luar biasa ini diisi diorama digital, replika senjata, arsip perjuangan, atau pameran multimedia. Atau ada tur berpemandu yang menjelaskan tiap sudut, menjelaskan mana ruang prajurit, mana tempat latihan, mana bekas markas PETA.

Wisata sejarah bisa tetap menyenangkan, tanpa harus ditutupi wahana-wahana instan yang malah menenggelamkan esensi sejarahnya. Kalau butuh contoh, nggak usah jauh-jauh. Lihat Benteng Vredeburg di Yogyakarta. 

Bangunannya sama-sama kolonial, tapi di sana ada diorama, ada pameran, dan narasi yang jelas. Orang datang bukan cuma foto-foto, tapi juga pulang dengan tambahan pengetahuan. Atau Fort Rotterdam di Makassar, yang dikelola serius dengan koleksi sejarah dan jadi pusat kegiatan budaya.

Harapan dari Gombong

Sebagai orang Gombong, saya cuma punya harapan sederhana. Jangan biarkan benteng luar biasa ini kehilangan marwahnya. 

Jangan hanya jual tiket, karcis parkir, dan kereta kelinci. Benteng itu lebih dari sekadar wahana mainan. Ia adalah pengingat sejarah, saksi kolonialisme, dan bagian dari identitas Kebumen. 

Kalau pemerintah daerah dan pengelola serius, Benteng Van der Wijck Gombong ini bisa jadi ikon wisata sejarah Jawa Tengah. Bahkan bisa menjadi kebanggaan bukan cuma warga Gombong, tapi juga seluruh Indonesia. Wisata hiburan boleh tetap ada, tapi sebaiknya dipisahkan atau dikemas dengan lebih elegan. 

Saya ingin suatu saat nanti, anak-anak sekolah dari seluruh Indonesia datang ke Benteng Van der Wijck Gombong bukan cuma buat selfie di atap naik kereta, tapi juga pulang dengan cerita:

“Oh, jadi begini sejarah militer di Kebumen. Begini bentuk perlawanan lokal. Begini arsitektur kolonial Belanda.” Itu jauh lebih berharga daripada sekadar main kereta yang bolak-balik tanpa arah.

Benteng Van der Wijck Gombong itu bukan bangunan biasa. Ia saksi sejarah, warisan budaya, dan aset besar bagi Kebumen. Sayangnya, sampai hari ini, pengelolaannya masih membuatnya lebih mirip pasar malam ketimbang situs sejarah.

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kenapa Gombong? Karena Gombong Adalah Kecamatan Terbaik dan Berdikari di Kabupaten Kebumen

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 September 2025 oleh

Tags: Benteng Van der WijckBenteng Van der Wijck GombongGombongjawa tengahKebumenwisata Gombongwisata kebumen
Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Mahasiswa kabupaten yang sering pulang untuk mengamati rumah sendiri yang perlahan berubah.

ArtikelTerkait

5 Ide Bisnis yang Sangat Cocok Dikembangkan di Temanggung

5 Ide Bisnis yang Sangat Cocok Dikembangkan di Temanggung

11 Agustus 2023
Jalan Tol Ungaran-Salatiga Adalah Tol dengan Pemandangan Paling Cantik di Jawa Tengah

Jalan Tol Ungaran-Salatiga Adalah Tol dengan Pemandangan Paling Cantik di Jawa Tengah

15 Desember 2024
Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah Mojok.co

Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah

21 Juli 2024
Kecamatan Randublatung Blora: Dulu Dicap Ndeso, Sekarang Sudah Maju dan Layak Bersaing dengan Daerah Lain

Kecamatan Randublatung Blora: Dulu Dicap Ndeso, Sekarang Layak Bersaing dengan Daerah Lain

1 Februari 2024
Jalan Pandanaran, Short Getaway Terbaik di Kota Semarang (Unsplash)

Cuma Punya Waktu Terbatas untuk Menikmati Keindahan Kota Semarang? Ke Jalan Pandanaran Aja!

29 November 2023
Jalan Sarjono Ambarawa, Jalan Terindah Se-Jawa Tengah yang Bisa Jadi Tempat Healing Gratis Mojok.co

Jalan Sarjono Ambarawa, Jalan Terindah Se-Jawa Tengah yang Bisa Jadi Tempat Healing Gratis

3 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati Mojok.co

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati

31 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh Mojok.co

Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh

28 Maret 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.