Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Beda Puasa di Jerman dan di Indonesia Selain Durasi Puasa yang Lamanya 17 Jam

Dina Noviana oleh Dina Noviana
28 April 2020
A A
puasa di Jerman

Beda Puasa di Jerman dan di Indonesia Selain Durasi Puasa yang Lamanya 17 Jam

Share on FacebookShare on Twitter

Ini tahun ke enam aku merasakan puasa di tempat rantau. Tapi Ramadhan tahun ini akan 180 ̊ berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika 5 tahun sebelumnya aku menjalankan bulan Ramadhan sebagai anak kos-kosan di Indonesia, maka tahun ini aku akan merasakan puasa menjadi anak rantau di Jerman.

Puasa tahun ini benar-benar aneh untukku. Tidak ada suasana Ramadhan samasekali! Wajar sih, aku tinggal di lingkungan yang minoritas muslim dan masjid juga lumayan jauh dari rumah. Di Indonesia saja suasana Ramadhan tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya akibat Covid-19, gimana dengan di Jerman yang minoritas muslim. Ketiadaan Ramadhan vibes semakin terasa. Aku hanya seperti menjalani hari diluar bulan Ramadhan.

Keanehan ini diperparah dengan durasi puasa yang lamaaaa. Jika saat di Indonesia durasi berpuasa kurang lebih 14 jam, maka disini aku harus berpuasa kurang lebih selama 17,5 jam dan akan semakin panjang dari hari ke hari. Jerman adalah negara yang memiliki 4 musim, sehingga panjang waktu matahari bersinar tergantung pada musim. Tahun ini bulan Ramadhan berlangsung di musi semi yang suhunya memang masih cukup dingin dan akan mulai panas di akhir musim sekitar di pekan terakhir bulan mei. Meskipun suhunya masih dingin, tapi matahari sudah bersinar lebih panjang dibanding musim dingin. Terangnya siang akan lebih menguasai dibanding gelapnya malam.

Di pertengahan musim semi seperti ini, matahari terbit sekitar pukul 05.57 dan tenggelam pukul 20.31. Sudah terlihat kan aku harus puasa berapa lama? Aku harus bangun sahur sekitar pukul  03.00 karena adzan subuh akan berkumandang melalui smartphone ku di pukul 03.48 dan akan berbuka puasa pukul 20.31. Awalnya aku pikir, aku akan lemas karena berpuasa dengan durasi sepanjang itu. Namun ternyata aku tidak selemah itu. Hehehehe. Kondisiku baik-baik saja saat berbuka. Mungkin juga karena aku tidak banyak beraktivitas fisik dan juga suhu di sini masih cukup dingin yaitu sekitar 5 ̊ C dipagi hari dan 15 ̊ C di siang hari.

Hal lain yang membuat agak berat menjalani Ramadhan di sini selain durasi puasa yang panjang yaitu sholat terawehnya. Jika azan saja aku hanya mendengarnya melalui smartphone, maka tidak perlu ditanyakan lagi apakah aku bisa dengan mudah ikut teraweh berjamaah di masjid seperti di Indonesia. Jawabannya sudah jelas tidak.

Pertama karena lokasi masjid yang jauh. Ada dua masjid yang berada di kota tempatku tinggal. Satu masjid milik orang-orang Turki dan satunya lagi milik orang-orang mesir. Untuk datang ke kedua masjid itu, aku harus naik bus sedangkan bus terakhir beroperasi di pukul 20.25. Alasan kedua karena masjid sudah pasti ditutup akibat pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia. Aku harus puas hanya dengan teraweh di rumah.

Salat teraweh dilaksanakan setelah sholat Isya dan waktu Isya di sini yaitu sekitar pukul 22.26. Di saat orang lain sudah tertidur, kami yang menjalani puasa di Jerman harus menunda tidur untuk menunggu sholat Isya dan melaksanakan sholat teraweh. Salat teraweh memang termasuk salat Sunnah tapi ia termasuk ibadah yang sangat sayang jika tidak dilaksakan. Pasalnya, salat teraweh adalah salat sunnah yang hanya ada di bulan Ramadhan. Alangkah ruginya jika tidak melaksanakannya. Aku baru bisa beranjak tidur sekitar pukul 23.00.

Di pekan akhir Ramadhan, puasa akan semakin menantang. Hal ini terjadi karena waktu subuh terjadi sekitar pukul 02.51, maghrib sekitar pukul 21.00 dan isya pukul 23.21.

Baca Juga:

Tidak Ada Sampah di Jerman: Tren Bagi-bagi Barang Bekas di Jerman, Upaya Paling Efektif untuk Sustainability

4 Hal yang Biasa di Jerman, tapi Luar Biasa di Indonesia

Pokoknya ini adalah Ramadhan teraneh yang pertama kali kujalani dalam hidupku. Orang-orang lokal sini, tidak semuanya tahu bahwa Ramadhan sedang berlangsung; tidak ada acara televisi yang menemani sahur maupun berbuka puasa; tidak ada kultum (kuliah tujuh menit) khas Ramadhan; tidak ada ngabuburit; tidak ada bukber alias buka bersama; tidak orang yang beramai-ramai membaca Al-Qur’an di sudut-sudut masjid; tidak ada i’tikaf; tidak ada sahur on the road; tidak ada sholawat serta adzan dari masjid yang selalu menjadi favoritku; tidak ada pasar Ramadhan yang penuh dengan aneka jajanan serta es yang menggoda dan ketiadaan lainnya yang selalu aku rindukan.

Meskipun tengah menjalankan puasa di Jerman dengan segala keterbatasannya, aku tetap harus semangat dan memaksimalkan ibadah di bulan ini. Semoga teman-teman yang juga berada dikondisi sama denganku, tinggal dilingkungan nonmuslim dan durasi puasa yang lama bisa saling menguatkan. Selamat berpuasa untuk seluruh muslim di penjuru dunia. Marhaban Ya Ramadhan!!

BACA JUGA Puasa Ramadan di Indonesia dari Pengamatan Kawan Bule Saya atau tulisan Dina Noviana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2022 oleh

Tags: jermanpuasa di jermanramadan di jerman
Dina Noviana

Dina Noviana

Perempuan kelahiran Palu yang senang menulis

ArtikelTerkait

Merek Cap Lang, Produk Asal Jerman yang Dikira Brand Lokal

Merek Cap Lang, Produk Asal Jerman yang Dikira Brand Lokal

6 Juli 2023
Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona

Kehidupan Saya di Jerman Selama Ada Virus Corona

14 April 2020
3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Negara Asing Bukan Hal Mustahil

3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Luar Negeri Bukan Hal Mustahil

2 September 2023
Kutukan yang Membayangi Prancis di Piala Dunia 2022

Kutukan yang Membayangi Prancis di Piala Dunia 2022

15 November 2022
Pengalaman Kerja Menjadi Perawat Panti Jompo di Jerman, Belajar Menjadi Manusia dan Memahami Hal-hal yang Asing di Kepala

Pengalaman Kerja Menjadi Perawat Panti Jompo di Jerman, Belajar Menjadi Manusia dan Memahami Hal-hal yang Asing di Kepala

5 September 2023
Konspirasi One Piece: Shanks, Yonko Paling Misterius. Kawan atau Lawan? one piece live action

Kesuksesan One Piece, Manga Terlaris di Jerman dan Prancis

10 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri Mojok.co

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri

22 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Apa Harga Sepadan untuk Kamu yang Bekerja Sampai Lelah? (Unsplash)

Apa Harga Sepadan untuk Kamu yang Bekerja Sampai Lelah?

23 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan
  • Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa
  • Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial
  • 3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat
  • Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan
  • Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.