Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kali Gajah Wong: Bakal Ambrol di Beberapa Titik, Penyelamat Kota Jogja dari Ancaman Bencana Banjir Ini Kondisinya Semakin Merana

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
10 Februari 2024
A A
Hujan di Jogja Memang Romantis, kecuali bagi Penduduk Bantaran Kali Gajahwong Jogja yang Berkawan (Kelewat) Akrab dengan Banjir

Hujan di Jogja Memang Romantis, kecuali bagi Penduduk Bantaran Kali Gajahwong Jogja yang Berkawan (Kelewat) Akrab dengan Banjir (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kata orang, hujan Jogja membawa kenangan dan menyiram hati yang patah. Hal itu memang betul jika kamu menikmatinya di kosmu yang tak seberapa itu atau ketika sedang di kafe. Bagi penghuni Kali Gajah Wong Jogja, hujan itu bisa jadi teror banjir yang tertunda.

Kali Gajah Wong mungkin tidak sekondang Kali Code atau Kali Progo. Tidak juga sesakral Kali Opak. Bahkan orang lebih tahu Kereta Gajah Wong daripada sungai ini. Bahkan jasanya yang berkali-kali menyelamatkan Jogja juga sering dilupakan. Yang ada hanyalah kantong-kantong pemukiman yang dipercantik tapi deg-degan setiap hujan. Memandangi tanggul-tanggul yang retak tanpa segera diselesaikan.

ADVERTISEMENT

Bekas prostitusi dan solusi tinggal masyarakat tanpa tanah

Kali Gajah Wong jadi salah satu sungai yang mengiris Kota Jogja. Bersama Kali Winongo dan Kali Code, Gajah Wong ikut andil dalam urusan air Kota Jogja. Baik sebagai cadangan air kelas B, ataupun tampungan aliran air ketika hujan lebat. Dan sama seperti dua saudaranya, bantaran Kali Gajah Wong juga menjadi peraduan bagi masyarakat.

Sepanjang bantaran Kali Gajah Wong Jogja dipenuhi pemukiman sesak dan penuh lika-liku. Pemukiman ini, seperti bantaran sungai lain, juga dianggap sebagai zona hitam. Dipandang sebagai lokasi yang erat dengan dunia kriminal. Apalagi dengan keberadaan area prostitusi di bantaran Kali Gajah Wong.

Keberadaan prostitusi di bantaran Kali Gajah Wong sudah sejak 1970-an. Pada 1998, lokasi prostitusi ini dibubarkan warga bersama pemerintah. Namun perlu hampir 2 dekade untuk benar-benar mengatasi masalah prostitusi.  Pada 2016, wilayah bantaran Kali Gajah Wong baru dinyatakan bebas prostitusi. Dan sampai hari ini masih dilakukan pendampingan agar masyarakat tidak kembali masuk ke dunia prostitusi.

Terlepas dari stigma masa lalu, bantaran Kali Gajah Wong menjadi solusi bagi banyak orang. Terutama mereka yang butuh tempat tinggal. Mereka hidup, bekerja, dan bersosialisasi di petak-petak rumah kumuh dan padat. Meskipun mereka juga harus siap tergusur karena tanah yang ditempati tidak pernah dimiliki. Karena Bantaran Kali Gajah Wong termasuk Sultan Ground.

Bantaran Kali Gajah Wong dipercantik demi harapan lebih baik

Untungnya (dan sudah selayaknya) pemerintah daerah tidak membiarkan Kali Gajah Wong Jogja semrawut. Pembangunan di sepanjang bantaran kali terus dilakukan. Dari penguatan tanggul, sampai memperindah kawasan pinggir kali. Harapannya, kawasan pinggir Kali Gajah Wong bisa menjadi destinasi wisata alternatif.

Pembangunan ini disambut baik oleh masyarakat. Dan sedikit banyak, ekonomi masyarakat sekitar ikut terbantu. Berbagai acara juga rutin diselenggarakan di bantaran Kali Gajah Wong. Dari acara budaya seperti merti dusun dan pentas seni, sampai acara politis yang tidak perlu saya bahas. Tapi terlepas dari semua itu, kini masyarakat punya ruang publik yang bisa diakses dengan mudah dan murah. Tentunya ini patut diapresiasi.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Jadi jangan dikira saya cuma nyinyir terus ke pemerintah Jogja, baik kota maupun provinsi. Pembangunan yang menyasar kehidupan masyarakat pasti saya apresiasi. Kalau pembangunan estetika di kawasan sumbu imajiner, pasti saya nyinyiri.

Namun pembangunan di kawasan Kali Gajah Wong Jogja tetap belum cukup. Berkali-kali masyarakat di sekitar Kali Gajah Wong harus menghadapi banjir. Belum lagi ancaman longsor dengan banyaknya titik kerusakan. Padahal, Kali Gajah Wong adalah penyelamat Kota Jogja dari ancaman bencana.

Penyelamat Jogja yang merana setiap hujan

Kehadiran 3 sungai yang mengiris Jogja adalah penyelamat. Ketiga sungai ini menjadi tampungan air saat hujan deras, dan mengalirkan jauh ke pantai selatan. Jogja mungkin akan terendam banjir tanpa Kali Gajah Wong, Kali Winongo, dan Kali Code.

Namun ada harga mahal yang harus ditanggung masyarakat sekitar Bantaran Kali Gajah Wong Jogja. Berkali-kali mereka mengalami banjir. Baik banjir air maupun sampah. Maklum, masalah sampah di Jogja memang tak pernah selesai. Dan Kali Gajah Wong menjadi lokasi buangan sampah yang tak terkendali. Apalagi semenjak TPST Piyungan ditutup.

Tanggul di Kali Gajah Wong juga berulang kali rusak. Bahkan muncul kerusakan di beberapa titik sekaligus. Kerusakan ini menjadi ancaman longsor yang kapan saja bisa terjadi. Sudah ada beberapa rumah yang hanyut karena longsor di bantaran Kali Gajah Wong. Seringkali, pengamanan dari pemerintah kelewat terlambat dan harus ditangani masyarakat sebisanya.

Maka jangan bicara hujan Jogja itu romantis di hadapan penghuni Kali Gajah Wong. Tidak ada yang romantis di antara himpitan rumah petak yang terancam longsor dan banjir. Namun tanpa Kali Gajah Wong, mungkin Kota Jogja tidak akan mengenal istilah romantis ketika hujan.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Tak Terduga saat Tinggal Setahun di Bantaran Kali Code Jogja, Motor Parkir Sembarang Tak Hilang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2024 oleh

Tags: banjirJogjakali gajahwonglongsorprostitusizona hitam
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Jogja Tak Seburuk Itu, dan Kota Ini Memang Pantas untuk Dicintai secara Brutal

9 Februari 2024
Jalan DI Panjaitan Mantrijeron, Perbatasan Jogja-Bantul yang Bikin Sakit Kepala

Jalan DI Panjaitan Mantrijeron, Perbatasan Jogja-Bantul yang Bikin Sakit Kepala

7 Oktober 2024
Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

22 Februari 2024
5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman terminal mojok.co

5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman

9 November 2021
Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

22 Januari 2022
Jalan Adisucipto Jogja Diam-diam Menyedihkan di Balik Keramaiannya Mojok.co

Jalan Adisucipto Jogja Diam-diam Menyedihkan di Balik Keramaiannya

18 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.