Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Banyuwangi: Ditinggal Ngangeni, Ditunggui Bikin Sakit Hati

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
20 Desember 2025
A A
Banyuwangi: Ditinggal Ngangeni, Ditunggui Bikin Sakit Hati

Banyuwangi: Ditinggal Ngangeni, Ditunggui Bikin Sakit Hati (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jujur beberapa tahun terakhir ini saya lelah melihat Banyuwangi dan tingkah polah pemerintah daerahnya semakin menjadi-jadi. Cenderung mementingkan perut sendiri.

Saya dulu bangga bilang ke teman-teman di perantauan ketika ditanya daerah asal saya di Banyuwangi, tanah ujung timur Pulau Jawa yang kaya alam, bukan semata mitos klenik saja. Ada pantai, ada gunung, ada ombak indah, ada hutan hijau yang masih asri. Tapi belakangan, setiap kabar yang sampai ke saya bukan lagi soal keindahan Banyuwangi. Melainkan banjir besar, kerusakan alam dan drama birokrasi yang bikin saya ikut pusing.

Belakangan ini, curah hujan di Banyuwangi memang tinggi dan ekstrem. Benar adanya. Laporan resmi BPBD Banyuwangi menyebutkan bahwa sejak medio Desember 2025, hujan deras dan jebolnya tanggul menyebabkan banjir di tiga kecamatan di Banyuwangi, dengan lebih dari 1.500 rumah terdampak dan genangan air merendam di areal pemukiman warga.

Jujur saja, sebetulnya curah hujan yang tinggi ini terjadi sejak awal tahun. Karena saya merasakan sendiri selama beberapa bulan ketika sedang pulang kampung.

Hujan selalu jadi kambing hitam saat bencana datang

Banyak yang mulai bertanya kenapa titik-titik yang dulu jarang banjir, kini jadi mudah sekali kebanjiran? Curah hujan ekstrem itu memang fakta. Namun, kondisi alam yang kehilangan daya serap airnya juga bukan omong kosong belaka. Logikanya begitu.

Nah, di Banyuwangi sendiri tantangan ekologis bukan barang baru. Laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem hutan dan lahan serta menurunnya kualitas lingkungan hidup merupakan temuan nyata.

Saya sempat membaca laporan DLH Banyuwangi, bahwasanya ada tekanan penggunaan sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan. Tentu saja ini turut meningkatkan kerawanan banjir, longsor dan bencana ekologis lain. Banyaknya pembukaan lahan yang meningkat setiap tahunnya tentu mengurangi daerah resapan air. Bahkan tidak sedikit demi cuan lahan tetap bisa di tambang meskipun di areal hutan lindung seperti di Pesanggaran.

Ketika air dari hulu membawa material tanah, sampah, dan kayu seperti yang terjadi belakangan, tanda tanya besar muncul. Apakah itu sekadar karena hujan, atau justru cerminan pola pembukaan lahan yang ugal-ugalan. Sebab Pemda tak peka terhadap konservasi alam.

Baca Juga:

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

Padahal banjir itu terjadi dari akibat. Tidak hanya karena cuaca ekstrem saja, melain pembukaan lahan besar-besaran bisa jadi musababnya. Bisa jadi Pemda Banyuwangi saat ini jadi cerminan dari pengelolaan lingkungan yang tidak optimal di sana sini.

Deforestasi, bukti Pemda Banyuwangi gagal paham penanganan kebencanaan

Pemda Banyuwangi selalu bergerak saat sudah terjadi bencana, sementara langkah preventifnya tidak pernah ada. Padahal deforestasi yang selama ini dilakukan seperti mendapat izin mulus dari pemangku kebijakan. Padahal secara global, banyak studi menunjukkan bahwa hilangnya hutan memperparah banjir karena berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Hal itulah yang selalu menjadi kekhawatiran saya setelah melihat bencana yang menimpa saudara kita di Pulau Sumatra.

Sebab Banyuwangi punya sejarah panjang soal isu lahan. Ada pola alih fungsi lahan yang dipersoalkan masyarakat, terutama pada lahan yang dulunya merupakan hutan lindung. Setelah izin konsensinya turun, lahan itu berubah jadi hutan produksi hingga bisa di tambang dengan bebas menebang pepohonan. Setelah 12 tahun berlalu kini lahan itu yang dulunya bukit sudah mulai hilang, karena menjadi tambang emas Tumpang Pitu.

Apakah Pemda masih menunggu musibah datang baru ada gerakan? Kalau semua itu dibiarkan terus, deforestasi yang tak terkontrol, serta pola pengelolaan lahan tanpa pertimbangan jangka panjang. Ditambah respons defensif pemangku kebijakan, tentu saja semua tinggal menunggu giliran kapan bencana akan datang.

Alasan inilah yang mungkin membuat saya betah berada di perantauan, Yah, walau sebenarnya Banyuwangi saat ditinggal itu ngangeni. Cuma ya gimana, jika ditunggu malah bikin sakit hati.

Pemda hanya membuat nyaman dengan branding tentang Banyuwangi wisata hebat. Serta sibuk memikirkan tepuk tangan tiap festival digelar sambil menutup mata terhadap daerah-daerah yang berpotensi terdampak bencana. Nggak papa, asal tidak mengusik panggung utama. Begitukah?

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Situbondo Tidak Punya Daya Tarik Wisata, dan Akan Selalu Kalah Dibanding Banyuwangi Jika Tidak Ada Gebrakan yang Jelas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Desember 2025 oleh

Tags: banjirBanyuwangikabupaten banyuwangiperantaupulau jawa
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Tol Probowangi: Sesuai Kebutuhan, atau Ambisi Semata?

Tol Probowangi: Sesuai Kebutuhan, atau Ambisi Semata?

22 September 2022
4 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Batam

Batam, Kota Penuh Ambisi sekaligus Pengubur Mimpi Perantau yang Silau dengan Kemegahan

9 Agustus 2023
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Berkunjung ke Halmahera Membuat Saya Sadar Kalau Keluhan Kita yang Tinggal di Pulau Jawa Terdengar Sepele

Berkunjung ke Halmahera Membuat Saya Sadar kalau Keluhan Kita yang Tinggal di Pulau Jawa Terdengar Sepele

10 Juli 2023
Hujan di Jogja Memang Romantis, kecuali bagi Penduduk Bantaran Kali Gajahwong Jogja yang Berkawan (Kelewat) Akrab dengan Banjir

Kali Gajah Wong: Bakal Ambrol di Beberapa Titik, Penyelamat Kota Jogja dari Ancaman Bencana Banjir Ini Kondisinya Semakin Merana

10 Februari 2024
Dam Singir Banyuwangi Sebaiknya Tetap Jadi Hidden Gem Bapak-bapak Mancing Aja. Jangan Jadi Tempat Wisata

Dam Singir Banyuwangi Sebaiknya Tetap Jadi Hidden Gem Bapak-bapak Mancing Aja. Jangan Jadi Tempat Wisata

30 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.