Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi (unsplash.com)

Kapok rasanya naik becak motor di sekitar Malioboro Jogja.

Saya punya memori indah soal naik becak. Saat masih kecil, setiap tanggal satu di awal bulan, saya pasti diajak Bapak belanja bulanan di Ramai Mall Jogja. Karena kami tidak punya mobil dan belanja bulanan pasti banyak, naik becak kayuh selalu jadi pilihan.  

Memori tentang becak selalu indah. Hingga akhirnya saya harus berhadapan dengan becak motor di Malioboro Jogja belum lama ini. Asal tahu saja, sekarang ini becak motor semakin mudah ditemukan dibanding becak kayuh, atau setidaknya seimbanglah. Becak motor adalah inovasi yang membantu bagi para penarik becak yang sudah berumur dan tidak kuat lagi mengayuh secara manual. 

Sekilas, kemunculan becak motor terdengar positif. Namun, kenyataannya di lapangan tidak selalu seperti itu. 

Ditolak mentah-mentah becak motor Malioboro karena tujuannya bukan tempat wisata

Suatu hari Bapak saya ngide ke Candi Prambanan naik Trans Jogja. Sebagai anak yang berbakti, tentu saya menuruti keinginannya itu. Sepulang dari candi, kami sengaja turun di Malioboro untuk salat dan makan pempek. 

Nah, permasalahannya muncul ketika kami mencari becak untuk pulang. Banyak becak (terutama becak motor) menolak mengambil orderan. Mereka ogah “narik” kalau tujuannya bukan sekitar Malioboro atau toko oleh-oleh seperti Bakpia Pathok. 

Sudah jadi rahasia umum, di kawasan wisata seperti Malioboro Jogja, tukang becak bisa mendapat komisi kalau berhasil membawa pelanggan ke toko oleh-oleh atau destinasi tertentu. Itu mengapa, wisatawan yang mencari oleh-oleh atau berwisata menjadi prioritas hingga menyingkirkan pelanggan-pelanggan seperti saya dan Bapak. 

Selain sulit mencari becak yang rela “narik” hingga luar kawasan wisata, tarifnya juga nggak jelas. Saya pernah naik becak motor dengan tujuan SMP Muhammadiyah 1. Setelah cukup lama tawar-menawar, saya dan pengemudi sepakat dengan harga tertentu. Sebelumnya si tukang becak sudah nanya SMP Muhammadiyah 1 itu mana? 

Saya jawab seberang Roti Sisir Delicia, tukang becak setuju mengantar dengan harga tertentu. Betapa terkejutnya saya ketika saya malah diturunkan di Roti Sisir Delicia, saya pun memprotes tukang becak tersebut dengan bilang masuk gang ke utara. Eh malah Si Bapak marah-marah nggak jelas, katanya kalau masuk ke gang utara bayar tambah Rp5.000 soalnya susah menyebrang. Mendengar itu saya ikutan marah, tahu gitu mending pesan ojek online saja yang harganya sudah pasti sampai titik yang dituju dan minim drama.

Tidak aman dan tidak ramah lingkungan 

Hal lain yang saya sadari setelah merasakan naik becak motor adalah betapa berbahaya kendaraan satu ini. Saya jadi ingat perkataan dosen saat mata kuliah ergonomi. Sosen saya menyampaikan bahwa becak adalah kendaraan yang tidak aman.

Coba bayangkan apabila terjadi tabrakan adu banteng, pasti penumpang yang duduk di depan yang menjadi korban duluan. Mana becak nggak punya sabuk pengaman lagi. 

Belum lagi sering kita lihat becak motor yang nyelonong zebra cross di perempatan Titik Nol Kilometer saat lampu merah menyala. Tidak heran kalau kita lihat akun Merapi Uncover banyak juga netizen yang mengeluhkan tingkah laku tukang becak yang ugal-ugalan sehingga mengganggu pengendara lain.

Selain faktor keamanan, faktor lingkungan juga patut disoroti. Mudahnya, becak motor itu memasang mesin motor pada becak biasa sehingga tukang becak tidak perlu repot-repot mengayuhnya. 

Tentu motor tua dipilih menjadi mesin dikarenakan harga yang terjangkau. Mana ada becak motor yang menggunakan Satria FU atau Ninja RR sebagai motornya. Modifikasi ala kadarnya inilah yang membuat knalpot becak motor mengeluarkan asap gelap, belum lagi mengeluarkan bunyi bising yang bikin pening. 

Itu beberapa hal yang membuat saya akan pikir-pikir ulang kalau diajak naik becak motor di Malioboro Jogja. Transportasi ini unik memang, memadukan antara kendaraan tradisional yang ikonik dengan mesin sehingga memudahkan pengayuhnya. Namun, ada banyak sisi dari becak motor yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan lagi. 

Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version