Dosen pembimbing atau dosbing skripsi salah satu penentu kelulusan mahasiswa di kampus. Setiap dosen pembimbing tentu memiliki karakter berbeda ketika membimbing mahasiswa-mahasiswanya. Ada yang mempermudah mahasiswa, ada pula yang justru mempersulit mahasiswa untuk lulus karena sangat sulit untuk ditemui atau dihubungi.
Saat kuliah dahulu, saya mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang juga merupakan dekan fakultas alias pemimpin tertinggi di fakultas. Seorang dekan tentu memiliki kesibukan yang jauh lebih padat dibandingkan dosen lainnya. Awalnya saya pesimis skripsi saya akan lancar. Sebab, kata orang-orang, dosbing yang sibuk biasanya akan menghambat proses pengerjaan. Kenyataannya, ketakutan saya terpatahkan.
Dekan ternyata relatif lebih mudah ditemui di kampus
Banyak mahasiswa skripsi mengeluhkan sulitnya bertemu dengan dosen pembimbingnya karena satu dan dua lain hal. Ada yang sibuk di luar kampus, ada yang sibuk kuliah lagi, ada pula yang entah hilang ke mana. Untungnya, pengalaman itu tidak saya rasakan. Dosbing skripsi seorang dekan ternyata lebih mudah ditemui di kampus.
Saat akan meminta tanda tangan beliau, saya biasanya akan langsung menuju ke ruangan dekan yang ada di dekanat. Sebab, jika menunggu pesan dibalas rupanya membutuhkan waktu karena tertumpuk. Jadi, daripada menunggu tanpa kepastian, saya nekat menuju ruangannya. Saking seringnya bolak-balik ke ruangan dekan, sekretarisnya sampai hafal wajah saya.
Saya pun bisa bimbingan dengan nyaman di ruang dekan yang berbeda dengan ruang dosen pada umumnya. Biasanya, sambil menunggu giliran bimbingan, saya mengamati sekitar. Di sana ada koleksi skripsi mahasiswa S1 sampai S3, foto-foto dekan periode sebelumnya, kulkas, meja bundar yang panjang, sofa yang empuk, sampai camilan yang tertata rapi di mejanya. Bimbingan di ruangan memang nyaman, tapi akhirnya akan keringat dingin juga kalau banyak revisi.
Dosen pembimbing skripsi tetap memerhatikan mahasiswa bimbingannya
Saya mengerti betul bahwa seorang dekan memiliki aktivitas yang sangat padat. Ada rapat di fakultas, rapat di rektorat, jadi pembicara, mengurus fakultas, sampai bertugas di acara wisuda fakultas. Meski demikian, syukurnya dosbing saya tidak lepas tanggung jawab terhadap mahasiswa yang dibimbingnya. Beliau selalu menyempatkan waktu untuk bimbingan skripsi.
Bahkan, beberapa kali saya yang diminta untuk menemuinya untuk membahas penelitian yang sedang berjalan. Beberapa kali beliau juga membantu mahasiswa dalam menyediakan peralatan penelitian sehingga saya dan teman penelitian lainnya tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Dosen penguji menjadi segan ketika sidang skripsi berlangsung
Sebagai pemimpin fakultas, dekan tentu sangat dihormati oleh para dosen lainnya. Ini yang membuat dosen penguji saya merasa segan ketika menguji saat sidang proposal hingga sidang akhir. Momen ini tentunya memberikan keuntungan kepada saya meskipun ada juga beberapa situasi yang membuat saya tertekan terutama pengujinya dosen senior.
Berbeda dengan dosen yang masih muda saat ingin menguji saya terlihat sikap “izin” pada dosen pembimbing utama saya alias dekan. Momen “dibantu” oleh dekan saat sidang pun cukup terasa bagi saya. Saat kesulitan menjawab, dosen pembimbing saya langsung turun tangan untuk membantu dan ketegangan pun jadi mereda.
Itulah pengalaman saya mendapatkan dosen pembimbing seorang dekan. Urusan administrasi menjadi lancar dan terbantu ketika sidang meskipun pada akhirnya yang menentukan kelulusan itu diri kita sendiri.
Penulis: Erfransdo
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















