Belajar Mencintai Buku kepada Maudy Ayunda, Velove Vexia, dan Sherina Munaf

Ketika kebanyakan pelajar mumet dan benci ujian sekolah, Maudy Ayunda dengan entengnya mengaku menyenangi belajar dan ujian.

Artikel

Erwin Setia

Apa iya semua publik figur serupa Young Lex dan Awkarin? Yang tidak muncul kecuali dengan hal-hal sensasional dan kontroversial belaka? Tentu tidak. Kedua artis muda itu dan yang semacam mereka kan hanya bagian kecil saja dari ribuan artis yang ada di negeri ini. Kepopuleran mereka tidak menunjukkan bahwa semua artis berperangai demikian. Justru tenarnya mereka menunjukkan identitas publik Indonesia yang sebenarnya yang memang lebih doyan hal-hal sensasional dan kontroversial daripada hal-hal esensial.

Apa yang esensial itu? Kepedulian terhadap literasi dan kecintaan terhadap buku, misalnya. Apakah ada artis yang model begini? Ada, tentu saja. Tapi kenapa nama mereka tidak sepopuler Ria Ricis dan Atta Halilintar yang konten-konten vlognya tidak terlalu berfaedah-faedah amat? Jawabannya simpel: karena memang kebanyakan masyarakat kita lebih suka hal tidak penting-penting amat ketimbang membicarakan literasi dan membaca buku. Hehehe.

Jadi, salah siapa? Salah artis-artis kita? Salah masyarakat kita? Salah gue? Salah teman-teman gue? Salah keluarga gue? Oke, stop.

Tidak salah siapa-siapa, sih, dan tidak ada gunanya menyalahkan siapa-siapa. Apalagi menyalahkan rezim atau orang tertentu hanya karena masalah artis yang kurang memberi teladan baik kepada publik.

Soal ini, saya jadi teringat sama Dian Sastro. Iya, itu lho, alumnus Filsafat Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? Beberapa tahun lalu, artis idaman kaum adam tahun 2000-an awal itu pernah membacakan cerpen Seno Gumira Ajidarma dengan gaya yang asyik banget. Cerpen yang ia baca berjudul Jawaban Alina, cerita sekuel dari cerpen terkenal Sepotong Senja untuk Pacarku. Video pembacaannya itu beredar di YouTube dan saya pikir lebih layak ditonton ketimbang video-video prank ala Youtubers yang sering kali tidak jelas gunanya.

Pembacaan cerpen mungkin hanya hal sepele. Tapi, tidak lagi menjadi hanya hal sepele ketika itu dilakukan oleh seorang Dian Sastro. Sama seperti pembacaan puisi mungkin bukan hal penting-penting amat, tapi ketika yang membaca puisi itu Sukmawati dengan puisinya Ibu Indonesia, seketika puisi pun bikin geger banyak orang.

Baca Juga:  Maudy Ayunda Bicara Soal Beauty Bullying, Orang-Orang Jelek Makin Sedih

Maka, pembacaan cerpen Seno Gumira Ajidarma oleh Dian Sastro menjadi terasa spesial. Dengan cara sesederhana membacakan cerpen, secara tidak langsung Dian Sastro telah memberi keteladanan baik tentang pentingnya membaca dan kepedulian terhadap karya sastra. Itu hal-hal positif yang jarang kita temukan dari selebritas Indonesia. Ketika kebanyakan artis dihebohkan dengan kasus pertengkaran, perceraian, pelakor, pebinor, bau ikan asin, dan hal-hal tidak penting semacam itu, kehadiran orang-orang sejenis Dian Sastro yang mempertotonkan pembacaan karya sastra bagaikan oase yang menyegarkan.

Kabar baiknya, bukan hanya Dian Sastro. Ada beberapa artis lain yang juga konsisten mengajarkan soal pentingnya literasi dan buku kepada publik khususnya para penggemar mereka. Walaupun memang artis-artis tersebut tidak terang-terangan bilang “Ayo baca buku!” atau “Mari ramaikan perpustakaan demi masa depan Indonesia yang lebih baik!”

Di antaranya adalah Maudy Ayunda, aktris dan penyanyi muda yang sempat bikin banyak orang bingung mau ngomong apa ketika kebanyakan orang pusing mesti melanjutkan kuliah ke mana. Eh, dia malah pusing harus milih Harvard University atau Stanford University karena udah diterima keduanya. Pada suatu acara wawancara dengan Najwa Shihab, pemeran Kugy di film Perahu Kertas itu juga sempat bikin orang menggeleng-gelengkan kepala. Ketika kebanyakan pelajar mumet dan benci ujian sekolah, Maudy Ayunda dengan entengnya mengaku menyenangi belajar dan ujian.

Oleh karena itu, tak heran, ketika para artis lain hanya menggunggah foto mereka hang out ke suatu tempat eksotis atau dengan fesyen teranyar, Maudy Ayunda sempat-sempatnya menggunggah foto buku di akun Instagram-nya (@maudyayunda). Ya, buku! Buku bacaan Maudy juga bukan main-main, lho. Bukan buku picisan atau kumpulan cerita humor. Di antaranya Maudy pernah mengunggah foto buku Jalaluddin Rumi. Bahkan, baru-baru ini ia mengunggah foto buku Sapiens, sebuah buku sains yang sedang hits karya Yuval Noah Harari—buku yang juga dibaca oleh Mark Zuckerberg dan Barrack Obama.

Baca Juga:  Quarter Life Crisis dan Alasan Kenapa Kita Sangat Peduli Terhadap Angka (Khususnya Gaji)

Selain Maudy Ayunda, ada juga Velove Vexia (@vaelovexia) yang rajin mengunggah buku bacaannya di akun Instagram. Sama seperti Maudy, bacaan putri pengacara terkenal OC Kaligis ini juga lumayan berkelas dan berat. Di antaranya ia pernah mengunggah foto buku filsafat Jacques Lacan. Sedangkan kiriman terbarunya tentang buku adalah foto buku Enlightment Now karya seorang profesor Harvard, Steve Pinker.

Beranjak menuju Twitter, saya dibuat takjub dengan sebuah twit Sherina Munaf (@sherinasinna) pada Hari Buku Nasional, 17 Mei lalu. Ia menulis: “Merasa kurang cerdas untuk jadi “pembaca buku”? Susah? Pelan-pelan. Tebal? Sabar, ‘ntar nyesal kalau cepat kelar. Nggak suka? ‘Kan jadi ngeh sukanya apa. Penulis “jenius” saja harus mulai dari paragraf satu. Maka kamu pembaca, mulai dulu dari halaman pertama. #HariBukuNasional.”

Demikianlah. Apa yang dilakukan Dian Sastro, Maudy Ayunda, Velove Vexia, dan Sherina Munaf sepintas terlihat kecil dan remeh. Padahal, sebetulnya secara tidak langsung, dengan penampilan dan postingan mereka soal buku dan membaca, mereka turut andil dalam memperkenalkan salah satu habit terbaik dalam peradaban manusia—yaitu membaca—kepada khalayak.

Mungkin efek tindakan mereka itu tidak sesignifikan postingan-postingan kontroversial. Namun tetap saja, kehadiran artis semacam mereka patut dibanggakan dan diapresiasi. Setidaknya, itu membuat kita percaya, tidak semua artis seburuk dan semenjengkelkan yang kita kira.

BACA JUGA Bookstagrammer, Selebgramnya Pencinta Buku atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
600 kali dilihat

27

Komentar

Comments are closed.