Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Bendera Partai di Jalanan: Ide Kuno yang Nggak Relevan

Atik Soraya oleh Atik Soraya
18 Februari 2023
A A
Bendera Partai di Jalanan: Ide Kuno yang Nggak Relevan

Bendera Partai di Jalanan: Ide Kuno yang Nggak Relevan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau belum kiamat, 2024 nanti bakal ada pesta demokrasi di Indonesia buat pemilihan presiden. Walau sebenarnya terhitung masih ratusan hari lagi, partai dan seisinya mulai “memperkenalkan diri” kepada khalayak umum lewat berbagai cara.

Sebenarnya emang belum boleh sih mulai spill-spill kampanye. Tapi, ya, beberapa sudah nyuri start untuk kampanye. Tapi, yang bikin aneh tuh, metode mereka berkampanye. Maksud saya, masa udah nyuri start, terus pake metode usang macem pasang bendera partai di jalanan, sih? Udah tahun segini, lo. Udah 2023! Serius nih, masih pasang bendera partai di pembatas jalan?

Sumpah demi apa pun, bendera partai di jalanan itu adalah ide konyol yang paling kuno dan udah nggak relevan lagi. Dari zaman saya SD, sampai saya udah kerja dan jadi generasi sandwich begini itu metode pasang bendera masih dilakuin. Mohon maaf ini saya hanya sekadar mengingatkan, tukang ojek aja udah sudah mengubah metode jadi pake teknologi lewat handphone jadi tinggal fafifu wasweswos. Masa kampanye politik masih pake cara puluhan tahun lalu?

Setelah selesai baca artikel ini, coba deh buka TikTok dan lihat ada berapa banyak orang yang senang atau justru keganggu banget sama bendera partai warna warni yang dikibarin di sepanjang jalan. Bukannya membangun awareness, malah membangun rasa benci dan emosi di jalanan, lo.

Masih banyak kok ide kreatif lain yang bisa digodok biar partai bisa dapat atensi dari masyarakat.

Soalnya selain udah nggak relevan dan sangat tidak dapat diukur efektivitasnya, itu bendera juga membahayakan pengguna jalan Pak/Bu.

Baru hari ini kejadian, bus Transjakarta yang saya tumpangi malam ini perlu berjalan ekstra hati-hati karena bendera yang dipasang di pembatas jalan itu oleng ke bahu jalan dan menutupi jalur bus. Kalau dihantam, kaca bus mungkin akan rusak karena tiang bambu yang dipasang bendera masih cukup keras. Kondisi yang begini nggak cuman sekali. Saking banyaknya bendera dari partai Bapak/Ibu dipasang di jalanan, saya sampai udah nggak tau lagi mau berkata apa.

Kalau Bapak/Ibu mungkin pulang-pergi naik kendaraan pribadi yang mungkin juga akan dikendarai supir, pasti akan tidak relevan sama masalah yang tadi saya jelaskan. Tapi, emang jangan relevan deh, soalnya nggak enak banget berkendara dengan penuh hati-hati karena dihadapkan rintangan yang konyol begitu.

Baca Juga:

Pemeran Dirty Vote Bicara: Zainal Arifin Mochtar Buka-bukaan tentang Film Panas Pemilu 2024

4 Nasihat dalam “Upin dan Ipin” yang Cocok buat Caleg Pemilu 2024

Di sepanjang jalan Sudirman itu sudah cakep banget, vibes-nya berasa di luar negeri, lo. Eh tapi melihat ada bendera partai di pembatas jalannya bikin saya sadar kalau saya masih di Indonesia.

Lagian, ya, saran saya sih mending sejumlah dana yang ada itu lebih baik diakomodasikan untuk membuat strategic campaign yang ciamik buat menyasar target pencoblos daripada bikin bendera atau bahkan sampai bikin kaos partai yang bahannya bikin gerah itu.

Hire aja strategic planner yang top markotop buat menyasar target pencoblos yang Bapak/Ibu tentukan. Budget yang dihabiskan bisa jadi lebih efektif, efisien, terarah, terukur kalau sudah digodok sesuai dengan tingkat relevansi di era masa kini.

Kalau mau lebih mantap lagi, Bapak/Ibu bisa supervisi juga rencana-rencana yang disusun seorang Strategic Planner. Tapi memang perlu kecakapan dan sense yang bagus dari Bapak/Ibu sendiri biar nggak jadi ngalor ngidul lagi. Masa cuman supervisi saja nggak bisa, ya pasti bisa dong.

Saran saya lagi nih Pak/Bu petinggi partai, buat campaign yang dekat dan mengenal warganya juga lah. Jangan sekadar bagi beras dan duit. Warganya juga di sini bukan cuma kolega Bapak/Ibu yang juntrungannya sama. Kenal sama tetangga saya yang tiap hari harus bangun jam 3 subuh buat bikin nasi uduk misalnya. Atau sama kakak-kakak di wilayah Timur sana. Sama abang ojol atau abang kurir. Ya, sama siapa saja deh yang background nya beda dari bapak/ibu. Itung-itung kan bisa membangun dan memupuk empati juga nih kalau-kalau udah lupa rasa empati.

Oh iya, satu lagi yang menurut saya perlu digaris bawahi. Tolong banget kalau mau campaign ya barangkali bisa disesuaikan penggunaan bahasanya sesuai segmen. Saya yang hobi baca aja suka males kalau baca tagline dari partai-partai yang kebanyakan pakai bahasa yang normatif gitu. Kayaknya memungkinkan aja kok untuk buat senyaman dan secasual mungkin, namun tetap punya makna dan berbobot. Tapi hati-hati jadi cringe, ya. Yang udah-udah bisa jadi cringe soalnya.

Intinya sih, kurang-kurangin pasang bendera partai di jalan. Please, udah 2023, lebih kreatif bisa kan ya.

Penulis: Atik Soraya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bendera Indonesia Terbalik dan Burung Garuda yang Dimakan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2023 oleh

Tags: bendera partaipemilu 2024
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

17 November 2023
Ketika Dosen dan Mahasiswa Bingung Memilih Capres 2024 untuk Pemilu 2024 (Unsplash)

Ketika Dosen dan Mahasiswa Bingung Memilih Capres 2024 untuk Pemilu 2024

29 Juni 2023
Sudah Waktunya Susi Pudjiastuti Diperhitungkan sebagai Capres

Sudah Waktunya Susi Pudjiastuti Diperhitungkan sebagai Capres

24 Juli 2022
4 Oleh-oleh Khas Solo yang Sebaiknya Jangan Dibeli revitalisasi Solo kaesang pangarep

Solo, Tempat yang Lebih Ideal bagi Kaesang Pangarep untuk Memulai Karier Politiknya, Bukan Depok, Bukan Sleman

10 Juni 2023
Saya Benci PSI, tapi Saya Harus Akui Strategi Brandingnya Hebat

Saya Benci PSI, tapi Saya Harus Akui Strategi Brandingnya Hebat

24 Oktober 2023
Menganalisis Sosok Berinisial G yang Diramal Jadi Presiden RI 2024 terminal mojok.co

Menganalisis Sosok Berinisial G yang Diramal Jadi Presiden RI 2024

9 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

21 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.