Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Benarkah Jadi Anak PNS Hidupnya Pasti Sejahtera?

Garneda Puspa Pinandhita oleh Garneda Puspa Pinandhita
16 Juni 2021
A A
Jadi PNS Nggak Melulu Enak, Inilah Hal-hal Pilu yang Harus Dihadapi Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah kalian mendengar kalimat “anak PNS pasti hidupnya sejahtera”, “jadi PNS aja, pasti hidupnya terjamin”, “Jadi guru aja, biar punya tunjangan dana pensiun di masa tua”? Kalimat-kalimat tersebut tentu tidak asing di telinga kita. Pegawai negeri sipil atau yang biasa disingkat PNS umumnya memiliki label positif yang dikaitkan dengan kesejahteraan di masa depan. Lantas, benarkah kehidupan seorang pegawai negeri sipil benar-benar sejahtera?

Umumnya seorang pegawai negeri sipil hidup dalam keadaan sejahtera. Hal ini dapat dilihat dari hak yang mereka peroleh berupa dana pensiun di hari tua, asuransi Kesehatan, tabungan perumahan, bahkan asuransi pendidikan putra putrinya. Dalam realitasnya, tidak semua pegawai negeri sipil hidup sejahtera. Sebagian dari mereka terlunta-lunta untuk bertahan hidup dan membiayai sendiri pendidikan putra-putrinya.

Ada sebuah kisah nyata yang menggambarkan bahwa kehidupan seorang PNS tidak menjamin kesejahteraan. Kebutuhan hidup yang kian mendesak membuat sebagian PNS mengambil pinjaman bank dengan konsekuensi pemotongan gaji tiap bulan. Mirisnya, besar pinjaman dari bank mengharuskan gaji tersebut hanya bersisa 5-10 persen dari total gaji keseluruhan. Apabila tunjangan plus gaji tiap bulan hanya berkisar 5-6 juta, bagaimana seorang PNS dengan empat anak dan satu istri yang tidak bekerja bertahan hidup dengan uang 500 ribu perbulan?

Tentu uang 500 ribu tersebut tidak akan cukup untuk membiayai anak-anaknya yang sedang duduk di bangku sekolah dan bangku universitas. Bahkan uang tersebut masih kurang untuk kebutuhan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Tak jarang kesulitan masalah finansial menghambat pendidikan salah seorang anaknya yang tengah duduk di bangku kuliah.

Bayangkan saja jika setiap mahasiswa harus membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) setiap semester. Namun, keadaan orang tuanya sebagai seorang PNS tidak cukup untuk menutup biaya tersebut. Alhasil sang anak melakukan pengajuan kepada pihak kampus terkait biaya pendidikannya. Namun, sangat disayangkan terlahir sebagai anak PNS seringkali dimarjinalkan dalam hal penurunan biaya pendidikan.

Pegawai negeri sipil seringkali dianggap sebagai golongan menengah ke atas. Itu artinya orang orang yang bekerja sebagai PNS dianggap sebagai golongan orang mampu. Tak peduli berapa banyak pinjaman yang membuat hidupnya dirundung kesulitan, tak peduli seberapa memprihatinkannya bangunan rumah yang ia punya, tak peduli bagaimana keluarganya kesulitan mendapatkan akses pendidikan maupun kesehatan.

Sebagai seorang individu saya tidak sepenuhnya percaya bahwa kehidupan PNS dapat menjamin kesejahteraan. Sebab kesejahteraan tidak bisa diukur dengan bertumpu pada konsistensi gaji yang diterima dan label positif yang tersemat pada pola pikir masyarakat. Maka kebijakan-kebijakan yang mengecualikan PNS tanpa melihat faktor lain sebagai pertimbangan dirasa sangat tidak relevan. Tidak adil rasanya label “PNS hidup sejahtera” mengakibatkan sebagian orang kehilangan haknya untuk memperoleh akses pendidikan maupun kesehatan.

Berkaitan dengan paradigma masyarakat mengenai kesejahteraan PNS, kita perlu memahami definisi kesejahteraan terlebih dahulu. Kesejahteraan seringkali dikaitkan dengan kondisi dimana manusia merasa aman, makmur, sehat dan damai. Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2009, kesejahteraan sosial didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

Baca Juga:

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

Berdasarkan pengertian di atas, Biro Pusat Statistik menerapkan beberapa indikator untuk melihat kesejahteraan masyarakat. Ada pun indikator yang dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai kesejahteraan masyarakat meliputi: tingkat pendapatan keluarga, komposisi pengeluaran rumah tangga, tingkat Pendidikan keluarga, tingkat kesehatan keluarga serta kondisi perumahan dan fasilitas yang dimiliki oleh sebuah keluarga.

Sebuah keluarga dapat dikatakan sejahtera apabila lima indikator tersebut terpenuhi. Selain itu, faktor emosional seseorang juga menentukan tingkat kepuasan terhadap apa yang mereka miliki. Itulah sebabnya definisi kesejahteraan tidak dapat dipukul rata pada semua orang. Sebab setiap orang memiliki tingkat kepuasan masing masing. Definisi dan indikator mengenai kesejahteraan saya rasa mampu membuat kita berpikir Kembali mengenai labelisasi kesejahteraan PNS yang secara tidak langsung dipukul rata dalam pandangan masyarakat.

Meskipun demikian, saya yakin tidak semua orang setuju dengan cara pandang saya terhadap label kesejahteraan PNS. Sebagian dari kalian tentu akan membawa daftar bukti tunjangan gaji perbulan, tunjangan hari raya, tunjangan profesi guru, sertifikasi, maupun bukti dana pensiun untuk membuktikan bahwa pegawai negeri sipil terjamin perihal kesejahteraannya.

Tapi, yang perlu digarisbawahi adalah kertas-kertas tersebut tidak memberikan bukti bahwa jadi anak PNS itu berarti hidup sejahtera. Stigma tentang anak PNS terkadang justru membuat masalah baru dan jarak baru yang ada di masyarakat.

BACA JUGA Masih Ngebet Jadi PNS? Daftar Aja!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2021 oleh

Tags: gajiGaya Hidup Terminalkesejahteraanpnstunjangan
Garneda Puspa Pinandhita

Garneda Puspa Pinandhita

Halo, perkenalkan nama saya Garneda Puspa Pinandhita. Saya adalah seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi dari UNY. Hobby saya yaitu membaca, menulis, dan bersepeda. saya memiliki ketertarikan di bidang isu sosial politik dan kesehatan mental.

ArtikelTerkait

5 Kiat Menolak Teman PNS yang Suka Ngemplang Utang (Pixabay)

5 Kiat Menolak Teman PNS yang Suka Ngemplang Utang

9 November 2022
Menjawab Tudingan Orang-orang yang Belum Pernah ke Luar Negeri Tentang Singapura yang Katanya Nggak Beda Jauh sama Indonesia terminal mojok

Menjawab Tudingan Orang-orang yang Belum Pernah ke Luar Negeri Tentang Singapura yang Katanya Nggak Beda Jauh sama Indonesia

18 Juli 2021
Dilema Mantan Aktivis yang Kini Jadi PNS: Ingin Ikut Demo, tapi Takut Karier Terancam  Mojok.co

Dilema Mantan Aktivis yang Kini Jadi PNS: Ingin Ikut Demo, tapi Takut Karier Terancam 

3 September 2025
Sisi Gelap Kerja FnB Caci Maki Dinormalisasi Bikin Mental Hancur (Unsplash)

Sisi Gelap Bekerja di FnB Tangerang: Gaji di Bawah Standar, Owner Bengis, Caci Maki Dinormalisasi, hingga Mental yang Hancur

11 Agustus 2025
penyintas covid-19 pandemi menanyakan kabar mojok

Ketika Menanyakan Kabar Bukan Lagi Sekadar Basa-basi di Masa Pandemi

28 Juli 2021
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns

Pesan buat PPPK, Stop Merengek untuk Dijadikan PNS, Permintaan Kalian Itu Absurd dan Nggak Masuk Akal

24 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.